Keterampilan Sosial Dan Emosi Anak Berkesulitan Belajar Di Sekolah Dasar

Keterampilan sosial anak merupakan cara anak melakukan interaksi, baik dalam hal tingkah laku maupun dalam hal berkomunikasi dengan orang lain. Sedangkan emosi merupakan suatu perasaan yang mendorong individu untuk merespon atau bertingkah laku terhadap stimulus baik yang berasal dari dalam maupun dari luar dirinya. Usia sekolah merupakan masa dimana anak melakukan salah satu tugas perkembangan, yaitu menjadi pribadi yang sosial, karena pada masa ini anak memasuki kehidupan sosial dengan teman sebayanya. Untuk menjadi pribadi yang sosial, anak perlu memilki keterampilan sosial dalam diri mereka. Tidak hanya itu, karena dalam kehidupan diluar rumah, anak dituntut harus bisa menyesuaikan diri dengan teman – teman di sekolahnya ataupun teman bermainnya.. oleh karena itu perilaku anak di dalam keluarganya yang kurang baik,seperti adanya sikap egois karena selalu di istimewakan ataupun kurang peduli terhadap orang lain, harus berusaha dihilangkan ketika anak berada dilingkungan luar, seperti dilingkungan sekolah. Oleh karena itu perlu adanya keterampilan sosial dan emosi pada diri anak di usia sekolah. Anak-anak berkesulitan belajar biasanya merasa frustasi, karena sering mengalami kegagalan dalam menyelesaikan tugas ataupun langkah-langkah untuk diri sendiri. Dalam kehidupan mereka, apapun yang dilakukan selalu sia-sia tak ada artinya. Karena kondisi semacam ini mereka mereka menjadi lebih sensitif, kurang percaya diri, dan lain sebagainya.berdasarkan fenomena tersebut, merupakan hal yang paling penting untuk mengetahui lebih jauh mengenai bagaimanakah keterampilan sosial dan emosi anak berkesulitan belajar di sekolah dasar.Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Melalui teknik pengumpulan data dengan observasi, wawancara, dan dokumentasi, karena penelitian ini bermaksud memahami, mengungkap, dan menjelaskan berbagai gambaran atas fenomena yang ada dilapangan kemudian dirangkum menjadi kesimpulan deskriptif berdasarkan data penelitian yang dikumpulkan sendiri oleh peneliti. Keterampilan sosial dilihat dari empat aspek diantaranya adalah interaksi sosial,tanggung jawab,persahabatan dan sikap keterbukaan. Subjek SN dan SM dalam hal interaksi sosial sudah baik,sedangkan IR dan RS masih kurang,selain itu ke empat subjek memilki sikap tanggung jawab yang hampir sama ketika kegiatan belajar dikelas tanggung jawabnya terhadap tugas-tugas pelajaran masih kurang.dan untuk sikap keterbukaan hanya subjek SN yang mampu untuk bisa lebih terbuka terhadap orang lain,namun SN juga hanya terbuka terhadap teman kelasnya saja.sedangkan untuk persahabatan hanya subjek RS yang masih kurang, karena anaknya tidak mau peduli terhadap orang lain dan cenderung egois. Sedangkan untuk emosi dilihat dari dua jenis, diantaranya emosi positif dan emosi negaif. Dari empat subjek yang diteliti hanya subjek RS yang masih menampakan perilaku emosi yang negatif, sedangkan tiga subjek lainnya rata-rata lebih banyak menampakan perilaku emosi yang positifnya daripada yang negatifnya. Anak-anak usia sekolah dasar merupakan individu yang masih berkembang, masih perlu dibimbing agar perilakunya sesuai dengan yang diharapkan.hal tersebut terlihat dari keterampilan sosial dan emosi dari ke empat subjek yang sangat bervariasi dari apa yang diharapkan secara teoritis.hal tersebut masih dimaklumi karena anak itu sendiri sebagai individu yang masih perlu untuk di bombing.secara menyeluruh ke empat subjek belum menunjukan keterampilan sosial dan emosi yang sempurna,namun beberapa orang subjek sudah menunjukan upaya-upaya positif dalam mencapai keterampilan sosial dan emosi yang diharapkan.

Download Skripsi Lengkap

Daftar Isis_plb_0607003_table_of_content.pdf
Bab Is_plb_0607003_chapter1.pdf
Bab IIs_plb_0607003_chapter2.pdf
Bab IIIs_plb_0607003_chapter3.pdf
Bab IVs_plb_0607003_chapter4.pdf
Bab Vs_plb_0607003_chapter5.pdf
Daftar Pustakas_plb_0607003_bibliography.pdf
URLrepository.upi.edu
URIhttp://repository.upi.edu/skripsiview.php?no_skrip

Penggunaan Papertoys Tokoh Kartun Dalam Meningkatkan Kemampuan Mengenal Bangun Ruang Pada Siswa Tunarungu

Anak tunarungu adalah individu yang memiliki hambatan dalam mengolah informasi yang diperoleh melalui auditori karena kerusakan yang terjadi pada organ pendengarannya. Akibatnya anak tunarungu mengalami hambatan dalam berbahasa sehingga mereka kesulitan dalam menyelesaikan soal yang menuntut pemahaman abstrak seperti halnya pada pelajaran matematika. Kemampuan anak tunarungu terhadap geometri khususnya bangun ruang masih menunjukan hasil yang rendah. Ini disebabkan karena kurangnya kemampuan anak tunarungu dalam mengolah informasi yang bersifat abstrak. Media papertoys sebagai media pembelajaran yang berbentuk tiga dimensi dan kongkrit serta dapat menarik minat belajar siswa tunarungu diharapkan dapat meningkatkan prestasi belajar siswa tunarungu khususnya dalam pembelajaran matematika materi bangun ruang.Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode eksperimen Single Subject Research desain A-B-A. Subjek penelitian adalah satu orang siswa kelas 1 SDLB B Sukapura Bandung. Teknik pengumpulan data yang digunakan pada penelitian ini berupa tes. Penelitian pada fase baseline-1 (A-1) dilaksanakan selama 4 kali sesi, pada fase intervensi (B) sebanyak 8 kali sesi, dan fase baseline-2 (A-2) sebanyak 4 kali sesi. Hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa penggunaan media papertoys dapat meningkatkan kemampuan siswa tunarungu kelas I SDLB dalam mengenal bangun ruang. Penggunaan media papertoys  dalam kegiatan pembelajaran matematika selanjutnya agar dapat disempurnakan kembali, yaitu dengan menambah jenis bangun ruang dan desain dari papertoys supaya lebih unik dan menarik motivasi siswa dalam kegiatan belajar.Kata Kunci : Siswa Tunarungu, Papertoys, Bangun Ruang

Download Skripsi Lengkap

Penerapan Metode Struktural Analitik Sintetik (Sas)Untuk Meningkatkan Kemampuan Membaca Permulaan Peserta Didik Tunarungu

Kemampuan membaca permulaan peserta didik tunarungu kelas III SDLB di SLBN B Garut berdasarkan studi pendahuluan di lapangan menunjukkan masih rendah dengan rata-rata hasil kemampuan membaca pada saat pre test adalah 58,67. Penelitian ini bertujuan untuk memperbaiki kualitas pembelajaran membaca permulaan dengan menerapkan metode Struktural Analitik Sintetik (SAS) dalam meningkatkan kemampuan membaca permulaan peserta didik tunarungu kelas III SDLB di SLBN B Garut. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research) model Kemmis dan Taggart. Penggunaan metode penelitian tindakan kelas ini diasumsikan tepat oleh peneliti, karena permasalahan yang diteliti berada pada ruang lingkup proses belajar mengajar di dalam kelas. Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan dalam dua siklus, siklus I dan II yang meliputi tahap perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi pada pembelajaran membaca permulaan. Instrumen pengumpulan data yang digunakan berupa tes dan observasi. Teknik pengolahan data menggunakan analisis deskriptif kualitatif dan kuanitatif dengan subjek penelitian peserta didik kelas III SDLB sebanyak tiga orang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan metode Struktural Analitik Sintetik (SAS) dapat meningkatkan kemampuan membaca permulaan peserta didik tunarungu kelas III SDLB di SLBN B Garut. Hal ini terbukti dari perolehan rata-rata hasil kemampuan membaca permulaan pada setiap siklusnya dan dapat dilihat dari grafik yang cenderung meningkat. Rata-rata hasil kemampuan membaca permulaan pada siklus I meningkat menjadi 86,67, dan pada siklus II meningkat lagi menjadi 96. Hasil observasi aktivitas guru yang dilaksanakan oleh dua orang observer mengalami peningkatan,  persentase rata-rata hasil observasi guru pada siklus I adalah 89,64%, dan pada siklus II meningkat menjadi 98,21%. Hasil observasi aktivitas peserta didik mengalami peningkatan, persentase rata-rata hasil observasi pada siklus I adalah 82,92%, dan pada siklus II meningkat menjadi 96,25%. Berdasarkan kajian secara menyeluruh terhadap hasil penelitian, terbukti bahwa penerapan metode Struktural Analitik Sintetik (SAS) dapat meningkatkan kemampuan membaca permulaan peserta didik kelas III SDLB di SLBN B Garut. Dengan demikian, hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi guru di kelas rendah dalam mengajarkan bahasa terutama dalam pembelajaran membaca permulaan sesuai dengan tujuan dan kondisi peserta didik yang ada di lapangan. Kata Kunci: Metode Struktural Analitik Sintetik (SAS), Membaca Permulaan, Peserta Didik Tunarungu.

Download Skripsi Lengkap 

Penggunaan Modifikasi Media Kartu Gapleh Untuk Meningkatkan Keterampilan Membaca Permulaan Pada Anak Tunanetra

Penelitian ini diangkat dari studi pendahuluan mengenai keterampilan membaca permulaan siswa tunanetra di SLB Negeri A Kota Bandung yang masih belum optimal. Hal ini terlihat dari kemampuan siswa dalam membedakan huruf per huruf dan kesulitan untuk berpindah dari satu barisan huruf ke barisan yang berada di bawahnya. Berdasarkan studi pendahuluan tersebut, maka penulis termotivasi untuk mengangkat permasalahan tersebut menjadi permasalah penelitian. Penggunaan media pembelajaran menjadi sangat penting karena dapat lebih banyak menstimulasi anak untuk belajar. Dalam penelitian ini digunakan modifikasi media kartu gapleh untuk membantu siswa untuk meningkatkan keterampilan membaca permulaan. Kartu gapleh ini merupakan media yang mudah didapat dan aplikatif untuk semua kalangan.Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen dengan menggunakan pendekatan Single Subject Research, sedangkan desain yang digunakan adalah desain A-B-A. target behavior dalam penelitian ini yaitu kemampuan membaca huruf, suku kata, kata dan kalimat dalam huruf braille. Data yang diperoleh dianalisis melalui statistik deskriptif, dan ditampilkan melalui grafik.Berdasarkan hasil penelitian, diketahui bahwa penggunaan media kartu gapleh dapat keterampilan membaca permulaan siswa tunanetra kelas 1 SD di SLB negeri A Kota Bandung. Hal ini ditunjukkan dengan meningkatnya persentase pemahaman terhadap kemampuan membaca braille. Dengan demikian dapat ditarik kesimpulan bahwa penggunaan modifikasi media kartu gapleh  dapat meningkatkan keterampilan membaca permulaan siswa tunanetra kelas 1 SD di SLB Negeri A Kota Bandung.

Download Skripsi Lengkap


Pembelajaran Berbasis Multiple Intelligences Pada Siswa Tunarungu

Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran tentang pembelajaran berbasis Multiple Intelligences pada siswa tunarungu di sekolah inklusi dengan fokus pada perencanaan, pelaksanaan pembelajaran, evaluasi, hambatan, dan upaya mengatasi hambatan dalam pembelajaran berbasis Multiple Intelligences.Penelitian ini dilakukan di SD Inklusi Mutiara Bunda Bandung. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara, dan studi dokumentasi.Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, dapat disimpulkan bahwa semua responden melaksanakan asesmen dan menyusun lesson plan. Pada pelaksanaan pembelajaran semua responden menggunakan strategi pembelajaran berbasis Multiple Intelligences diantaranya dengan menerapkan pembelajaran berbasis kecerdasan visual- spasial, jasmani- kinestetik, interpersonal dan naturalis. Evaluasi yang dibuat adalah evaluasi proses dan post test. Hambatan yang dialami adalah dalam perumusan asesmen, penyusunan lesson plan, pelaksanaan, dan evaluasi. Dan upaya yang dilakukan adalah dengan berkonsultasi kepada pihak ahli, mengikuti berbagai pelatihan dan seminar yang diadakan oleh sekolah, penyederhanaan kalimat yang diucapkan, dan menggunakan bahasa isyarat lokal disamping bahasa oral. Kata Kunci: Sekolah Inklusi, Multiple Intelligences, Tunarungu

Download Skripsi Lengkap


Peran Guru Pembimbing Khusus Dalam Pembinaan Perilaku Adaptif Anak Tunagrahita Ringan

Perilaku adaptif merupakan salah satu hambatan yang dimiliki oleh  anak tunagrahita selain permasalahan kognitifnya. Lingkungan menuntut agar anak tunagrahita dapat menyesuaikan perilaku sesuai dengan norma, peraturan dan kultur yang berlaku. Peran pembinaan perilaku adaptif yang khususnya dilakukan selama di sekolah inklusi oleh Guru Pembimbing Khusus merupakan satu srategi yang dapat dilakukan untuk mengatasi permasalahan ini. Dalam mengaplikasikan pembinaan perilaku adaptif dibutuhkan koordinasi, kerjasama dan konsolidasi dengan semua pihak agar pembinaan ini berjalan dengan efektif dan efisien. Fokus dalam penelitian ini adalah untuk menggambarkan bagaimana peran Guru Pembimbing Khusus dalam pembinaan perilaku adaptif pada anak tunagrahita ringan di sekolah inklusi SD SIAS Cihanjuang Kab. Bandung Barat. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif tentang peran Guru Pembimbing Khusus dalam pembinaan perilaku adaptif pada anak tunagrahita ringan di sekolah inklusi. Penelitian ini dilakukan terhadap tiga orang Guru Pembimbing, satu orang guru reguler, dan satu orang tua. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi dan studi dokumentasi. Hasil penelitian diketahui bahwa Guru Pembimbing sudah melakukan pembinaan perilaku adaptif tetapi belum maksimal dalam implikasinya. Ada beberapa hal yang menjadi titik hambatan yang dialami oleh Guru Pembimbing Khusus dalam proses pembinaan perilaku adaptif pada ATG ringan ini, antara lain :Aspek Peran GPK dalam Penyusunan Program Pembinaan Perilaku Adaptif, Sistem Koordinasi GPK dengan Pihak Sekolah dan Orang Tua, Bimbingan GPK dengan Anak Di sekolah Inklusi, dan Bantuan GPK terhadap Guru Reguler agar Dapat Memberikan Layanan Pembinaan Perilaku Adaptif. Fakta dilapangan dari hasil penelitian belum ada Guru Pembimbing Khusus yang merancang dan membuat program pembinaan perilaku adaptif ini, sehingga menyulitkan dalam melaksanakan kegiatan pembinaan ini. Program pembinaan perilaku adaptif merupakan acuan atau pedoman dalam mengaplikasikan pembinaan perilaku adaptif terhadap anak tunagrahita. Disisi lain Guru Pembimbing Khusus telah melakukan koordinasi dengan pihak-pihak yang berkaitan dengan pembinaan perilaku adaptif ini secara intens dan berkesinambungan. Koordinasi ini meliputi GPK, Guru Reguler, Pihak Sekolah dan Orang Tua anak serta pihak-pihak lain yang berkaitan. Selain koordinasi Guru Pembimbing Khsusus dalam melakukan tugasnya di sekolah, juga melakukan kegiatan bimbingan terhadap anak tunagrahita ketika anak tersebut mengalami hambatan. Guru Pembimbing Khusus juga mememberikan bantuan kepada guru reguler di sekolah inklusi tersebut dalam menyipkapi hambatan dan kebutuhan yang dihadapi ATG ringan di kelas. Kata Kunci : Perilaku Adaptif, GPK, ATG Ringan, Sekolah Inklusi.

Download Skripsi Lengkap 

Pembelajaran Keterampilan Membatik Pada Siswa Tunarungu


Salah satu tujuan khusus pendidikan anak tunarungu jenjang SMALB ditekankan pada keterampilan menerapkan kemampuan dasar di bidang akademik yang mengerucut pada pengembangan kemampuan vokasional yang berguna sebagai pemenuhan kebutuhan hidup, salah satunya dengan mengembangkan keterampilan membatik. Namun kenyataan di lapangan anak tunarungu mengalami hambatan dalam pembelajarannya. Pembelajaran keterampilan membatik yang secara teoritis sangat sulit dipahami oleh siswa tunarungu karena adanya keterbatasan dalam menerima  informasi yang bersifat abstrak dan terbatasnya bahasa isyarat yang di gunakan oleh guru keterampilan karena guru yang bersangkutan bukan dari spesialisasi tunarungu, maka hal ini  terkadang mengakibatkan terjadinya miss komunikasi dalam KBM ( Kegiatan Belajar Mengajar ), sehingga kurang lancarnya pembelajaran keterampilan membatik. Bertitik tolak dari permasalahan di atas, maka masalah pokok yang ingin diungkap dalam penelitian yaitu bagaimana pembelajaran keterampilan membatik pada siswa tunarungu jenjang SMALB di SLB Negeri Cicendo Bandung yang meliputi : program pembelajaran keterampilan membatik pada siswa tunarungu, pelaksanaan program keterampilan membatik, pelaksanaan evaluasi keterampilan membatik, kemampuan siswa dalam pembelajaran keterampilan membatik, hambatan yang dialami siswa dalam pembelajaran keterampilan membatik, dan upaya guru dalam mengatasi hambatan yang di hadapi. Tujuan penelitian adalah memperoleh gambaran mengenai pembelajaran keterampilan membatik siswa tunarungu jenjang SMALB di SLB B Negeri Cicendo Kota Bandung. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskripsi kualitatif. Alat pengumpul data yang digunakan melalui observasi, wawancara, dan studi dokumentasi. Teknik pemeriksaan keabsahan data dengan menggunakan teknik triangulasi yaitu teknik saling mempertegas data. Dari hasil pengolahan data penelitian, diperoleh kesimpulan bahwa guru dalam pembelajaran keterampilan membatik sudah menyiapkan program pembelajarannya dan melaksanakan program tersebut sesuai dengan rencana yang telah dibuat dan menindak lanjutinya dengan evaluasi. Kemampuan siswa tunarungu dalam keterampilan membatik di bagi dalam beberapa bagian yaitu kemampuan siswa dalam mengenal peralatan membatik, mengenal dan menyebutkan peralatan membatik, menggunakan peralatan membatik, membuat pola batik, menjiplak motif batik, mengecap batik sesuai pola, mencetak dengan canting, proses pewarnaan/pencelupan, dan proses pengeringan batik. Secara keseluruhan kemampuan siswa dalam keterampilan praktik membatik sudah baik, hanya beberapa orang saja yang masih memerlukan bimbingan dan motivasi guru. Upaya lain yang dilakukan guru adalah membangun komunikasi yang lebih efektif pada siswa dan memberi kesempatan kembali untuk mengulang materi yang kurang dipahami siswa dalam bentuk praktik membatik.

Download Skripsi Lengkap