REFERENSI PENDIDIKAN

Faktor yang Mempengaruhi Kepribadian

http://ewintribengkulu.blogspot.com/2012/10/faktor-yang-mempengaruhi-kepribadian.html

Perkembangan diartikan sebagai perubahan yang progresif dan kontinyu (berkesinambungan) dalam diri individu dari mulai lahir sampai mati”. Pengertian lain dari perkembangan adalah “perubahan-perubahan yang dialami individu atau organisme menuju tingkat kedewasaannya atau kematangannya (maturation) yang berlangsung secara sistematis, progresif, dan berkesinambungan, baik menyangkut fisik maupun psikis” (Yusuf Syamsu, 2004: 15). Perkembangan kepribadian diartikan sebagai perubahan kepribadian yang mungkin terjadi pada individu yang tampak dalam perilaku dan penyesuaian dirinya terhadap lingkungan.

Menurut Syamsu Yusuf (2002: 128-129), kepribadian dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik hereditas (pembawaan) maupun lingkungan (seperti fisik, sosial, kebudayaan, spiritual).
  1. Fisik. Faktor fisik yang dipandang mempengaruhi perkembangan kepribadian adalah postur tubuh (langsing, gemuk, pendek atau tinggi ), kecantikan (cantik atau tidak cantik ), kesehatan ( sehat atau sakit-sakitan ), keutuhan tubuh ( utuh atau cacat ), dan keberfungsian organ tubuh.
  2. Inteligensi. Tingkat inteligensi individu dapat mempengaruhi perkembangan kepribadiannya. Individu yang inteligensinya tinggi atau normal biasa mampu menyesuaikan diri dengan lingkungannya secara wajar, sedangkan yang rendah biasaya sering mengalami hambatan atau kendala dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya.
  3. Keluarga. Suasana atau iklim keluarga sangat penting bagi perkembangan kepribadian anak. Seorang anak yang dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang harmonis dan agamis; dalam arti, orangtua memberikan curahan kasih sayang, perhatian serta bimbingan dalam kehidupan keluarga, maka perkembangan kepribadiannya anak tersebut cenderung positif. Adapun anak yang dikembangkan dalam lingkungan keluarga yang broken home, kurang harmonis, orang tua bersikap keras terhadap anak atau tidak memperhatikan nilai-nilai agama dalam keluarga, maka perkembangan kepribadiannya cenderung akan mengalami distorsi atau mengalami kelainan dalam penyesuaian dirinya (maladjustment).
  4. Teman sebaya (peer group). Setelah masuk sekolah, anak mulai bergaul dengan teman sebayanya dan menjadi anggota dari kelompoknya. Pada saat inilah dia mulai mengalihkan perhatiannya untuk mengembangkan sifat-sifat atau perilaku yang cocok atau dikagumi oleh teman-temannya, walaupun mungkin tidak sesuai dengan harapan orang tuanya. Melalui hubungan interpersonal dengan teman sebaya, anak belajar menilai dirinya sendiri dan kedudukannya dalam kelompok. Bagi anak yang kurang mendapat kasih sayang dan bimbingan keagamaan atau etika dari orangtuanya, biasanya kurang memiliki kemampuan selektif dalam memilih teman dan mudah sekali terpengaruh oleh sifat dan perilaku kelompoknya. Berdasarkan pengamatan di lapangan, ternyata tidak sedikit anak yang menjadi perokok berat, peminum minuman keras atau bergaul bebas, karena pengaruh perilaku teman sebaya.
Refrensi:
  1. Yusuf, Syamsu. (2002). Pengantar Teori Kepribadian. Tidak Diterbitkan. Bandung: PPB FIP UPI.
  2. Yusuf, Syamsu. (2004). Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Bandung: Rosda.
Copyright © 2014-2015 REFERENSI PENDIDIKAN Powered by Blogger - All Rights Reserved