REFERENSI PENDIDIKAN

Konsep Pembelajaran E-learning

http://ewintribengkulu.blogspot.com/2012/10/konsep-pembelajaran-e-learning.html

E-learning berasal dari huruf ‘e’ (electronic) dan ‘learning’ (pembelajaran). Jadi e-learning adalah pembelajaran yang menggunakan jasa elektronika. Model pembelajaran e-learning kini telah menjadi pilihan para penyelenggara pendidikan, karena keunggulan yang dimilikinya. Definisi e-learning sangat beragam yang mungkin satu sama lain berbeda, namun satu hal yang sama tentang e-learning adalah pembelajaran melalui jasa bantuan elektronika. Saat ini bahkan e-learning merupakan salah satu alternatif untuk menyelesaikan berbagai masalah dalam pendidikan.

Istilah e-learning mengandung pengertian yang sangat luas, sehingga banyak pakar yang menguraikan tentang definisi e-learning dari berbagai sudut pandang. Salah satu definisi yang cukup dapat diterima banyak pihak misalnya dari Darin E. Hartley (Wahono, 2003) “e-learning merupakan suatu jenis belajar mengajar yang memungkinkan tersampaikannya bahan ajar ke siswa dengan menggunakan media internet, intranet atau media jaringan komputer lain”.

Learnframe.com (Wahono,2003) ”e-learning adalah sistem pendidikan yang menggunakan aplikasi elektronik untuk mendukung belajar mengajar dengan media internet, jaringan komputer, maupun komputer “stand alone”.

Widhiartha (2008:2) menguraikan beberapa model pembelajaran e-learning. Model pembelajaran tersebut antara lain:

1. Computer Based Learning/Training (CBL/CBT)

Model CBL/CBT berkembang sekitar pertengahan tahun 1990-an. Saat itu berbagai pelatihan atau kelas menyediakan berbagai bahan belajar berupa modul elektronik baik berupa perangkat lunak edukasi maupun softcopy dari berbagai modul cetak yang sudah ada sebelumnya. Bentuk ini kemudian dikenal sebagai e-book dan berkembang semakin pesat berkat adanya format file pdf dari Adobe.

Pada era tersebut CBL/CBT sendiri berkembang pada komputer standalone dan belum terhubung dengan internet. Biasanya pembelajaran dengan model CBL/CBT adalah untuk penyiapan tenaga ahli pada suatu bidang yang memerlukan pelatihan terlebih dahulu sebelum menempati posisinya. Perangkat lunak simulasi membantu siswa melakukan simulasi atas pekerjaan yang hendak dilakukan. Dengan simulasi maka proses belajar menjadi lebih mudah dan biaya pun bisa ditekan lebih murah dibandingkan dengan harus mempraktekkan sendiri pada peralatan sebenarnya. Modul elektronik mempermudah peserta untuk mempelajari secara mandiri materi yang harus dipelajari dan tidak memerlukan biaya cetak tinggi.

2. Web Based Learning (WBL)

Dengan semakin luasnya perkembangan internet, maka perkembangan selanjutnya adalah terjadinya akses terhadap bahan-bahan belajar CBL/CBT di atas. Berbagai perangkat lunak edukasi ataupun softcopy dari modul, diktat, dan berbagai e-book lainnya yang semula didistribusikan dalam bentuk disket atau CD mulai membanjiri internet. Dengan melakukan upload berbagai referensi dan bahan belajar di internet berarti membuka akses dari seluruh penjuru dunia terhadap berbagai bahan belajar tersebut. Para pengguna internet pun bisa mempelajari apa saja dari berbagai situs web yang tersedia.

Demikian pula para penyelenggara pendidikan mulai memanfaatkan internet untuk memperluas layanan mereka pada siapapun yang ingin menjadi siswanya. Berbagai kelas dan pelatihan bisa diikuti hanya dengan melakukan berbagai download terhadap bahan belajar elektronik, berdiskusi dengan dosen melalui e-mail atau forum-forum diskusi online, dan mengikuti ujian secara online di internet. Setelah lulus sang siswa tinggal menunggu ijazah atau sertifikat yang terkirim ke alamatnya. Model inilah yang dikenal dengan sebagai WBL, sebuah model pembelajaran untuk membantu pembelajaran konvensional.

3. Mobile Learning


Berbagai model pembelajaran yang menggunakan peralatan teknologi dan informasi lainnya seperti telepon genggam pun sangat berkembang pesat. Dengan berbagi fitur dan teknologi yang dimiliki telepon genggam saat ini telah melahirkan sebuah model pembelajaran baru yang dikenal sebagai mobile learning (M-learning). Aktifitas utama pada m-learning adalah mendistrbusikan bahan pelajaran kepada siswa agar dapat diakses oleh Siswa.

Koesnandar (Rosana, 2009) : e-learning merupakan kependekan dari elektronic learning. Secara generik e- learning berarti belajar dengan menggunakan elektronik. Kata elektronik sendiri mengandung pengertian yang spesifik yakni computer atau internet, sehingga e-learning sering diartikan sebagai proses belajar yang menggunakan computer atau internet.

Koesnandar mengemukakan pengertian e-learning mencakup sebuah garis kontimum dari mulai menambahkan komputer dalam proses belajar sampai dengan pembelajaran berbasis web. Menurut batasan UNESCO, e-learning paling tidak harus didukung dengan sejumlah syarat yang harus dipenuhi, yaitu mencakup :
  1. Ketersediaan bahan belajar berbasis TIK
  2. Ketersediaan software aplikasi untuk menjalankan pengelolaan proses pembelajaran tersebut
  3. Adanya SDM guru dan tenaga penunjang yang menguasai TIK
  4. Adanya infrastruktur TIK
  5. Adanya akses internet
  6. Adanya dukungan training riset
  7. Dukungan daya listrik
  8. Serta dukungan kebijakan pendayagunaan TIK untuk pembelajaran TIK.
Purnomo (2008): E-learning secara harfiah didefinisikan sebagai kegiatan belajar mengajar yang berbasis elektronik yaitu internet. E-learning merupakan konsekuensi logis dari perkembangan teknologi informasi dan komunikasi. Dengan e-learning, pebelajar tidak harus terikat dengan ruang kelas untuk mendapatkan atau menerima materi pelajaran dari pengajar. Dengan e-learning juga dapat mempersingkat jadwal target pembelajaran.

Wahono (2008) mengemukakan komponen yang membentuk e-learning adalah:
  1. Infrastruktur e-learning, Infrastruktur e-learning dapat berupa personal computer (PC), jaringan komputer, internet dan perlengkapan multimedia. Termasuk di dalamnya peralatan teleconference apabila kita memberikan layanan syncronous learning melalui teleconference.
  2. Sistem dan aplikasi e-learning, Sistem perangkat lunak yang memvirtualisasi proses belajar mengajar konvensional. Bagaimana manajemen kelas, pembuatan materi atau konten, forum diskusi, sistem penilaian (rapor), sistem ujian online dan segala fitur yang berhubungan dengan manajemen proses belajar mengajar.sistem perangkat lunak tersebut sering disebut dengan learning management system (LMS).
  3. Konten e-learning, Konten dan bahan ajar yang ada pada e-learning system. Konten dan bahan ajar ini bisa dalam bentuk Multimedia based Content (konten berbentuk multimedia interaktif) atau text based content (konten berbentuk teks).
Menurut Wahono (2008) “actor yang ada dalam pelaksanaan e-learning boleh dikatakan sama dengan proses belajar mengajar konvensional, yaitu perlu adanya guru (instruktur) yang membimbing, siswa yang menerima bahan ajar dan administrator yang mengelola administrasi dan proses belajar mengajar”.

Beberapa strategi implementasi e-learning diantaranya adalah sebagai berikut:
  1. e-learning harus di desain untuk dapat memberikan nilai tambah secara formal (misalnya karier dan insentif) dan nonformal (misalnya ilmu, skill teknis) untuk pengguna (pembelajar, instruktur, admin)
  2. pada masa sosialisasi terapkan blended e-larning untuk melatih behavior pengguna dalam e-life style (tidak langsung full e-learning)
  3. project e-learning adalah institution initiative dan bukan hanya IT or HRD initiative
  4. jadikan pengguna sebagai peran utama (dukung aktualisasi diri pengguna), tidak hanya objek semata
Kegagalan implementasi e-learning kebanyakan bukan karena masalah tools, software atau infrastruktur. Kebanyakan karena human factor, karena beratnya perubahan kultur kerja dan karena tidak adanya knowledge sharing.

Refrensi:
  1. Wahono,R.S.2003/2008.Pengantar E-learning dan Pengembangannya. [Online]. Tersedia:http://www.bpplspjateng.com/elearning/download/1122167682romi-elearning2.pdf.
  2. Widhiarta, P. A. 2008. Memahami Lebih Lanjut Tentang E-learning. [Online]. Tersedia:http://ilmukomputer.org/wpcontent/uploads/2008/07/widhiartha_elearning.pdf.
  3. Rossana, Elly. 2009. Penerapan E-learning dalam kegiatan pendidikan dan pelatihan pada PT. Telekomunikasi Indonesia Tbk. (Studi kasus pada Unit Multimedia Based Learning-Telkom Learning Center-Bandung). Pepustakaan UPI Bandung.
Copyright © 2014-2015 REFERENSI PENDIDIKAN Powered by Blogger - All Rights Reserved