REFERENSI PENDIDIKAN

Seni Tradisional dan Seni Pertunjukan di Indonesia

http://ewintribengkulu.blogspot.com/2012/10/seni-tradisional-dan-seni-pertunjukan.html

Pembahasan seni tradisional dan seni pertunjukan telah banyak dikaji oleh para penulis yang memahami dunia seni. Dari beberapa literatur, penulis memilah buku yang relevan dengan kesenian Lenong sebagai kesenian tradisional dan seni pertunjukan. Umar Kayam dalam karya bukunya yang berjudul Seni, Tradisi dan Masyarakat (1981) berpendapat bahwa seni tradisonal dikategorikan dalam beberapa bentuk seni yaitu: seni rupa,seni tari, dan seni teater drama. Selain membahas tentang kategori seni, Umar Kayam juga menjelaskan tentang ciri-ciri dari kesenian tradisional yaitu sebagai berikut:
  1. Seni tradisional memiliki jangkauan yang terbatas pada lingkungan kultur yang dapat menunjangnya.
  2. Seni tradisional merupakan sebuah pencerminan dari satu kultur yang berkembang sangat perlahan, disebabkan karena dinamik dari masyarakat penunjangnya memang demikian.
  3. Merupakan bagian dari suatu kosmos kehidupan yang bulat yang tidak terbagi-bagi dalam pengkotakan spesialisasi.
  4. Seni tradisional bukan merupakan hasil kreativitas individu-individu tetapi tercipta secara anonim bersama dengan sifat kolektifitas masyarakat yang menunjangnya.
Dalam pembahasan lain dijelaskan juga mengenai fungsi dari kesenian tradisional dalam masyarakat yaitu sebagai berikut:
  1. Fungsi Sosial. Daya tarik pertunjukan rakyat terletak pada kemampuannya sebagai pembangun dan pemelihara solidaritas kelompok, dengan pertunjukan rakyat ini masyarakat akan memahami kembali nilai-nilai dan pola perilaku yang berlaku dalam lingkungan sosialnya.
  2. Seni tradisional dilihat dari segi daya jangkau penyebaran sosialnya memiliki wilayah jangkauan yang meliputi seluruh aspek lapisan masyarakat, dapat pula mencerminkan komunikasi terjalin dengan baik pada pria dan wanita, antara lapisan atas dan bawah serta antara golongan tua dan golongan muda.
  3. Dilihat dari segi geografis, wilayah penyebaran dari seni tradisional akan menunjukan suatu pola tertentu yang menunjukan letak geografis para penggemarnya.
Dalam pembahasannya Kayam mencoba menjelaskan tentang ciri-ciri dan fungsi dari kesenian tradisional di masyarakat, buku ini tentunya memberikan kontribusi terhadap kajian penulis yang mengkaji tentang kesenian tradisional yang hidup di lingkungan masyarakat.

Buku kedua, yaitu buku karya Edy Sedyawati yang berjudul Pertumbuhan Seni Pertunjukan (1981). Buku ini secara umum merupakan kumpulan artikel yang menggambarkan sejarah seni pertunjukan Indonesia seperti seni tari, seni teater dan seni musik.

Secara khusus Edy Sedyawati menjelaskan tentang seni tradisional yang
sesuai dengan tradisi dan mempunyai suatu pola kerangka ataupun aturan yang selalu berulang dalam kerangka tertentu. Kesenian yang tidak tradisional tidak terikat kepada suatu kerangka apapun.

Walaupun terdapat sebuah perbedaan antara seni tradisional dan seni tidak tradisional, menurut Edi Sedyawati terdapat sebuah kesulitan untuk membedakan keduanya apabila melihat suatu pertunjukan yang nyata. Lebih lanjut Edi Sedyawati menjelaskan bahwa untuk menyebutkan suatu pertunjukan tradisional atau tidak, perlu dibedakan dataran-dataran wilayahnya, apakah yang dimaksud unsur-unsur dasarnya, apakah gumpalan unsur-unsur yang mempunyai cara-cara berhubungan tetap atau pola konvensi penyajian atau ketiga-tiganya.

Dalam mengembangkan seni tradisional diperlukan upaya kualitatif dan kuantitatif. Upaya kuantitatif adalah mengembangkan seni pertunjukan Indonesia berarti membesarkan volume penyajiannya, meluaskan wilayah pengenalannya. Sedangkan upaya kualitatif adalah mengolah, memperbaharui wajah dan penampilan kesenian tersebut.

Edi Sedyawati juga memaparkan bahwa pengembangan seni pertunjukkan tradisional selain secara kualitatif dan kuantitatif diperlukan juga sarana dan prasarana serta karyanya tersebut dapat bermanfaat bagi masyarakat banyak. Dalam konteksnya seni pertunjukan Indonesia berangkat dari lingkungan etnik yang berbeda-beda. Dalam lingkungan etnik ini terdapat suatu kesepakatan yang turun temurun mengenai perilaku, wewenang untuk menentukan rebah bangkitnya seni pertunjukkan.

Refrensi:
Sedyawati, E.(1981).Pertumbuhan Seni Pertunjukan. Sinar Harapan: Jakarta
Copyright © 2014-2015 REFERENSI PENDIDIKAN Powered by Blogger - All Rights Reserved