REFERENSI PENDIDIKAN

Implikasi Tahap dan Tugas Perkembangan Individu terhadap Pendidikan di Sekolah Dasar

http://ewintribengkulu.blogspot.com/2012/11/Implikasi-tahap-dan-tugas-perkembangan-terhadap-pendidikan.html

Mengingat perkembangan siswa sekolah dasar berada pada masa kanakkanak (Childhood), maka perhatian Anda sebagai guru sekolah dasar hendaknya lebih fokus lagi kepada jenis-jenis perlakuan pendidik (orang dewasa) yang diharapkan bagi perkembangan peserta didik pada masa kanak-kanak (Childhood), yaitu pada point c sebagaimana di uraikan di atas.

Selanjutnya, berdasarkan kajian mengenai tahap dan tugas perkembangan individu, Anda pun dapat memahami bahwa tahap-tahap perkembangan individu menunjukkan kemampuan dan kesiapan belajarnya. Implikasi dari hal tersebut, maka para guru hendaknya tidak mengembangkan sesuatu kompetensi pada diri siswa sebelum siswa yang bersangkutan memiliki kemampuan dan kesiapan belajar untuk mengembangkan kompetensi tersebut. Para guru hendaknya tidak mengajarkan sesuatu materi ajar sebelum siswa yang bersangkutan memiliki kesiapan belajaruntuk mempelajari materi ajar tersebut. Sebab itu, pengetahuan tentang perkembangan individu diperlukan oleh guru dalam rangka mengidentifikasi rentang kompetensi atau materi ajar yang sepadan bagi para siswa yang berada pada tahap perkembangan tertentu.
Berikut ini akan dikemukakan implikasi dari setiap aspek perkembangan siswa sekolah dasar terhadap pendidikan, yang mendeskripsikan tentang hal-hal yang perlu diperhatikan dan dilakukan oleh guru dalam rangka pendidikan agar sesuai dengan tahap dan tugas perkembangan siswa:

Perkembangakan Fisik. Mengacu kepada tahap perkembangan yang dikemukakan oleh Yelon dan Weinstein (1977), tahap perkembangan siswa sekolah dasar tergolong pada Masa Kanak-Kanak (Childhood). Perkembangan aspek fisik pada masa ini yaitu: a) Keterampilan-keterampilan badan cukup baik, otot-otot kuat, dan terkoordinasi; b) Turut serta dalam permainan-permainan kelompok; c) Perkembangan keseimbangan lebih lanjut, kegesitan, daya tahan, kekuatan tenaga dan keterampilan khusus.

Implikasi dari perkembangan fisik siswa seperti dijelaskan di atas, maka kegiatan fisik hendaknya betul-betul disadari pentingnya bagi siswa sekolah dasar, terutama di kelas-kelas rendah. Selain itu perlu diperhatikan, kegiatan fisik siswa akan turut membantu perkembangan kognitifnya. Ketika anak dihadapkan kepada konsep abstrak, anak perlu perlu melakukan aktivitas fisik untuk membantu mereka menghayati konsep-konsep yang belum dikenalnya itu. Sehubungan dengan itu dalam rangka pembelajarannya, siswa sekolah dasar hendaknya dihadapkan pada kegiatankegiatan yang aktif secara fisik.

Perkembangan Mental/Kognitif. Berdasarkan tahap perkembangan mental atau kognitif menurut Jean Piaget, perkembangan mental/kognitif siswa sekolah dasar berada pada perkembangan dari tahap operasi awal (the preoperational stage) ke tahap operasi konkrit (the concrete operations stage). Apabila kita menggunakan tahap perkembangan kognitif dari Bruner, tahap perkembangan tersebut di atas sebanding dengan tahap perkembangan dari akhir tahap enactive dan tahap iconic/imagery. Pada saat ini siswa sekolah dasar skema kognitifnya berkembang, terutama berkenaan dengan keterampilan berpikir dan keterampilan memecahkan masalah. Perkembangan kecakapannya yaitu berkenaan dengan keterampilan menggolong-golongkan (mengklasifikasi) berdasarkan ciri dan fungsi sesuatu; mengurutkan sesuatu misalnya dari yang terkecil ke yang terbesar; membandingkan benda-benda; memahami konsep konservasi; memahami identitas, yaitu kemampuan mengenal bahwa suatu objek yang bersifat fisik akan mengambil ruang dan memiliki volume tertentu; dan kemampuan membandingkan pendapat orang.

Implikasi dari hal di atas, maka pembelajaran bagi siswa sekolah dasar hendaknya: membangkitkan rasa ingin tahu siswa, menghadapkan siswa pada gagasan-gagasan dan pandangan-pandangan baru, memungkinkan siswa melakukan eksplorasi, berpikir, dan memberikan kesempatan bagi siswa untuk berinteraksi dan berkomunikasi baik dengan sesamanya maupun dengan orang dewasa. Untuk itu, guru hendaknya memfasilitasi siswa untuk belajar/bekerja dalam kelompok kecil.

Perkembangan Sosial. Menurut tahap-tahap perkembangan seperti dikemukakan Yelon dan Weinstein (1977), perkembangan sosial siswa sekolah dasar yakni: berorientasi kepada kelompok tetapi kehidupan rumah masih berpengaruh, ingin bebas, memuja pahlawan, pemisahan dari jenis kelamin, dan bahwa kelompok akan mempengaruhi konsep dirinya.

Implikasi dari perkembangan di atas, maka para guru hendaknya: mendorong pertemanan dengan menggunakan proyek-proyek dan permainan kelompok. Selain itu, guru hendaknya memberikan contoh model hubungan sosial yang baik.

Perkembangan Emosional. Perkembangan emosional siswa sekolah dasar antara lain: banyak menggunakan waktu untuk membebaskan diri dari rumah, menyamakan diri dengan teman sebayanya namun masih menerima persetujuan dari orang dewasa, mudah terharu, tetapi pemberani dan percaya pada diri sendiri.

Implikasi dari perkembangan di atas, maka guru mestinya menerima kebutuhan-kebutuhan akan kebebasan anak dan menambah tanggung jawab anak. Selain itu, guru hendaknya mengembangkan keberanian dan perasaan percaya diri siswa, juga keterbukaan siswa terhadap kritik.

Perkembangan Moral. Berdasarkan tahap perkembangan moral menurut Lawrence Kohlberg, perkembangan moral siswa sekolah dasar berada pada pergeseran dari akhir tahap 1 (kepatuhan dan hukuman), tahap 2 (Instrumental Relatif) dan menuju tahap 3 (Orientasi Keselarasan Interpersonal).

Implikasi dari tahap perkembangan di atas, maka guru hendaknya bersamasama menciptakan aturan dan kejujuran, secara konsisten mengupayakan disiplin yang tegas dan dapat dipahami. Namun demikian, pada kelas-kelas rendah, para guru diharapkan mempertimbangkan orientasi kepatuhan dan hukuman pada diri siswa.


Refrensi Rujukan:
  1. E. Usman E. dan Juhaya, S.P., (1984), Pengantar Psikologi, Angkasa, Bandung.
  2. M. Ngalim Purwanto., (1993), Psikologi Pendidikan, PT. Remaja Rosda Karya, Bandung.
  3. Sumadi S. Brata, (1990), Psikologi Pendidikan, Rajawali Pers, Jakarta.
  4. Sunaryo K. dan Nyoman D., (1996/1997) Landasan-Landasan Pendidikan Sekolah
  5. Dasar, Bagian Proyek Pengembangan Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Dirjendikti, Depdiknas.
  6. Suparno, P., (1997), Filsafat Konstrukstivisme dalam Pendidikan, Kanisius, Yogyakarta.
  7. Yelon L.S. dan Weinstein, W.G., (1977), A Teacher's World Psychology in the Clasroom, McGraww-Hill International Book Company, Tokyo.
Copyright © 2014-2015 REFERENSI PENDIDIKAN Powered by Blogger - All Rights Reserved