Belajar dan Pembelajaran

a. Konsep Belajar

Belajar merupakan kegiatan penting bagi setiap orang, termasuk di dalamnya belajar bagaimana seharusnya belajar. Sebuah survey (Aunurrahman,2010: 33) menyatakan bahwa 82% anak-anak yang masuk sekolah pada usia 5-6 tahun memiliki citra diri yang positif tentang kemampuan belajar mereka sendiri. Tetapi angka inggi tersebut menurun drastis menjadi hanya 18% waktu mereka berusia 16 tahun. Konsekuensinya 4 dari 5 remaja dan orang dewasa memulai pengalaman belajarnya yang baru dengan perasaan ketidaknyamanan.

Dalam kasus di atas terlihat bahwa belajar bukan saja suatu kegiatan yang hanya dilakukan untuk memberikan materi pelajaran semata, akan tetapi dalam kegiatan belajar perlu diperhatikan bagaimana cara belajar yang efektif yang dapat membuat siswa aktif, nyaman, dan berminat mengikuti keiatan belajar di dalam kelas.

Karena pada dasarnya proses belajar yang baik dan efektif akan menghasilkan kualitas yang baik pula. Oleh katena itu, belajar merupakan komponen yang paling vital dalam setiap usaha penyelenggaraan jenis dan jenjang pendidikan. Sehingga tanpa proses belajar sesungguhnya tidak pernah ada pendidikan (Syaiful Sagala, 2008:13).

Belajar menurut teori konstruktivisme (Trianto, 2007: 13) bahwa siswa harus menemukan sendiri dan mentransformasikan informasi kompleks, mengecek informasi baru dengan aturan-aturan lama dan merevisinya apabila aturan itu tidak sesuai. Agar siswa benar-benar memahami dan dapat menerapkan pengetahuan, mereka harus bekerja memecahkan masalah, menemukan segala sesuatu untuk dirinya, berusaha susah payah dengan ide-ide.

Menurut Gagne (Trianto, 2007 : 12) bahwa terjadinya belajar pada diri siswa di perlukan kondisi belajar, baik kondisi internal maupun kondisi eksternal.
  1. Kondisi internal merupakan peningkatan memori siswa sebagai hasil belajar terdahulu. Memori siswa yang terdahulu merupakan komponen kemampuan yang baru dan di tempatkan bersama-sama.
  2. Kondisi eksternal meliputi aspek benda yang dirancang atau ditata dalam suatu pembelajaran. Kondisi eksternal bertujuan antara lain merangsang ingatan siswa, penginformasian tujuan pembelajaran, membimbing materi belajar yang baru, memberikan kesempatan kepada siswa dan menghubungkannya dengan informasi baru.
Belajar menurut Morgan (Syaiful Sagala, 2008:13) adalah setiap perubahan yang relatif menetap dalam tingkah laku yyang terjadi sebagai suatu hasil latihan atau pengalaman. Sedangkan Abdillah mengemukakan bahwa belajar adalah suatu usaha sadar yang dilakukan oleh individu dalam perubahan tingkah laku baik melalui latihan dan pengalaman yang menyangkut aspek kognitif, afektif dan psikomotorik untuk memperoleh tujuan tertentu (Aunurrahman, 2010: 35).

Jika disimpulkan dari sejumlah pandangan dan definisi tentang belajar, Wragg (Aunurahman, 2010:36) menyebutkan beberapa cirri umum kegiatan belajar sebagai berikut :
  1. Belajar menunjukkan aktivitas pada diri seseorang yang disadari atau disengaja. Kegiatan belajar merupakan kegiatan yang direncanakan oleh pembelajar sendiri dalam bentuk suatu aktivitas tertentu. Aktivitas yang dimaksud adalah keaktifan seseorang dalam melakukan suatu kegiatan tertentu, baik pada aspek-aspek jasmaniah maupun aspek mental yang memungkinkan terjadinya perubahan pada dirinya.
  2. Belajar merupakan interaksi individu dengan lingkungannya. Lingkungan dalam hal ini dapat berupa manusia atau obyek-obyek lain yang memungkinkan individu memperoleh pengalaman-pengalaman atau pengetahuan, baik pengalaman atau pengetahuan baru maupun sesuatu yang pernah diperoleh sebelumnya akan tetapi menimbulkan perhatian kembali bagi individu tersebut sehingga memungkinkan terjadinya interaksi.adanya interaksi inndividu dengan lingkungannya ini mendorong seseorang untuk lebih intensif meningkatkan keaktifan jasmaniah maupun mentalnya guna lebih mnedalami sesuatu yang menjadi perhatian.
  3. Hasil belajar ditandai dengan perubahan tingkah laku ataupun dengan perubahan kemampuan berpikir. Perubahan tingkah laku sebagai hasil belajar juga dapat menyentuh perubahan aspek afektif, termasuk perunbahan aspek emosional.
b. Konsep Pembelajaran

Pembelajaran pada hakikatnya merupakan suatu proses interaksi antara guru dengan siswa, baik interaksi secara langsung maupun seacra tidak langsung. Pembelajaran dapat juga didefinisikan sebagai suatu sistem atau proses membelajarkan subjek didik yang direncanakan atau didesain, dilaksanakan, dan dievaluasi secara sistematis agar subjek didik dapat mencapai tujuan-tujuan pembelajaran.

Pendekatan pembelajaran mengandung makna antara lain :
  1. Pendekatan adalah suatu antar usaha dalam aktivitas kajian, atau interaksi, relasi dalam suasana tertentu, dengan individu atau kelompok melalui penggunaan metoda-metoda tertentu secara efektif.
  2. Pendekatan pembelajaran sebagai proses penyajian isi pembelajaran kepada siswa untuk mencapai kompetensi tertentu dengan suatu metoda atau beberapa metoda pilihan.
  3. Aktivitas guru dalam memilih kegiatan pembelajaran; penjelasan untuk mempermudah bagi guru memberikan pelayanan belajar dan juga mempermudah bagi siswa untuk memahami materi ajar, dengan memelihara suasana pembelajaran yang menyenangkan. (Neti Budiwati & Leni Permana, 2010: 68)
Macam-macam pendekatan pembelajaran (Syaiful Sagala, 2009: 71) yang sudah umum dipakai diantaranya yaitu:

1) Pendekatan konsep dan pendekatan proses
  1. Pendekatan konsep, Pendekatan konsep adalah suatu pendekatan pengajaran yang secara langsung menyajikan konsep tanpa memberi kesempatan kepada siswa untuk menghayati bagaimana konsep itu di peroleh.
  2. Pendekatan Proses, Pendekatan proses adalah suatu pendekatan pengajaran dengan memberi kesempatan kepada siswa untuk ikut menghayati proses penemuan atau penyusunan suatu konsep sebagai suatu keterampilan.
2) Pendekatan deduktif dan pendekatan induktif
  1. Pendekatan deduktif, Pendekatan deduktif adalah proses penalaran yang bermula dari keadaan umum kekeadaan khusus sebagai pendekatan pengajaran yang bermula dengan menyajikan aturan, prinsip umum diikuti dengan contoh-contoh khusus atau penerapan aturan, prinsip umum itu kedalam keadaan khusus.
  2. Pendekatan induktif, Pendekatan induktif adalah pendekatan pengajaran yang bermula dengan menyajikan sejumlah keadaan khusus kemudian dapat disimpulkan menjadi suatu fakta, prinsip, atau aturan.
3) Pendekatan Ekspositori dan Pendekatan Heuristik
  1. Pendekatan Ekspositori, Pendekatan ekspositori digunakan guru untuk menyajikan bahan pelajaran secara utuh atau menyeluruh, lengkap dan sistematis dengan penyampaian secara verbal
  2. Pendekatan Heuristik, Pendekatan heuristik adalah pendekatan pengajaran  yang menyajikan sejumlah data dan siswa diminta untuk membuat kesimpulan menggunakan data tersebut, dan implementasinya menggunakan metode penemuan atau inkuiri.
4) Pendekatan Kecerdasan

Pendekatan kecerdasan adalah bentuk pendekatan pengajaran yang didasarkan pada kecerdasan peserta didik sebagai suatu kapasitas umum dari individu untuk bertindak, berfikir rasional dan berinteraksi dengan lingkungan secara efektif.

5). Pendekatan kontekstual

Pendekatan kontekstual merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat.

Pembelajaran mengandung arti setiap kegiatan yang dirancang untuk membantu seseorang mempelajari suatu kemampuan dan atau nilai yang baru (Neti Budiwati dan Leni Permana, 2010: 67). Pembelajaran menurut Dimyati dan Mudjiono (dalam Syaiful Sagala. 2003: 62) adalah kegiatan guru secara terprogram dalam desain instrukstusional, untuk membuat siswa belajar secara aktif, yang menekankan pada penyediaan sumber belajar.

Pembelajaran sebagai proses belajar yang dibangun oleh guru untuk mengembangkan kreatifitas berpikir yang dapat meningkatkan kemampuan berpikir siswa serta dapat meningkatkan kemampuan mengkonstruksi pengetahuan baru sebagai upaya meningkatkan penguasaan yang baik terhadap materi pelajaran.

Berdasarkan peraturan pemerintah No.19 tahun 2005 mengenai kurikulum satuan pendidikan dikatakan bahwa proses pembelajaran harus didasarkan pada lima prinsip dasar pengelolaan diataranya :
  1. Interaktif, Prinsip interaktif mengandung makna bahwa mengajar bukan hanya sekadar menyampaikan pengetahuan dari guru ke siswa akan tetapi mengajar dianggap sebgai proses mengatur lingkungan yang dapat merangsang siswa untuk belajar.
  2. Inspiratif, Proses pembelajaran adalah proses yng inspiatif, yang memungkinkan sisiwa untuk mencoba dan melakukan sesuatu.
  3. Menyenangkan, Proses pembelajaran yang menyenangkan dapat dilakukan dengan menata ruangan yang apik dan menarik dan melalui pengelolaan pembelajaran yang hidup dan bervariasi yakni dengan menggunakan pola dan model pembelajaran, media dan sumber belajar yang relevan.
  4. Menantang, Proses pembelajaran adalah proses yang menantang siswa untuk mengembangkan kemampuan berpikor yakni merangsang kerja otak secara maksimal.
  5. Motivasi, Motivasi dapat diartikan sebagai dorongan yang memungkinkan siswauntuk bertindak atau melakukan sesuatu. Dorongan itu hanya mungkin muncul dalam diri siswa manakala siswa merasa membutuhkan. (Wina Sanjaya, 2010: 131)
Menurut Syaiful Sagala (2003 : 63), pembelajaran memiliki dua karakteristik yaitu Pertama, dalam proses pembelajaran melibatkan proses mental siswa secara maksimal, bukan hanya sekedar mendengar, mencatat, akan tetapi menghendaki aktivitas siswa dalam proses berpikir. Kedua, dalam pembelajaran membangun suasana dialogis dan proses tanya jawab terus-menerus yang diarahkan untuk memperbaiki dan meningkatkan kemampuan berpikir siswa.

Refrensi:
  1. Aunurrahman. (2009). Belajar dan pembelajaran. Bandung : Alfabeta
  2. Sagala, Syaiful.(2006). Konsep dan Makna Pembelajaran. Bandung : Alfabeta
  3. Trianto.(2007). Model-model pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivistik. Jakarta : Prestasi Pustaka
  4. Sanjaya, Wina. (2010). Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta : Prenada Media Group