REFERENSI PENDIDIKAN

Bullying pada Remaja Putri

http://ewintribengkulu.blogspot.com/2012/11/bullying-pada-remaja-putri.html

Agresivitas dalam lingkungan sekolah antara peserta didik sering disebut sebagai bullying. Bullying hanyalah salah satu aspek dari agresi yang dilakukan dengan tujuan melukai secara fisik dan psikologis merugikan orang lain (Olweus, 1993: 10). Bullying selalu melibatkan perilaku menyakiti seseorang yang tidak cukup mampu untuk membela diri sendiri, hampir selalu terjadi ketidakseimbangan kekuatan, sehingga korban mengalami kesulitan membela dirinya sendiri dari agresor, dan ada sedikit atau tidak ada pembalasan dari korban (Olweus, 1993: 10). Namun, bullying juga meliputi konflik antara pihak kekuasaan yang sama yang terjadi dalam dua arah proses menyerang dan pembalasan Roland & Idsoe (Oneil, 2009: 7).

Definisi bullying pada remaja putri adalah perilaku yang dimaksudkan untuk menyakiti seseorang, merugikan, dan merusak suatu hubungan dengan orang lain Crick & Grotpeter(Oneil, 2009: 7). Randall & Bowen(Oneil, 2009: 8) menambahkan bullying pada remaja putri adalah perilaku yang dimaksudkan untuk menyakiti seseorang dengan merusak atau memanipulasi hubungan dengan orang lain. Salmivalli(Oneil, 2009: 8) mengemukakan sebaliknya terdapat bukti bahwa bentuk-bentuk agresi tidak langsung lebih sering ditoleransi antara laki-laki, dan bahkan hal tersebut berhubungan dengan penerimaan sosial di antara bentuk persahabatan mereka.

Pada bullying remaja putri metode bullying secara langsung dianggap berbahaya karena dapat merusak citra dan harga diri kelompok persahabatan diantara anak-anak perempuan dan remaja Lagerspetz (O’neil, 2009: 8). Bullying dapat dilakukan dengan berbagai cara, bullying secara "tidak langsung" meskipun terdapat sedikit perbedaan hal tersebut sebenarnya adalah bentuk yang sama dari agresi Archer & Coyne (Oneil,2009: 8).

Karakteristik penting dari semua perilaku bullying remaja putri diakui sebagai sifat perilaku agresif secara rahasia, ketika remaja putri bertopeng untuk tidak tampil agresif secara khusus, pelaku bullying dapat beroperasi dengan cara tersebut tanpa pernah berinteraksi dengan korban. Sebagai contoh, pelaku bullying perempuan dapat menggunakan manipulasi sosial dengan menyerang korban melalui orang ketiga dalam rangka menyembunyikan maksud agresif, atau sebaliknya berpura-pura bahwa pelaku bullying tidak menunjukkan perilaku agresif sama sekali Lagerspetz (O’neil, 2009: 9).

Refrensi:
  1. Olweus, D. (1993) Bullying at school: What we know and what we can do. 
    Oxford: Blackwell.
  2. O’neil susan, (2005). Bullying by tween and teen girls: a literature, policy and resource review.[online]. Tersedia: http://www.sacsc.ca/Literature%20Review_ finalSON.pdf
Copyright © 2014-2015 REFERENSI PENDIDIKAN Powered by Blogger - All Rights Reserved