REFERENSI PENDIDIKAN

Faktor-Faktor Geografi yang Berperan dalam Budidaya Rumput Laut

http://ewintribengkulu.blogspot.com/2012/11/faktor-faktor-yang-mempengaruhi-budidaya-rumput-laut.html

Menurut seminar dan lokakarya peningkatan kualitas pengajaran Geografi dalam buku karya pasya (2006:82) “geografi adalah ilmu yang mempelajari persamaan dan perbedaan fenomena geosfer dengan sudut pandang kelingkungan atau kewilayahan dalam konteks keruangan”. Budidaya itu sendiri merupakan aktivitas merupakan aktivitas dalam konteks keruangan yang didalamnya memuat aspek fisik maupun aspek sosial dalam mengolah dan memanfaatkan sumber daya yang ada guna diambil manfaatnya bagi kesejahteraan masyarakat. Menurut Pasya (2006:51) “segala sesuatu yang ada di permukaan bumi satu sama lain mempunyai hubungan, baik antara benda mati dengan benda mati, makhluk hidup dengan benda mati atau benda mati dengan makhluk hidup”. 
laut di kecamatan Brebes.

1. Faktor Fisik
Petani harus memilih lokasi tambak untuk budidaya rumput laut yang sesuai dengan habitat rumput laut itu sendiri karena hal ini akan menjadi faktor pendorong keberhasilan budidaya rumput laut tersebut. Pembangunan tambak pada umumnya dipilih di daerah sekitar pantai, khususnya yang mempunyai atau dipengaruhi sungai besar karena syarat hidup rumput laut Glacilaria sp berada di air payau. Air payau akan memberikan pertumbuhan rumput laut Glacilaria sp yang jauh lebih baik dari pada air laut murni. Menurut Aslan (1998:74) “faktor fisik yang harus diperhatikan berkaitan dengan budidaya rumput laut Glacilaria sp adalah Kualitas air, morfologi dan pasang surut air”.

2. Faktor Sosial

a. Pendidikan petani/Ketrampilan petani

Pendidikan merupakan kebutuhan sepanjang hayat. setiap manusia membutuhkan pendidikan, sampai kapan dan dimanapun dia berada. Pendidikan sangat penting artinya, sebab tanpa pendidikan manusia akn sulit berkembangdan bahkan akan tertinggal. Dengan demikian pendidikan harus benar-benar diarahkan untuk menghasilkan manusia yang berkualitas dan mampu bersaig, disamping memiliki budi pekerti dan moral yang baik. Dalam UU RI No. 20 tahun 2003. tercantum tentang sistem pendidikan nasional. Berdasarkan UU RI No. 20 tahun 2003, pendidikan diartikan sebagai:
“…usaha sadar dan terencana untuk rnewujudkan suasan belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif menembangkan potensi dirinva untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian din, kepribadian, kecerdasan. akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan Negara”
Petani indonesia pada umumnya belum memiliki kualitas yang memadai untuk dapat merencanakan dan melaksanakan kegiatan pertanian secara sehat. Sebagian besar petani memiliki tingkat pendidikan rendah. Kondisi tersebut selanjutnya menempatkan petani pada posisi yang lemah dalam akses terhadap perkembangan ilmu pengetahuan yang diperlukan untuk memajukan kegiatanya. Sebagian besar petani hanya melaksanakan kegiatanya secara tradisional tanpa disertai inovasi baru untuk meningkatkan produktifitas yang pada saatnya dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya. Hal yang harus dimiliki adalah ketrampilan atau keahlian petani dalam mengolah lahan dengan memperhatikan aspek lingkungan fisik maupun sosial yang dapat di peroleh dari berbagai sumber, agar lahan yang digunakan sesuai dengan apa yang diharapkan sehingga dapat meningkatkan tingkat perekonomian petani.

b. Tenaga Kerja

Menurut Djojohadikusuma (1975:46) tenaga kerja adalah “semua orang yang bersedia dan sanggup bekerja untuk diri sendiri, anggota keluarga yang tidak menerima upah bayaran (berupa uang), serta mereka yang bekerja untuk mendapatkan gaji dan upah”. Lazimnya yang disebut tenaga kerja adalah penduduk berumur 15 – 56 tahun.

Dalam budidaya rumput laut di tambak memerlukan tenaga kerja ahli dan tenaga kerja kasar. Tenaga ahli dibutuhkan untuk perencanaan dan pengelolaan tambak. Sedangkan tenaga kasar dibutuhkan untuk memperdalam atau pengurasan tambak, pemeliharaan tambak, pemanenan dan kerja keras lainya. Hal ini terjadi pada sebagian masyarakat kita karena belum adanya teknologi budidaya rumput laut yang bisa menggantikan fungsi pekerja kasar.

c. Modal

Modal merupakan satu hal yang penting dalam menjalankan suatu usaha. Menurut Rahardi,dkk (1993:253) “fungsi modal kerja adalah sebagai uang kas untuk pembayaran gaji tenaga kerja, ongkos operasional harian bagian produksi, administrasi serta keperluan lain yang membutuhkan biaya”. Tanpa modal suatu usaha tidak akan mungkin berjalan walaupun syarat-syarat lainya sudah dimiliki. Selain modal yang dimiliki sendiri oleh petani tambak, modal usaha juga dapat diperoleh secara kredit dari bank. Alternatif lainya adalah pemilik modal bekerja sama dengan pihak lain dengan cara bagi hasil.

d. Transportasi

Transportasi juga merupakan salah satu hal penting dalam sebuah usaha yang berfungsi untuk memperlancar arus barang dan orang maupun sebagai penghubung suatu tempat. Hal tersebut dikemukakan oleh Warnapi dalam Rustendi (1996:21) bahwa:

Transportasi disamping sebagai sarana dan prasarana suatu kegiatan juga berfungsi sebagai alat untuk mempermudah dalam pencapaian lokasi yang dituju. Fungsi utama transportasi sangat erat hubunganya dengan aksesbilitas, maksudnya frekuensi penggunaanya, kecepatan yang dimilikinya dapat menakibatkan jarak yang jauh seolah-olah lebih dekat

Sarana dan prasarana yang cepat dibutuhkan untuk menyediakan kebutuhan dalam kegiatan usaha budidaya rumput laut dan pengiriman rumput laut ke pabrik-pabrik.

e. Ketersediaan pasar dan harga

Menurut Rahardi, dkk (1993:45) yang dimaksud dengan pasar adalah “suatu kondisi dimana pembeli dan penjual dapat berhubungan”. Dengan demikian pasar bisa berarti secara nyata dan abstrak sedangkan pemasaran merupakan kegiatan yang bertalian dengan pergerakan barang-barang dan jasa dari produsen ketangan konsumen. Hasil panen rumput laut dalam skala besar biasanya langsung di kirim ke perusahaan-perusahaan pengolah rumput laut langsung sedangkan dalam skala kecil biasa dijual kepada pengepul. Hasil rumput laut untuk saat ini belum bisa diolah secara mandiri tetapi harus dikirim ke pabrik-pabrik besar untuk di olah menjadi agar-agar maupun karaginan.

Refrensi:
  1. Taurino P, Herti Maryani,dan Lusi Kristiani. 2006. Budidaya dan PengolahanRumput Laut. Jakarta : Agromedia Pustaka
  2. Djojohadikusumo, Sumitro. 1975. Indonesia dalam Perkembangan Dunia Kini dan Masa Datang. Jakarta: LP3ES
  3. Rahardi, F dkk,Agribisnis perikanan, Jakarta: Penebar Swadaya,1993.
Copyright © 2014-2015 REFERENSI PENDIDIKAN Powered by Blogger - All Rights Reserved