REFERENSI PENDIDIKAN

Faktor-faktor Penentu Perkembangan Individu dan Implikasinya terhadap Pendidikan

http://ewintribengkulu.blogspot.com/2012/11/faktor-faktor-yang-mempengaruhi-perkembangan-individu-dan-implikasinya-terhadap-pendidikan.html

Faktor-faktor penentu perkembangan individu merupakan salah satu masalah yang menjadi perhatian para ahli psikologi. Hasil studi psikologi sebagai jawaban terhadap permasalahan tersebut dapat di bedakan menjadi tiga kelompok teori, yaitu Nativisme, Empirisme dan Konvergensi.

a. Nativisme

Schoupenhauer adalah salah seorang tokoh teori Nativisme. Penganut teori Nativisme berasumsi bahwa setiap individu dilahirkan ke dunia membawa faktorfaktor turunan (heredity) yang dibawa sejak lahir yang berasal dari orang tuanya. Faktor turunan yang dibawa sejak lahir yang berasal dari orang tuanya itu dikenal pula dengan istilah dasar (nature). Bagi penganut teori Nativisme bahwa dasar (nature) ini dipandang sebagai satu-satunya penentu perkembangan individu.

Penganut teori Nativisme umumnya mempertahankan konsepsinya dengan menunjukkan berbagai kesamaan atau kemiripan antara orang tua dengan anakanaknya. Contoh: apabila ayahnya terampil melukis, maka anak-anaknya pun diyakini akan terampil melukis; jika orang tuanya pandai dalam bidang sains, maka anakanaknya pun diyakini akan memiliki kepandaian dalam bidang sains; dsb.

Teori Nativisme memberikan implikasi yang tidak kondusif terhadap pendidikan. Teori Nativisme tidak memberikan kemungkinan bagi pendidik dalam upaya mengubah kepribadian peserta didik. Berdasarkan hal itu, peranan pendidikan atau sekolah sedikit sekali dapat dipertimbangkan untuk dapat mengubah perkembangan peserta didik. Teori demikian dipandang sebagai teori yang pesimistis terhadap upaya-upaya pendidikan untuk dapat mengubah atau turut menentukan perkembangan individu.

Teori Nativisme tidak dapat dipertahankan kebenarannya.Teori Nativisme tidaklah dapat kita diterima, baik sebagai asumsi dalam ilmu pendidikan maupun dalam praktik pendidikan. Sebab, jika teori Nativisme kita terima sebagai suatu asumsi, jika kita menerima sebagai sesuatu kebenaran bahwa perkembangan individu semata-mata tergantung pada dasar, maka konsekuensinya bahwa sekolah sepantasnya dibubarkan saja. Para orang tua, para guru dan siapapun tidak perlu melakukan pendidikan, sebab pendidikan dipandang tidak akan berfungsi untuk dapat mengubah keadaan anak, anak akan tetap sesuai dasar yang dimilikinya. Namun demikian, hal tersebut bertentangan dengan realitas yang sesungguhnya, karena terbukti bahwa sejak dulu hingga sekarang para orang tua dan para guru, baik di rumah maupun di sekolah, mereka mendidik anak-anak/siswa-siswanya karena pendidikan itu terbukti merupakan salah satu faktor yang sangat penting dan harus dilakukan dalam rangka membantu anak/siswa agar berkembang ke arah yang di harapkan. Dengan demikian, teori Nativisme tidak dapat dipertahankan dan tidak dapat dipertanggungjawabkan, sehingga tidak perlu diadopsi secara keseluruhannya.

b. Empirisme

John Locke dan J.B. Watson adalah tokoh teori Empirisme. Sebagai penganut Empirisme Locke dan Watson menolak asumsi Nativisme. Penganut Empirisme berasumsi bahwa setiap anak dilahirkan ke dunia dalam keadaan bersih ibarat papan tulis yang belum ditulisi (as a blank slate atau tabula rasa). Individu lahir ke dunia tidak membawa ide-ide bawaan. Penganut Empirisme meyakini bahwa setelah kelahirannya, faktor penentu perkembangan individu ditentukan oleh faktor lingkungan/pengalamannya. Faktor penentu perkembangan individu yang diyakini oleh penganut empirisme dikenal pula dengan istilah ajar (nurture). Perkembangan individu tergantung kepada hasil belajarnya sedangkan faktor penentu utama dalam belajar sepenuhnya berasal dari lingkungan (Yelon and Weinstein, 1977). Dengan demikian, mereka tidak percaya kepada faktor turunan atau dasar (nature) yang dibawa sejak lahir sebagai penentu perkembangan individu. Sebaliknya, mereka meyakini pengalaman/lingkungan atau ajar (nurture) itulah satu-satunya faktor penentu perkembangan individu.

Implikasi teori Empirisme terhadap pendidikan yakni memberikan kemungkinan sepenuhnya bagi pendidik untuk dapat membentuk kepribadian peserta didik; tanggung jawab pendidikan sepenuhnya ada di pihak pendidik. Teori Empirisme memberikan implikasi yang bersifat optimistis terhadap pendidikan untuk dapat sepenuhnya mempengaruhi atau menentukan perkembangan individu seperti apa yang diharapkan pendidik. Hal ini sebagaimana dikemukakan J. B. Watson:
"Give me a dozen healthy infants, well-formed, and my own specified world to bring them up in and I'll guarantee to take any one at random and train him to become any type specialist. I might select doctor, lawyer, artist, mechant-chief, and yes even beggar-man and thief, regardless of his talents, pencahnts, tendencies, abilities, vocations, and race of his ancestors" (Edward. J. Power, 1982).
Berdasarkan uraian di atas, dapat Anda pahami bahwa para penganut teori Empirisme begitu optimis dengan pendidikan sebagai upaya yang dapat diandalkan dalam rangka membentuk individu/siswa. Apakah teori Empirisme ini dapat dipertahankan kebenarannya? Sebagaimana dikemukakan Sumadi Suryabrata (1990:187-188) bahwa “jika sekiranya konsepsi Empirisme ini memang benar, maka kita akan dapat menciptakan manusia ideal sebagaiman kita cita-citakan asalkan kita  dapat menyediakan kondisi-kondisi yang diperlukan untuk itu. Tetapi kenyataan membuktikan hal yang berbeda daripada yang kita gambarkan.itu”.

c. Teori Konvergensi

Tokoh teori Konvergensi antara lain William Stern dan Robert J. Havighurst. Mereka berasumsi bahwa perkembangan individu ditentukan oleh dasar (nature) atau faktor turunan (heredity) yang dibawa sejak lahir maupun oleh faktor ajar (nurture) atau lingkungan/pengalaman. Misalnya, Havighurst menyatakan bahwa "karakteristik tugas perkembangan pada masa bayi dan anak kecil adalah biososial. Sebab, perkembangan anak adalah berdasarkan kematangan yang berangsur-angsur dari organ tubuhnya (biologis), dan berhasil tidaknya dalam tugas perkembangan itu tergantung kepada lingkungan sosialnya (Robert J. Havighurst, 1953). Penelitian yang dilakukan beberapa ahli juga menunjukkan bahwa perkembangan individu dipengaruhi oleh interaksi dengan cara yang kompleks dari faktor hereditas dan faktor lingkungan (Yelon and Weinstein, 1977).

Implikasi teori Konvergensi terhadap pendidikan yakni memberikan kemungkinan bagi pendidik untuk dapat membantu perkembangan individu sesuai dengan apa yang diharapkan, namun demikian pelaksanaannya harus tetap memperhatikan faktor-faktor hereditas peserta didik: kematangan, bakat, kemampuan, keadaan mental,dsb. Kiranya teori konvergensi inilah yang cocok kita terapkan dalam praktek pendidikan.

Refrensi Rujukan:
  1. E. Usman E. dan Juhaya, S.P., (1984), Pengantar Psikologi, Angkasa, Bandung.
  2. M. Ngalim Purwanto., (1993), Psikologi Pendidikan, PT. Remaja Rosda Karya, Bandung.
  3. Sumadi S. Brata, (1990), Psikologi Pendidikan, Rajawali Pers, Jakarta.
  4. Sunaryo K. dan Nyoman D., (1996/1997) Landasan-Landasan Pendidikan Sekolah
  5. Dasar, Bagian Proyek Pengembangan Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Dirjendikti, Depdiknas.
  6. Suparno, P., (1997), Filsafat Konstrukstivisme dalam Pendidikan, Kanisius, Yogyakarta.
  7. Yelon L.S. dan Weinstein, W.G., (1977), A Teacher's World Psychology in the Clasroom, McGraww-Hill International Book Company, Tokyo.
Copyright © 2014-2015 REFERENSI PENDIDIKAN Powered by Blogger - All Rights Reserved