REFERENSI PENDIDIKAN

Gen Virulen Bakteri hydrophila

http://ewintribengkulu.blogspot.com/2012/11/gen-virulen-bakteri-hydrophila.html

Patogenisitas Aeromonas spp. adalah multifaktorial dan kompleks (Mohhamad 2004), dan diduga melibatkan produk dari sejumlah gen yang berbeda bertindak baik sendiri atau saling berkorelasi (Galindo et al., 2006 & Sha et al., 2009). Aerolysin adalah racun hemolitik dikodekan oleh gen aerolysin yang memainkan peran kunci dalam patogenesis dari A.hydrophila infeksi pada ikan (Vijal et al., , 2008). Toksin ini mempunyai sifat ekstraseluler larut, protein hidrofilik menunjukkan baik hemolitik dan sifat cytolytic. Aerolysin mengikat reseptor glikoprotein yang spesifik pada permukaan eukariotiksel sebelum memasukkan ke dalam lapisan ganda lipid danmembentuk lubang (Uma 2010).

A.hydrophila dikenal dengan bakteri patogen pada biota pertairan. Munro (1982) menyatakan bahwa sifat patogen yang dimiliki A. hydrophila diduga karena memproduksi faktor-faktor eksotoksin yang penting dalam patogenisitas terhadap penyakit. Aeromonas spp. menghasilkan beberapa enterotoksin, termasuk cytotonic dan cytotoxic. Sampai saat ini, dua enterotoxin cytotonic telah diidentifikasi dalam isolat Aeromonas, yaitu heat-labile (alt) dan heat-stable (ast). Kedua toksin ini tidak dapat didegenerasi di dalam usus (Chopra, 2009). Cytotonic enterotoxin heat-labile (alt) dari A. hydrophila SSU aktif ketika diuji dalam tes in vivo dan in vitro, toksin ini dapat menyebabkan penurunan respon sekresi cairan hewan inangnya (Chopra, 1996). Mekanisme beberapa racun, seperti heat-stable (ast) dan heat-labile (alt) belum banyak diketahui, namun tindakan keduanya sangat mirip (Chopra & Houston, 1999;. Galindo et al., 2006).

Cytotoxic enterotoxin (act) diketahui memiliki aktivitas biologis, termasukhemolisis, sitotoksisitas, enterotoxicity, dan mematikan pada tikus ketika disuntikkan intravena (Chopra dan Houston, 1999). Fungsi dari racun ini, studi berikutnya mengungkapkan bahwa act bisa untuk mengatur ekspresi gen penyandi dari faktor tumor nekrosis pada sel. Cytotoxic enterotoxin (act) memainkan peran penting dalam patogenesis infeksi Aeromonas karena kemampuannya untuk menginduksi infiltrasi makrofag dan sel ephitel lainnya di tempat infeksi (Chopra, 2000). Mekanisme aksi act melibatkan pembentukan lubang 1,14-2,8 nm dalam sel inang, hal ini memungkinkan masuknya air dari lingkungan eksternal pembengkakan sel sehingga dapat melisiskan sel inang (Ferguson, 1997).

Seperti halnya aerolysin, enterotoksin sitotoksik (act) secara struktural dan fungsional terkait dengan proses hemolisin yang disekresikan melalui sistem tipe sekresi II (T2SS). Hal ini, telah terbukti memperlihatkan adanya aktivitas sitotoksik, enterotoksik dan hemolitik (Chopra, 2008;. Galindo et al., 2006). Baik enterotoksin sitotoksik (act) ataupun aerolysin, keduanya bertindak dalam pembentukan lubang-lubang pada sel eukariotik. Meskipun memiliki meknisme yang sama, kedunya memiliki protein reseftor yang berbeda (Galindo et al., 2006).

Refrensi:
  1. Galindo, C. L., J. Sha, A.A. Fadl, L. Pillai, & A.K. Chopra. 2006. Host Immune Responses to Aeromonas Virulence Factors. Current Immunology Reviews. 2.13-26.
  2. Chopra, A. K., X. Xu, D. Ribardo, M. Gonzalez, K. Kuhl, J. W. Peterson, & C. W. Houston. 2000. The cytotoxic enterotoxin of Aeromonas hydrophila induces proinflammatory cytokine production and activates arachidonic acid metabolism in macrophages. Infect Immun 68:2808-2818.
  3. Ferguson, M. R., X. J. Xu, C. W. Houston, J. W. Peterson, D. H. Coppenhaver, V. L. Popov, & A. K. Chopra. 1997. Hyperproduction, purification, and mechanism of action of the cytotoxic enterotoxin produced by Aeromonas hydrophila. Infect Immun 65:4299- 4308.
Copyright © 2014-2015 REFERENSI PENDIDIKAN Powered by Blogger - All Rights Reserved