REFERENSI PENDIDIKAN

Hubungan Keragaman genetik A. hydrophila dan Tingkat Patogenisitas

http://ewintribengkulu.blogspot.com/2012/11/hubungan-keragaman-genetik-hydrophila-dan-tingkat-patogenisitas.html

Keragaman genetik yang dimiliki bakteri A. hydrophila cukup tinggi. Beberapa penelitian tentang keragaman gen-gen faktor virulen pada bakteri A. hydrophila cukup banyak dan sering dihubungkan dengan tingkat patogenisitasnya. Penelitian tentang hubungan kehadiran gen virulen dengan tingkat patogenisitas sudah banyak dilakukan di berbagai negara. Di China, Li et al., (2010) meneliti tentang hubungan tiga kehadiran gen virulen alt, ahp dan aerA pada bakteri A.hydrophila dan dihubungkan dengan tingkat patogenisitas pada ikan zebra. Hasil penelitiannya menyebutkan dari 83 isolat yang diambil dari 40 isolat dari gejala klinis 22 isolat dari ikan sehat dan 21 isolat dari air terbagi kedalam tujuh katagori. Bakteri dengan ketersediaan gen virulen lebih banyak dengan karakter genetik (aerA+, alt+, ahp+) banyak ditemukan pada isolat yang berasal dari gejala klinis yaitu sebanyak 34 isolat. Kemudian, dari dipilih 26 isolat yang dipilih secara random dengan karakter genetik lima isolat dari (aerA+, alt+, ahp+) , lima isolat dari (aerA+, alt+, ahp-), lima isolat dari (aerA+, alt -, ahp+), empat isolat dari (aerA-, alt+, ahp+), tiga isolat dari (aerA-, alt -, ahp+) dua isolat dari (aerA+, alt -, ahp-), dan dua isolat dari (aerA-, alt -, ahp-). Kemudian diuji tingkat patogenisitas dengan pengukuran nilai LD 50 pada ikan zebra. Delapan isolat dikategorikan sebagai virulen karena memiliki tingkat LD 50 konsentrasi 1 x 103 - 1 x 106. dan 18 isolat yang lainnya avirulen karena memiliki nilai LD 50 lebih dari 1 x 106 pada ikan ikan zebra. Dari kedelapan yang dikategorikan virulen memiliki 4 isolat memiliki karakter gonotip (aerA+, alt+, ahp+) dengan tingkat patogenisitas yang paling tinggi memiliki karakter yang sama. Sedangkan empat isolat yang lainnya yang dikategorikan virulen memiliki karakteri genetik minimal dua gen virulen.
Di Mesir, El-Brbary et al., (2010) juga melakukan penelitian hal yang serupa dengan mendeteksi satu gen virulen yaitu ast (heat-stabile temperatre). Hasil penelitiannya adalah dari 20 isolat A.hydrophila 90 % isolat memiliki gen ast, kemudian ke 18 isolat yang terdeteksi mempnyai gen ast, di lakukan pengujian tingkat patogenisitasnya dengan konsentrasi penyuntikkan konsentrasi 1 x 104 CFU/ikan pada ikan Nila (Nila tilapia). Hasilnya adalah 2 isolat memiliki tingkat patogenisitas (++) karena ikan mati 100 % dalam 48 jam dan 4 isolat memiliki tingkat patogenisitas (+) karena > 50 % ikan mati dalam 7 hari, serta 12 isolat yang lainnya memiliki tingkat patogenisitas (-) atau avirulen karena < 50 % mati dalam 7 hari

Di Brazil, Figueredo et al., (2010) melakukan penelitian hal yang serupa dengan mendeteksi dua gen faktor virulen yait gen aopB dan ascV. Hasil penelitiannnya adalah dari 104 isolat A. hydrophila terbagi ke dalam 3 kategori yaitu 53 isolat mempunyai karakter (aopB+ ascV+), 4 isolat mempunyai karakter (aopB- ascV+), dan 47 isolat mempunyai karakter (aopB- ascV-). Bakteri tersebut diambil secara random untuk di uji patogenisitasnya pada ikan nila dengan konsentrasi 106 CFU/ikan. Hasilnya adalah isolat A. hydrophila yang diambil dari gejala klinis dengan mempunyai karakter (aopB+ ascV+) merupakan isolat yang paling banyak menimbulkan kematian pada ikan nila.

Dari beberapa penelitian yang sudah dipaparkan diatas, dapat disimpulkan bahwa adanya hubungan tingkat patogenisitas dengan ketersedian gen faktor virulen. Hasil penelitiannya rata-rata menyimpulkan bahwa semakin lengkap ketersedian gen virulen maka semakin tinggi tingkat patogenisitasnya dibanding dengan yang tidak. Beberapa penelitian menyebutkan bahwa kehadiran gen faktor virulen tertentu dapat digunakan sebagai pendekatan untuk mengidentifikasi potensi patogen dari bakteri A. hydrophila. Menurut Heuzenroeder, Wong & Flower (1999) gen aerA+ dan hlyA+ dapat digunakan sebagai pendekatan untuk mengidentifikasi potensi patogen dari bakteri Aeromonas. Sementara itu, kehadiran gen aerA-ahp memberikan prediksi terbaik untuk tingkat patogenisitas A. hydrophila (Daling et al., 2007). Sedangkan menurut Chopra (2009) gen act, alt dan ast pada A. hydrophila sangat berpengaruh tingkat keparahan penyakit.

Refrensi:
  1. Li, J., Ni, X.D. Liu, Y.J. & LU, C.P. 2010. Detection of three virulence genes alt, ahp and aerA in Aeromonas hydrophila and their relationship with actual virulence to zebrafish. Journal of Applied Microbiology ISSN 1364-5072 a 2011
  2. Wang G, Clark CG, Liu C, Pucknell C, Munro CK, Kruk TM, Caldeira R, Woodward DL, Rodgers FG (2003) Detection and characterization of the hemolysin genes in Aeromonas hydrophila and Aeromonas sobria by multiplex PCR. J Clin Microbiol
  3. Daling, Z., Aihua, LI, Jianguo, W., Ming, LI., Taozhen, CAI., & Jing HU. 2007. Correlation between the distribution pattern of virulence genes and virulence of Aeromonas hydrophila strains. Front. Biol. China 2007, 2(2): 176.–179 DOI 10.1007/s11515-007-0024-4
  4. El-Barbary, M. I. 2010. Some clinical, microbiological and molecular characteristics of Aeromonas hydrophila isolated from various naturally infected fishes. Aquacult Int (2010) 18:943–954 DOI 10.1007/s10499-009-9315-x
  5. Figueredo, H. C. P., Carvalho-Castro, G. A., Lopes C.O., Leal A.A.G., Gardoso, P.G., & Leite, R. C. 2010. Detection of type III secretion system genes in Aeromonas hydrophila and their relationship with virulence in Nile tilapia. Veterinary Microbiology 144 (2010) 371–376
Copyright © 2014-2015 REFERENSI PENDIDIKAN Powered by Blogger - All Rights Reserved