Jenis-jenis Landasan Pendidikan

Asumsi-asumsi yang menjadi titik tolak pendidikan berasal dari berbagai sumber. Asumsi-asumsi tersebut dapat bersumber dari agama, filsafat, ilmu, dan hukum atau yuridis. Berdasarkan sumbernya jenis landasan pendidikan dapat diidentifikasi dan dikelompokkan menjadi: 1) landasan religius pendidikan, 2) landasan filosofis pendidikan, 3) landasan ilmiah pendidikan, dan 4) landasan hukum/yuridis pendidikan.

Landasan Religius Pendidikan. Landasan religius pendidikan adalah asumsiasumsi yang bersumber dari ajaran agama yang dijadikan titik tolak pendidikan. Contoh: “Carilah ilmu sejak dari buaian hingga masuk liang lahat”; “Menuntut ilmu adalah fardlu bagi setiap muslim”. Implikasinya, bagi setiap muslim bahwa belajar atau melaksanakan pendidikan sepanjang hayat merupakan suatu kewajiban. Silakan Anda cari contoh asumsi-asumsi yang lainnya yang bersumber dari ajaran agama yang Anda anut.

Landasan Filosofis Pendidikan. Landasan filosofis pendidikan adalah asumsiasumsi yang bersumber dari filsafat yang dijadikaan titik tolak pendidikan. Ada berbagai aliran filsafat, antara lain: Idealisme, Realisme, Pragmatisme, Pancasila, dsb. Landasan filosofis pendidikan tidaklah satu melainkan ragam sebagaimana ragamnya aliran filsafat. Sebab itu, dikenal adanya landasan filosofis pendidikan Idealisme, landasan filsofis pendidikan Pragmatisme, dsb. Contoh: Penganut Realisme antara lain berpendapat bahwa ”pengetahuan yang benar diperoleh manusia melalui pengalaman atau penginderaan”. Implikasinya, penganut Realisme mengutamakan metode mengajar yang memberikan kesempatan kepada para siswa untuk memperoleh pengetahuan melalui pengalaman langsung (misal: melalui observasi, praktikum, dsb.) atau melalui pengalaman tidak langsung (misal: melalui membaca laporan-laporan hasil penelitian,dsb).

Selain tersajikan berdasarkan aliran-alirannya, landasan filosofis pendidikan dapat pula disajikan berdasarkan tema-tema tertentu. Misalnya dalam tema: “Manusia sebagai Animal Educandum” (M.J. Langeveld, 1980), Man and Education” (Frost, Jr., 1957), dll.

Landasan Ilmiah Pendidikan. Landasan ilmiah pendidikan adalah asumsiasumsi yang bersumber dari disiplin ilmu tertentu yang dijadikan titik tolak pendidikan. Sebagaimana Anda ketahui terdapat berbagai disiplin ilmu, seperti: psikologi, sosiologi, ekonomi, antropologi, sejarah, dsb. Sebab itu, ada berbagai jenis landasan ilmiah pendidikan, antara lain: landasan psikologi pendidikan, landasan sosiologi pendidikan, landasan antropologi pendidikan, landasan histori pendidikan, dsb.
  1. Landasan psikologi pendidikan adalah asumsi-asumsi yang bersumber dari kaidahkaidah psikologi yang dijadikan titik tolak pendidikan. Contoh: “Setiap individu mengalami perkembangan secara bertahap, dan pada setiap tahap perkembangannya setiap individu memiliki tugas-tugas perkembangan yang harus diselesaikannya”. Implikasinya, pendidikan mesti dilaksanakan secara bertahap; tujuan dan isi pendidikan mesti disesuaikan dengan tahapan dan tugas perkembangan peserta didik.
  2. Landasan sosiologi pendidikan adalah asumsi-asumsi yang bersumber dari kaidahkaidah sosiologi yang dijadikan titik tolak pendidikan. Contoh: “Di dalam masyarakat yang menganut stratifikasi sosial terbuka, terdapat peluang besar untuk terjadinya mobilitas sosial. Adapun faktor yang memungkinkan terjadinya mobilitas sosial itu antara lain bakat dan pendidikan”. Implikasinya, para orang tua rela berkorban membiayai pendidikan anak-anaknya (dengan menyisihkan kebutuhan hidup sekunder lainnya) agar kedudukan status sosial anak mereka dapat naik dalam tingkatan anak tangga sosialnya.
  3. Landasan antropologi pendidikan adalah asumsi-asumsi yang bersumber dari kaidah-kaidah antropologi yang dijadikan titik tolak pendidikan. Contoh: perbedaan kebudayaan masyarakat di berbagai daerah (misalnya: sistem mata pencaharian, bahasa, kesenian, dsb) mengimplikasikan perlu diberlakukannya kurikulum muatan lokal.
  4. Landasan ekonomi pendidikan adalah asumsi-asumsi yang bersumber dari kaidahkaidah ekonomi yang dijadikan titik tolak pendidikan. Contoh: “Kalkulasi ekonomi selalu berkenaan dengan modal, produksi, distribusi, persaingan, untung atau laba dan rugi”. Implikasinya, pendidikan dipandang sebagai penanaman modal pada diri manusia (human investment) untuk mempertinggi mutu tenaga kerja sehingga dapat meningkatkan produksi. Selain itu, pemilihan sekolah atau jurusan oleh seseorang akan ditentukan dengan mempertimbangkan kemampuan biaya/modal yang dimilikinya, prospek pekerjaan serta gaji yang mungkin diperolehnya setelah lulus dan bekerja. Jika sekolah ingin laku (banyak memperoleh siswa), maka harus mempunyai daya saing tinggi dalam hal prestasi.
  5. Landasan biologi pendidikan adalah asumsi-asumsi yang bersumber dari kaidahkaidah biologi yang dijadikan titik tolak pendidikan. Contoh: “Dibanding dengan khewan, manusia memiliki otak yang lebih besar sehingga ia mampu berpikir”. Implikasinya, manusia memungkinkan untuk dididik.
  6. Landasan politik pendidikan adalah asumsi-asumsi yang bersumber dari kaidahkaidah politik yang dijadikan titik tolak pendidikan. Contoh: Pemerintahan otokrasi mengimplikasikan manajemen pendidikan yang sentralistik.
  7. Landasan histori pendidikan adalah asumsi-asumsi pendidikan yang bersumber dari konsep dan praktek pendidikan masa lampau (sejarah) yang menjadi titik tolak perkembangan pendidikan masa kini dan masa datang. Contoh: Semboyan “tut wuri handayani” sebagai salah satu peranan yang harus dilaksanakan oleh para pendidik, dan dijadikan semboyan pada logo Kementerian Pendidikan Nasional, adalah semboyan dari Ki Hadjar Dewantara (Pendiri Perguruan Nasional Taman Siswa pada tgl 3 Juli 1922 di Yogyakarta) yang disetujui hingga masa kini dan untuk masa datang karena dinilai berharga.
  8. Landasan fisiologi pendidikan adalah asumsi-asumsi pendidikan yang bersumber dari kaidah-kaidah fisiologi tentang manusia yang dijadikan titik tolak pendidikan. Contoh: “kematangan organ-organ tubuh seperti fungsi otak, susunan syaraf, alat dria, otot-otot, dsb. mendahului perkembangan kemampuan berpikir sebagai fungsi jiwa. Implikasinya, isi pendidikan harus disesuaikan dengan masa peka, yaitu masa kematangan organ-organ tubuh untuk dapat menerima pengaruh-pengaruh dari luar secara efektif dalam meningkatkan kemampuan-kemampuan berpikir sebagai fungsi kejiwaan.
Landasan Hukum/Yuridis Pendidikan. Landasan hukum/yuridis pendidikan adalah asumsi-asumsi yang bersumber dari peraturan perundangan yang berlaku, yang dijadikan titik tolak dalam pendidikan. Contoh: Di dalam UU RI No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional dinyatakan: “Setiap warga negara yang berusia tujuh sampai dengan lima belas tahun wajib mengikuti pendidikan dasar” (Pasal 6); “Setiap warga Negara yang berusia 6 tahun dapat mengikuti program wajib belajar” (Pasal 34). Implikasinya, Kepala Sekolah Dasar atau panitia penerimaan siswa baru di SD harus memprioritaskan anak-anak (pendaftar) berusia tujuh tahun untuk diterima sebagai siswa daripada anak-anak yang baru mencapai usia enam tahun. Karena itu, panitia penerimaan siswa baru perlu menyusun daftar urut anak (pendaftar) berdasarkan usianya, baru menetapkan batas nomor urut pendaftar yang akan diterima sesuai kapasitas yang dimiliki sekolah.

Upaya mengidentifikasi dan mengelompokkan jenis-jenis landasan pendidikan, di samping dapat dilakukan berdasarkan sumbernya (sebagaimana telah Anda pahami dari uraian di atas), dapat pula dilakukan berdasarkan sifat isi dari asumsi-asumsinya. Berdasarkan sifat isi asumsi-asumsinya, landasan pendidikan dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu: 1) landasan deskriptif pendidikan dan 2) landasan preskriptif pendidikan.
  1. Landasan deskriptif pendidikan adalah asumsi-asumsi tentang kehidupan manusia sebagai sasaran pendidikan apa adanya (Dasein) yang dijadikan titik tolak dalam rangka pendidikan. Landasan deskriptif pendidikan umumnya bersumber dari hasil riset ilmiah dalam berbagai disiplin ilmu. Sebab itu, landasan deskriptif pendidikan disebut juga landasan ilmiah pendidikan atau landasan faktual pendidikan. Landasan deskriptif pendidikan antara lain meliputi: landasan psikologi pendidikan, landasan biologi pendidikan, landasan sosiologi pendidikan, landasan antropologi pendidikan, dsb.
  2. Adapun landasan preskriptif pendidikan adalah asumsi-asumsi tentang kehidupan manusia yang ideal/diharapkan/dicita-citakan (Das Sollen) yang disarankan menjadi titik tolak studi pendidikan dan/atau praktik pendidikan. Landasan preskriptif pendidikan antara lain meliputi: landasan filosofis pendidikan, landasan religius pendidikan, dan landasan yuridis pendidikan.
Refrensi:
  1. Tatang Sy. File 2010
  2. Langeveld, M.J., (1980), Beknopte Theoritische Paedagogiek, (Terj.:Simajuntak), Jemmars, Bandung.
  3. Frost Jr., S.E., (1957), Basic Teaching of.The. Great Philosophers, Barnes & Nobles, New York.
  4. Muchtar, O, (Penyunting), (1991), Dasar-Dasar Kependidikan, IKIP Bandung.