REFERENSI PENDIDIKAN

Jenis-Jenis Pendekatan dalam Ilmu Poltik

http://ewintribengkulu.blogspot.com/2012/11/jenis-jenis-pendekatan-dalam-ilmu-poltik.html

Pendekatan dalam ilmu politik merupakan suatu cara atau sudut pandang yang digunakan oleh para ilmuwan politik dalam menelaah politik itu sendiri. Pendekatan-pendekatan yang digunakan akan menimbulkan berbagai implikasi terhadap metode-metode yang digunakan pengkajian ilmu politik sendiri. Tak jarang  terdapat pertentangan antara pendekatan yang satu dengan pendekatan lainnya, hal  ini disebabkan oleh karena keanekaragaman pemikiran manusia itu sendiri. Namun demikian, ada pula pendekatan yang  satu  menyokong  atau melengkapi pendekatan sebelumnya.

Dari  sejarah perkembangan ilmu politik telah bermunculan berbagai pendekatan yang dipergunakan dalam kajian politik, hal dilakukan dalam rangka menyempurnakan kedudukan ilmu politik displin ilmu yang mempunyai dasar, kerangka, obyek serta ruang  lingkup yang jelas. Pendekatan-pendekatan tersebut adalah sebagai berikut:

a. Pendekatan tradisional

Pendekatan tradisional mengutamakan analisis normatif yang bersumber pada  logika. Pendekatan ini merupakan pendekatan yang pertama kali digunakan dalam kajian politik. Hal mana apabila kita  analisa  metode dan teknik penelaahan politik yang dilakukan oleh Plato sebenarnya merupakan penggunaan pendekatan ini. Karena pendekatan ini merupakan  pendekatan yang pertama kali muncul dalam kajian  ilmu  politik, oleh karena itu pendekatan ini dinamakan pendekatan tradisionil.

Esensi dari pendekatan ini adalah meletakkan nilai-nilai asasi manusia dalam konteks kajian politik melalui hasil renungan, bukan didasari oleh kenyataan-kenyataan yang ada. Beberapa pelopor pendekatan ini seperti  Eric Voegelin, Leo Strauss, John Hallowell berpendapat bahwa politik tidak dapat terlepas dari  nilai dan pandangan  hidup, seperti negara yang adil, sistem politik yang paling baik, masyarakat yang dituju, dan sebagainya.

Ciri-ciri dari pendekatan  tradisonil  adalah sebagai berikut :
  1. pendekatan didasarkan atas aspek nilai,  
  2. bersifat filosofis, menerangkan apa yang baik/buruk atau nilai-nilai esensial,  
  3. bersifat ilmu terapan, yakni langsung dapat dipergunakan oleh aktor-aktor politik, seperti negara  yang dianggap baik apabila memiliki raja yang jujur, adil, dan sebagainya. Hal ini tentu dapat diperaktekan langsung dalam  kehidupan kenegaraan, 
  4. bersifat historis-yuridis, ini berarti lebih  mementingkan pada nilai-nilai sejarah dan dokumen-dokumen yang memiliki kekuatan hukum, sedangkan yang terakhir adalah bersifat kualitatif, Ini berarti tidak didasarkan oleh  fakta-fakta dalam bentuk angka-angka tertentu
b. Pendekatan Behavioral

Pendekatan ini timbul sesudah Perang Dunia II terutama sekitar tahun lima puluhan, merupakan gerakkan yang berusaha memperbaharuhi pendekatan sebelumnya (pendekatan tradisonal) yang dianggap tidak mampu mengungkapkan berbagai fenomena-fenomena politik secara obyektif. Pendekatan ini lebih menitikberatkan kenyataan dan fakta sebagai obyek yang perlu dipelajari. Esensi dari kaum Behavior  adalah  keyakinan bahwa  ilmu politik harus bergerak menuju sebuah disiplin ilmu pengetahuan yang ilmiah. Kaum  Behavior  menjadikan tindakan dan perilaku  individu atau kelompok sebagai obyek penelitiannya.

Aliran behavior, a.l. David Hume, berpendapat bahwa fakta dan nilai adalah dua hal yang berbeda. Ia berpendapat bahwa tidak saja fakta dan nilai harus terpisah, tetapi bahwa nilai juga tidak mempunyai tempat dalam analisis politik. Menurut pengamatan kaum Behavior, penelitian politik harus dapat menciptakan teori yang dapat menjelaskan  perilaku  manusia yang diamati dan bukan semata-mata  produk logis pikiran seseorang.

Pendekatan Behavioral telah  memberikan  sumbangan yang  teramat  besar  bagi eksistensi  ilmu politik sebagai displin ilmu pengetahuan yang berdiri sendiri. Sumbangan dari pendekatan ini antara lain:memberikan kesempatan untuk mempelajari kegiatan dan susunan politik diberbagai negara yang berbeda sejarah perkembangannya, latar belakang kebudayaan dan ideologi dengan mempelajari mekanisme dalam menjalankan  fungsi-fungsi  tertentu. Pendekatan  ini telah membantu bagi  perkembangan studi perbandingan politik. Konsep-konsep pokok kaum Behavior menurut David Easton, dikutip A.Hoogerwerf dalam buku Politikologi, adalah sebagai berikut:
  1. Keteraturan. Ini  berarti  bahwa  kelakuan  politik  menunjukkan keteraturan yang nyata, yang dapat dirumuskan dalam gegeralisasi atau teori-teori dengan suatu nilai dan meramalkan.
  2. Verifikasi. Pengertian ini mengandung makna berlakunya generalisasi pada prinsipnya harus dapat  diuji dengan menunjukkan kepada kelakuan.
  3. Teknik. Hal ini  berarti bahwa untuk mengumpulkan dan menginterprestasi keterangan-keterangan  diperlukan teknik-teknik penelitian yang cermat.
  4. Kwantitatif. Untuk kecermatan penelitian maka dibutuhkan pengukuran dan penentuan kwantitas.
  5. Nilai. Penilaian etis dan empiris adalah dua hal yang berbeda. Seorang ahli politik harus memilih  salah satunya, asalkan keduanya tidak dicampurbaurkan.
  6. Sistematis. Penelitian harus sistematis dan oleh karena itu berhubungan erat dengan pembentukan teori.
  7. Ilmu Murni. Penerapan pengetahuan adalah bagian dari ilmu pengetahuan
  8. Integrasi.Penelitian ilmu politik harus terbuka bagi hasil-hasil dari ilmu pengetahuan sosial lainnya. 
c.Pendekatan Relativisme Nilai Ilmiah

Sekarang anda diperkenalkan dengan pendekatan ilmu politik yang ketiga, yaitu pendekatan relativisme nilai ilmiah. Pendekatan  ini  merupakan suatu usaha untuk mengatasi pertentangan antara kaum Tradisonal dan kaum Behavioral. Menurut Arnold  Brecht (1958) dalam Political Theory berpendapat bahwa penting menempatkan kembali tujuan-tujuan dan nilai-nilai sebagaimana  pada  masa yang lampau dalam pusat teroi politik akan tetapi lain dari pada  abad-abad  terdahulu, pembahasannya harus dilakukan dengan sarana-sarana ilmiah. Inti ajaran Brecht secara ringkas dapat digambarkan sebagai berikut:
  1. Sesuatu dianggap ilmiah apabila mempunyai tujuan yang bermangfaat, kebermanfaatan tersebut merujuk pada nilai-nilai yang dimiliki  untuk  memperoleh tujuan tersebut.
  2. Sesuatu dianggap ilmiah apabila hal tersebut dianggap berharga, keberhagan itu didasarkan oleh suatu pendapat atau pandangan dari seseorang atau sekelompok orang.
  3. Dalam perkembangannya, pendekatan ini tidak lebih terkenal dari pada pendekatan-pendekatan lainnya,  hal mana disebabkan oleh terbatasanya dukungan para sarjana politik terhadap pendekatan ini. Namun demikian menurut penulis, pendekatan ini dapat dijadikan sebagai pelopor atau malahan dapat dikatakan sebagai peletak dasar bagi pendekatan postbehavioral.
d. Pendekatan Postbehavioral 

Terakhir anda akan diperkenalkan dengan pendekatan yang mencoba merekatkan ketiga teori di atas, yaitu dengan pendekatan postbehavioral. Setelah  lahirnya pendekatan relativisme nilai ilmiah, menjelang akhir tahun enam puluhan timbul suatu pendekatan baru yang juga menjembatani perbedaan pendapat antara kaum Tradisional dan kaum Behavioral, yaitu pendekatan postbehavioral.

Aliran postbehavioral pada intinya berpendapat bahwa penelitian ilmiah oleh kaum Behavioral telah menghasilkan penelitian yang berharga, tetapi  hasil penelitiannya dapat menimbulkan dampak negatif  karena selain mengesampingkan nilai juga hasil hanya memusatkan perhatian pada topik yang berulang. Sebagai contoh, seorang sarjana  politik yang yang meneliti teknik dan cara pelaksanaan kekuasaan yang efektif tentu akan mendapatkan hasil yang berharga bagi para pelaksana politik, namun bilamana penelitian ini  mengesampingkan nilai-nilai yang berlaku akan berdampak negatif terhadap masyarakat, sehingga  bukan tidak mungkin akan melahirkan suatu cara pelaksanaan kekuasaan yang sewenang-wenang.

Tujuh sifat karakter post behavioralisme dan menggambarkannya sebagai “the credo relevan” atau “ suatu penyulingan bayangan maksimal” (ditilation of maksimal maksimal image ),yaitu sebagai berikut :
Dalam penelitian politik, substansi atau isi pokok harus mendahului teknik-teknik .

  1. Ilmu politik masa kini seharusnya memberikan penekanan utamanya kepada perubahan sosial dan bukan kepada pemeliharaanya (social preservation) .
  2. Ilmu politik selama periode behavioral, secara penuh telah melepaskan dirinya dari realitas politik yang sifatnya masih kasar (brute realitis of politis).
  3. Kaum behavioratis telah memberikan penekanan yang begitu besar kepa paham-paham keilmiahan serta pendekatan yang bebas nilai, sehingga masalah “nilai” untuk tujuan-tujuan praktis tak pernah menjadi suatu bahan pertimbangan .
  4. Kaum post behavioralisme, Ingin mengingatkan parailmuanpolitik bahwa sebagai kaum intelektual mereka mempunyai tanggung jawab untuk melindungi peradaban nilai-nilai kemanusiaan .
  5. Kaum post behavioralisme meminta adanya ilmu yang mem punyai komitmen untuk bertindak (action science), untuk menggantikan ilmu yang bersifat kontemplatif .
  6. Politisasi dari semua profesi, dari semua asosiasi professional
Refrensi:

Darmawan, Cecep. 2012. SEJARAH, PENDEKATAN DAN BIDANG-BIDANG ILMU POLITIK (Makalah). Tidak diterbitkan
Copyright © 2014-2015 REFERENSI PENDIDIKAN Powered by Blogger - All Rights Reserved