REFERENSI PENDIDIKAN

Karakteristik Pelaku Bullying

http://ewintribengkulu.blogspot.com/2012/11/karakteristik-pelaku-bullying.html

Rigby (2002: 127) mengidentifikasi karakter fisik dan karakteristik mental dari pelaku bullying atau bully. Pelaku bullying merupakan agresor, provokator dan inisiator situasi bullying. Pelaku umumnya siswa yang memiliki fisik besar dan kuat, namun tidak jarang juga yang bertubuh kecil atau sedang namun memiliki dominasi psikologis yang besar dikalangan teman-temannya dikarenakan faktor status sosial atau kedudukan. Pelaku bullying biasanya mengincar anak yang berpenampilan secara fisik terlihat berbeda dari dirinya atau orang kebanyakan misalnya yang memiliki rambut alami yang mencolok, berkacamata, terlalu kurus, terlalu gemuk atau bahkan memiliki cacat fisik.

Terkait aspek behavioral dan perilaku, karakteristik perilaku bullying terangkum dari yang dinyatakan Batsche & Knof dan Olweus (Rigby 2002:137) yakni kurang empati (have a lack of emphaty and compassion), interpersonal skill buruk (poor interpersonal skill), tidak terampil dalam anger manajemen (have a trouble in anger management or anger solution), kendali diri lemah (have bad self control), kurang bertanggung jawab (refusal to accept responsibility for his/her behavior) dan memiliki pola perilaku agresif (have a greater than average impulsive aggressive behavior patters)

Duncan (Anesty, 2009: 58) dalam seminarnya yang bertema bully abuse: how children harm other child, mendukung pernyataan tersebut dengan menuliskan sejumlah karakteristik pelaku bullying dalam daftar ciri-ciri bully, yakni sebagai berikut:
  1. melakukan perilaku agresif berulang;
  2. berpikiran positif terhadap penggunaan kekerasan;
  3. kurang kasih sayang dalam suatu hubungan;
  4. mengalami kebingungan dalam diri;
  5. mengembangkan pola impulsif;
  6. menggantikan/menyalurkan kemarahan pada orang lain;
  7. beralih dari korban menjadi pelaku;
  8. dianggap lebih dominan oleh korban;
  9. agresif merasa tidak aman dan cemas;
  10. anti sosial dan terisolir;
  11. memiliki/memendam rasa kebencian dan frustasi;
  12. memiliki pandangan diri (self views) positif yang tidak realistis;
  13. tidak mampu menyesuaikan terhadap pengharapan baru/kurang jelas;
  14. menunjukkan ketidaknyamanan sosial dan kebingungan;
  15. seringkali tidak sadar dan tidak peduli terhadap rasa dendam korbannya;
  16. diasingkan dan terisolasi dari kehidupan sekolah dan teman sebaya;
  17. memandang sekolah sebagai sesuatu yang tidak bermakna;
  18. memiliki pola perilaku dan sejarah bertindak kejam terhadap binatang;
  19. memiliki pola perilaku pembuat onar;
  20. kurang toleransi terhadap frustrasi;
  21. suka membanggakan diri dan kurang memahami kebutuhan orang lain;
  22. kurang memiliki empati dan rasa iba;
  23. kebutuhan yang berlebihan akan kekuasan dan superioritas;
  24. kebutuhan yang berlebihan akan perhatian (haus perhatian);
  25. mengeksternalisasikan kesalahan;
  26. bermasalah dalam resolusi amarah (anger resolution);
  27. tidak toleran, berprasangka, dan membeda bedakan orang lain;
  28. humor yang tidak pantas, sarkastik, dan menyakitkan hati;
  29. melontarkan ejekan, olok-olok yang mencela, meremehkan dan menghina/mempermalukan;
  30. lebih memilih kelompok sosial yang tertutup;
  31. mengendalikan suatu perkumpulan sosial teman sebaya;
  32. kaku dan berpendirian keras (dogmatis);
  33. agresif secara seksual;
  34. kurang memiliki sensitivitas terhadap gender dan budaya;
  35. mengalami kekosongan atau kehampaan spiritual;
  36. seringkali berpikiran negatif dan irasional;
  37. menggunakan obat obatan terlarang;
  38. melakukan tindakan yang beresiko;
  39. sikap menantang dan merusak (destruktif);
  40. kurang memiliki ketabahan.
Terkait dengan karakteristik pelaku bullying yang menujukkan adanya keterampilan interpersonal pada pelaku bullying, hasil penelitian yang dilakukan Rigby, Cox dan Black (Rigby 2002:137) terhadap siswa-siswi sekolah menengah di Australia yang teridentifiakasi sebagai pelaku bullying, korban dan bukan keduanya, mengidentifikasikan bahwa pelaku bullying secara signifikan merupakan individu yang kurang kooperatif dibanding individu lainnya. 

Rigby Cox Black (Rigby 2002:1370) menyatakan bahwa.
‘bullies were, among other things, more likely than other to dislike being in join projects, to prefer not to share their ideas, to avoid consulting with others and to believe that committees are waste of time. It seems likely that for many of the bullies working constructively with others had not been a happy experience’.

Terdapat banyak alasan seseorang menjadi pelaku bullying, alasan yang paling jelas adalah bahwa pelaku bullying merasakan kepuasan apabila ia berkuasa dikalangan teman sebayanya. Tidak semua pelaku bullying melakukan aksinya sebagai kompensasi kepercayaan diri yang begitu tinggi sekaligus dorongan untuk selalu menindas dan menggencet anak yang lebih lemah. Hal ini dapat dikarenakan mereka tidak pernah dididik untuk memiliki empati terhadap orang lain. Pelaku bullying umumnya temperamental, menjadikan korban sebagai pelampiasan kekesalan dan kekecewaanya terhadap suatu hal. Ada juga pelaku bullying yang sekedar mengulangi apa yang pernah ia lihat dan alami sendiri.

Hal ini didukung oleh pernyataan Olweus (Anesty, 2009: 61) dalam OSDFS National technical assistance meeting yang mengemukakan fakta yang mengejutkan tentang kontradiksi dalam karakteristik pelaku bullying.

‘In contrast to the popular notion that bullies lack social skills research has shown that bullies are actually quite adept at reading social cues and perspective taking . rather than using these skills prosocially,, such as to emphatize with others, they instead use them to identify and prey on peer vulnerabilities’.

Di Indonesia, Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan Aini (2008:78) ditemukan beberapa karakteristik pelaku bullying yakni: 1) suka mendominasi orang lain; 2) suka memanfaatkan orang lain untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan; 3) Sulit melihat situasi dari sudut pandang orang lain; 4) Hanya peduli pada kebutuhan dan kesenangan mereka sendiri; 5) Cenderung melukai anak-anak lain ketika tidak ada orang dewasa disekitar mereka; 6) Memandang rekan yang lebih lemah sebagai mangsa; 7) Menggunakan kesalahan kritikan dan tuduhan tuduhan yang keliru untuk memproyeksikan ketidakcakapan mereka kepada targetnya; 8) Tidak mau bertanggung jawab atas tindakannya; 9) Tidak memiliki pandangan terhadap masa depan yaitu kemampuan memikirkan konsekuensi dari tindakan yang mereka lakukan; 10) Haus perhatian.

Refrensi:
  1. Rigby, Ken. (2002). New Perspectives on Bullying. Jesica Kingsley Publishers: London.
  2. Aini Nurul Rahma, (2008). Perilaku bullying di SMP (penelitian studi kasus pada kelas IX SMP FA Tahun Ajaran 2006/2007). Skripsi. Bandung: Tidak diterbitkan. Jurusan Psikologi Pendidikan dan Bimbingan. FIP UPI.
Copyright © 2014-2015 REFERENSI PENDIDIKAN Powered by Blogger - All Rights Reserved