Landasan Filosofis Pendidikan Realisme

a. Konsep Filsafat Umum

Terlebih dahulu perlu dikemukakan bahwa Realisme merupakan aliran filsafat yang luas dan bervariasi. Di satu pihak, Realisme meliputi materialisme; di lain pihak, Realisme juga meliputi pandangan yang mendekati kepada idealisme. Titus dkk., (1979) antara lain mengidentifikasi tiga jenis Realisme, yaitu Realisme Mekanis, Realisme Objektif, dan Realisme Pluralistik. Tampak bahwa Realisme cukup rumit untuk bisa dijelaskan secara ringkas dengan harapan mencakup semua jenis Realisme yang ada. Sehubungan dengan hal di atas, dalam rangka memahami filsafat pendidikan Realisme, uraian di bawah ini hanya akan menyajikan ide-ide umum filsuf Realisme sebagaimana telah diuraikan oleh Calahan and Clark dalam karyanya “Foundations of Education” (1983).

Metafisika: Hakikat Realitas. Jika filsuf Idealisme menekankan pikiran.jiwa/spirit/roh sebagai hakikat realitas, sebaliknya menurut para filsuf Realisme bahwa dunia terbuat dari sesuatu yang nyata, substansial dan material yang hadir dengan sendirinya (entity). Di dunia atau di alam tersebut terdapat hukum-hukum alam yang menentukan keteraturan dan keberadaan setiap yang hadir dengan sendirinya dari alam itu sendiri (Callahan and Clark, 1983). Realitas hakikatnya bersifat objektif, artinya bahwa realitas berdiri sendiri, tidak tergantung atau tidak bersandar kepada pikiran/jiwa/spirit/roh. Namun demikian, mereka tetap mengakui keterbukaan realitas terhadap pikiran untuk dapat mengetahuinya. Hanya saja realitas atau dunia itu bukan/berbeda dengan pikiran atau keinginan manusia.

Hakikat Manusia. Manusia adalah bagian dari alam, dan ia muncul di alam sebagai hasil puncak dari mata rantai evolusi yang terjadi di alam. Hakikat manusia didefinisikan sesuai dengan apa yang dapat dikerjakannya. Pikiran (jiwa) adalah suatu organisme yang sangat rumit yang mampu berpikir. Namun, sekalipun manusia mampu berpikir ia bisa bebas atau tidak bebas (Edward J. Power, 1982). Manusia dan masyarakat adalah bagian dari alam. Karena di alam semesta terdapat hukum alam yang mengatur dan mengorganisasikannya, maka untuk tetap survive dan bahagia tugas dan tujuan manusia adalah menyesuaikan diri terhadap hukum-hukum alam, masyarakatnya dan kebudayaannya.

Epistemologi: Hakikat Pengetahuan. Ketika lahir, jiwa atau pikiran manusia adalah kosong. Saat dilahirkan manusia tidak membawa pengetahuan atau ide-ide bawaan, John Locke mengibaratkan pikiran/jiwa manusia sebagai tabula rasa (meja lilin/kertas putih yang belum ditulisi). Pengetahuan diperoleh manusia bersumber dari pengalaman indra. Manusia dapat menggunakan pengetahuannya dalam berpikir untuk menemukan objek-objek serta hubungan-hubungannya yang tidak ia persepsi (Callahan and Clark, 1983). Mengingat realitas bersifat objektif, maka terdapat dualisme antara orang yang mengetahui dengan realitas yang diketahui. Implikasinya, para filsuf Realisme menganut “prinsip independensi” yang menyatakan bahwa pengetahuan manusia tentang realitas tidak dapat mengubah substansi atau esensi realitas.

Karena realitas bersifat material dan nyata, maka kebenaran pengetahuan diuji dalam kesesuaiannya dengan fakta di dalam dunia material atau pengalaman dria. Teori uji kebenaran ini dikenal sebagai Teori Korespondensi. Contoh: Apabila seseorang mengatakan bahwa rasa gula adalah manis, untuk mengetahui kebenaran pengetahuan /manusia adalah menyesuaikan diri terhadap hukum-hukum alam, masyarakatnya dan kebudayaannya. pernyataan tersebut harus diuji melalui pengalaman, misalnya dengan mencicipi gula. Jika dari pengalaman mencicipi gula ternyata gula itu rasanya manis, maka pengetahuan itu benar. Atas dasar prinsip independensi dan teori korespondensi, maka pengetahuan mungkin saja berubah. Apa yang dulu dinyatakan benar mungkin sat ini dinyatakan salah, atau mungkin pula sebaliknya sesuai dengan hasil pengalaman empiris yang didapat. Sebab itu, epistemologi demikian dikenal pula sebagai Empirisme atau Objektivisme.

Aksiologi: Hakikat Nilai. Karena manusia adalah bagian dari alam, maka ia pun harus tunduk kepada hukum-hukum alam, demikian pula masyarakat. Hal ini sebagaimana dikemukakan Edward J. Power (1982) bahwa: “Tingkah laku manusia diatur oleh hukum alam, dan pada tingkat yang lebih rendah diuji melalui konvensi atau kebiasaan, dan adat istiadat di dalam masyarakat”. “Nilai-nilai individual dapat diterima apabila sesuai dengan nilai-nilai umum masyarakatnya. Pendapat umum masyarakat merefleksikan status quo realitas masyarakat; dan karena realitas masyarakat merepresentasikan kebenaran yang adalah ke luar dari mereka sendiri, serta melebihi pikiran, maka hal itu berguna sebagai suatu standar untuk menguji validitas nilai-nilai individual” (Callahan and Clark, 1983).

b. Implikasi terhadap Pendidikan

Tujuan Pendidikan. Pendidikan pada dasarnya bertujuan agar para siswa dapat bertahan hidup di dunia yang bersifat alamiah, memperoleh keamanan dan hidup bahagia. Dengan jalan memberikan pengetahuan yang esensial kepada para siswa, maka mereka akan dapat bertahan hidup di dalam lingkungan alam dan sosialnya. Pengetahuan tersebut akan memberikan keterampilan-keterampilan yang penting untuk memperoleh keamanan dan hidup bahagia. Edward J. Power (1982) menyimpulkan pandangan para filsuf Realisme bahwa tujuan pendidikan Realisme adalah untuk ”penyesuaian diri dalam hidup dan mampu melaksanakan tanggung jawab sosial”.

Kurikulum Pendidikan. Kurikulum sebaiknya meliputi: (1) sains/IPA dan matematika, (2) Ilmu-ilmu kemanusiaan dan ilmu-ilmu sosial, serta (3) nilai-nilai.

Sains dan matematika sangat dipentingkan. Keberadaan sains dan matematika dipertimbangkan sebagai lingkup yang sangat penting dalam belajar. Sebab, pengetahuan tentang alam memungkinkan umat manusia untuk dapat menyesuaikan diri serta tumbuh dan berkembang dalam lingkungan alamnya. Ilmu kemanusiaan tidak seharusnya diabaikan, sebab ilmu kemanusiaan diperlukan setiap individu untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan sosialnya. Kurikulum hendaknya menekankan pengaruh lingkungan sosial terhadap kehidupan individu. Dengan mengetahui kekuatan yang menentukan kehidupan kita, kita berada dalam posisi untuk mengendalikan mereka (lingkugan sosial). Nilai-nilai dari objektifitas dan pengujian kritis yang bersifat ilmiah hendaknya ditekankan. Ketika mengajarkan nilai-nilai, sebaiknya tidak menggunakan satu metode yang normatif, tetapi menggunakan analisis kritis. Untuk mendorong kebiasaan-kebiasaan belajar yang diharapkan, ganjaran hendaknya diberikan ketika kebiasaan-kebiasaan yang diharapkan dicapai (Callahan and Clark, 1983).

Para filsuf Realisme percaya bahwa kurikulum yang baik diorganisasi menurut mata pelajaran dan berpusat pada materi pelajaran (subject matter centered). Materi pelajaran hendaknya diorganisasi menurut prinsip-prinsip psikologis tentang belajar, mengajarkan materi pelajaran hendaknya dimulai dari yang bersifat sederhana menuju yang lebih kompleks. Karena masyarakat dan alam (hukum-hukum alam) mempunyai peranan menentukan bagaimana seharusnya individu hidup untuk menyesuaikan diri dengannya, maka kurikulum direncanakan dan diorganisasikan oleh guru/orang dewasa (society centered). Adapun isi kurikulum (mata pelajaran-mata pelajaran) tersebut harus berisi pengetahuan dan nilai-nilai esensial agar siswa dapat menyesuaikan diri baik dengan lingkungan alam, masyarakat dan kebudayaannya. Sebab itu Callahan dan Clark (1983) menyatakan bahwa orientasi pendidikan Realisme memiliki kesamaan dengan orientasi pendidikan Idealisme, yaitu Essensialisme.

Metode Pendidikan. “Semua belajar tergantung pada pengalaman, baik pengalaman langsung maupun tidak langsung (seperti melalui membaca buku mengenai hasil pengalaman orang lain), kedua-duanya perlu disajikan kepada siswa. Metode penyajian hendaknya bersifat logis dan psikologis. Pembiasaan merupakan metode utama yang diterima oleh para filsuf Realisme yang merupakan penganut Behaviorisme” (Edward J. Power, 1982). Metode mengajar yang disarankan para filosof Realisme bersifat otoriter. Guru mewajibkan para siswa untuk dapat menghafal, menjelaskan, dan membandingkan fakta-fakta; mengiterpretasi hubungan-hubungan, dan mengambil kesimpulan makna-makna baru.

Evaluasi merupakan suatu aspek yang penting dalam mengajar. Guru harus mengunakan metode-metode objektif dengan mengevaluasi dan memberikan jenis-jenis tes yang memungkinkan untuk dapat mengukur secara tepat pemahaman para siswa tentang materi-materi yang dianggap esensial. Tes perlu sering dilakukan. Untuk tujuan memotivasi, para filsuf Realisme menekankan bahwa tes selalu penting bagi guru untuk memberikan ganjaran terhadap setiap siswa yang mencapai sukses. Ketika guru melaporkan prestasi para siswanya, ia menguatkan (reinforces) apa yang mesti dipelajari (Callahan and Clark, 1983).

Peranan Guru dan Siswa. Guru adalah pengelola kegiatan belajar-mengajar di dalam kelas (classroom is teacher-centered); guru adalah penentu materi pelajaran; guru harus menggunakan minat siswa yang berhubungan dengan mata pelajaran, dan membuat mata pelajaran sebagai sesuatu yang kongkrit untuk dialami siswa. Para siswa memperoleh disiplin melalui ganjaran dan prestasi, mengendalikan perhatian para siswa, dan membuat siswa aktif (Callahan and Clark, 1983). Dengan demikian guru harus berperan sebagai “penguasa pengetahuan; menguasai keterampilan teknik-teknik mengajar; dengan kewenangan membentuk prestasi siswa”. Adapun siswa berperan untuk “menguasai pengetahuan yang diandalkan; siswa harus taat pada aturan dan berdisiplin, sebab aturan yang baik sangat diperlukan untuk belajar, disiplin mental dan moral dibutuhkan untuk berbagai tingkatan keutamaan” (Edward J. Power, 1982).

Sebagaimana telah dikemukakan bahwa orientasi pendidikan Realisme memiliki kesamaan dengan orientasi pendidikan Idealisme, yaitu Essensialisme. Pendidikan Idealisme dan Realisme sama-sama menekankan pentingnya memberikan pengetahuan dan nilai-nilai esensial bagi para siswa. Namun demikian, karena kedua aliran tersebut memiliki perbedaan konsep mengenai filsafat umumnya (hakikat: realitas, pengetahuan, manusia,dan nilai-nilai) yang menjadi landasan bagi konsep pendidikannya, maka dapat dipahami pula jika kedua aliran itu tetap berbeda dalam hal tujuan pendidikannya, kurikulum pendidikannya, metode pendidikan, serta peranan guru dan peranan siswanya.

Refrensi Rujukan:
  1. Amien, A. M., (2005), Pendidikan dari Persfektif Sains Baru: Belajar Merajut realitas, Lembaga Penerbitan Unhas.
  2. Callahan J. F., Clark, L.H., (1983), Foundation of education, Macmillan Publishing Co. Inc., New York.
  3. Henderson, S. van P., Introduction to Philosophy of Education, The University of Chicago Press, Chicago.
  4. Kneller, G., (Ed.), (1971), Foundations of Education, John Wiley and Sons, New York.
  5. Noor, M., (Ed.), (1987), Filsafat dan Teori Pendidikan: Jilid I Filsafat Pendidikan, Sub Koordinator Mata kuliah filsafat dan Teori Pendidikan, Fakultas Ilmu Pendidikan, IKIP Bandung.
  6. Oesman O,. Alfian, (Penyunting) (1992), Pancasila sebagai Ideologi dalam Berbagai Bidang Kehidupan Bermasyarakat, Berbangsa dan Bernegara, BP 7 Pusat.
  7. Power, Edward, J., (1982), Philosophy of education: Studies in Philosophies, Schooling, and Educational Policies, Prentice-Hall, Inc., Englewood Clifs, New Jersey.
  8. Syaripudin, T. dan Kurniasih, (2008), Pengantar Filsafat Pendidikan, Bandung, Percikan Ilmu.
  9. Syam, M. N., (1984), Filsafat Pendidikan dan Dasar Filsafat Pendidikan Pancasila, Usaha Nasional, Surabaya.
  10. Suparno, P., (1997), Filsafat Konstrukstivisme dalam Pendidikan, Kanisius, Yogyakarta. 
  11. Titus, H.H., Living Issues in Philosophy, American Book Company, New York.
  12. Undang-Undang R.I. No. 20 Tahun 2003 Tentang “Sistem Pendidikan Nasional”.