REFERENSI PENDIDIKAN

Manusia Perlu Mendidik Diri

http://ewintribengkulu.blogspot.com/2012/11/manusia-perlu-mendidik-diri.html

Eksistensi manusia terpaut dengan masa lalunya sekaligus mengarah ke masa depan untuk mencapai tujuan hidupnya. Dengan demikian, manusia berada dalam perjalanan hidup, dalam  perkembangan dan pengembangan diri. Ia adalah manusia tetapi sekaligus "belum selesai" mewujudkan dirinya sebagai manusia. Ini adalah prinsip historisitas.

Bersamaan dengan hal di atas, dalam eksistensinya manusia mengemban tugas untuk menjadi manusia ideal. Sosok manusia ideal merupakan gambaran manusia yang dicita-citakan atau yang seharusnya. Sebab itu, sosok manusia ideal tersebut belum terwujudkan melainkan harus diupayakan untuk diwujudkan. Ini adalah prinsip idealitas.

Permasalahannya, bagaimana mungkin manusia dapat menjadi manusia? Untuk menjawab pertanyaan itu mari terlebih dahulu kita bandingkan sifat perkembangan khewan dan sifat perkembangan manusia. Perkembangan khewan bersifat terspesialisasi/tertutup. Contoh: kerbau lahir sebagai anak kerbau, selanjutnya ia hidup dan berkembang sesuai kodrat dan martabat ke-kerbau-annya (mengkerbau/menjadi kerbau). Pernahkan Anda menemukan anak kerbau yang berkembang menjadi serigala? Mustahil bukan? Sebaliknya, perkembangan manusia bersifat terbuka. Manusia memang telah dibekali berbagai potensi untuk mampu menjadi manusia, misalnya: potensi untuk beriman dan bertaqwa kepada Tuhan YME, potensi untuk dapat berbuat baik, potensi cipta, rasa, karsa, dsb. Namun demikian setelah kelahirannya, bahwa potensi itu mungkin terwujudkan, kurang terwujudkan atau tidak terwujudkan. Manusia mungkin berkembang sesuai kodrat dan martabat kemanusiaannya (menjadi manusia), sebaliknya mungkin pula ia berkembang ke arah yang kurang atau tidak sesuai dengan kodrat dan martabat kemanusiaannya (kurang/tidak menjadi manusia). Contoh: Dalam kehidupan sehari-hari, Anda pasti menemukan fenomena perilaku orang-orang yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhannya, orang-orang yang berperilaku sesuai dengan nilai dan norma budaya masyarakatnya, dsb. Di samping itu Anda pun menyaksikan orang-orang yang berperilaku kurang/tidak sesuai dengan perilaku manusia yang seharusnya, baik menurut nilai dan norma agama maupun budayanya. Perilaku koruptor bak tikus kantor bukan? Contoh lain dikemukakan Anne Rollet, ia melaporkan bahwa sampai tahun 1976 para etnolog telah mencatat 60 anak-anak buas yang hidup bersama dan dipelihara oleh binatang. Tidak diketahui bagaimana awal kejadiannya, yang jelas telah ditemukan bahwa diantara ke-60 anak tersebut ada yang dipelihara oleh serigala, kijang, kera, serigala, dsb. Anak-anak tersebut berperilaku tidak sebagaimana layaknya manusia, melainkan bertingkah laku sebagaimana binatang yang memeliharanya. Mereka tidak berpakaian, agresif untuk menyerang dan menggigit, tidak dapat tertawa, ada yang tidak dapat berjalan tegak, tidak berbahasa sebagaimana bahasanya manusia, dll. (Intisari, No.160 Tahun ke XIII, November 1976:81-86). Demikianlah, perkembangan kehidupan manusia bersifat terbuka atau serba mungkin. Inilah prinsip posibilitas/prinsip aktualitas.

Dari uraian di atas, dapat dipahami bahwa berbagai kemampuan yang seharusnya dilakukan manusia tidak di bawa sejak kelahirannya, melainkan harus diperoleh setelah kelahirannya dalam perkembangan menuju kedewasaannya. Di satu pihak, berbagai kemampuan tersebut diperoleh manusia melalui upaya bantuan dari pihak lain . Mungkin dalam bentuk pengasuhan, pengajaran, latihan, bimbingan, dan berbagai bentuk kegiatan lainnya yang dapat dirangkumkan dalam istilah pendidikan. Di lain pihak, manusia yang bersangkutan juga harus belajar atau harus mendidik diri. Mengapa manusia harus mendidik diri? Sebab, dalam bereksistensi yang harus menga-adakan/ menjadikan diri itu hakikatnya adalah manusia itu sendiri. Sebaik dan sekuat apa pun upaya yang diberikan pihak lain (pendidik) kepada seseorang (peserta didik) untuk membantunya menjadi manusia, tetapi apabila seseorang tersebut tidak mau mendidik diri, maka upaya bantuan tersebut tidak akan memberikan konstribusi bagi kemungkinan seseorang tadi untuk menjadi manusia. Lebih dari itu, jika sejak kelahirannya perkembangan dan pengembangan kehidupan manusia diserahkan kepada dirinya masing-masing tanpa dididik oleh orang lain dan tanpa upaya mendidik diri dari pihak manusia yang bersangkutan, kemungkinannya ia hanya akan hidup berdasarkan dorongan instingnya saja.

Manusia belum selesai menjadi manusia, ia dibebani keharusan untuk menjadi manusia, tetapi ia tidak dengan sendirinya menjadi manusia, untuk menjadi manusia ia perlu dididik dan perlu mendidik diri. "Manusia dapat menjadi manusia hanya melalui pendidikan", demikian kesimpulan Immanuel Kant dalam teori pendidikannya (Henderson, 1959). Pernyataan tersebut sejalan dengan hasil studi M.J. Langeveld yang memberikan identitas kepada manusia dengan sebutan Animal Educandum (M.J. Langeveld, 1980).

Berdasarkan uraian terdahulu dapat disimpulkan, bahwa manusia adalah makhluk yang perlu didik dan perlu mendidik diri. Terdapat tiga prinsip antropologis yang menjadi asumsi perlunya manusia mendapatkan pendidikan dan perlunya manusia mendidik diri,yaitu: (1) prinsip historisitas, (2) prinsip idealitas, dan (3) prinsip posibilitas/aktualitas.

Refrensi:
  1. Langeveld, M.J., (1980), Beknopte Theoritische Paedagogiek, (Terj.:Simajuntak), Jemmars, Bandung.
  2. Henderson, S. v. P., (1959), Introduction to Philosophy of Education, The University of Chicago Press, Chicago.
Copyright © 2014-2015 REFERENSI PENDIDIKAN Powered by Blogger - All Rights Reserved