REFERENSI PENDIDIKAN

Masyarakat Perkotaan Indonesia

http://ewintribengkulu.blogspot.com/2012/11/masyarakat-perkotaan-indonesia.html

Penduduk Indonesia yang menjadi penghuni kota memiliki struktur kelas yang amat ruwet - Masyarakat kota di Indonesia secara sederhana bisa dipilah menjadi dua variasi, yaitu berdasarkan struktur sosial dan berdasarkan kebudayaan atau kulturnya. Variasi struktur sosialnya mencakup jenis pekerjaan dan pendapatannya; sedangkan variasi kultumya mencakup dua ujung perbedaan, yaitu superkuitur metropolitan Indonesia, dan berbagai cara kehidupan tradisional. Kedua variasi kultur ini saling masuk memasuki dalam bentuk yang amat ruwet; adanya variasi-variasi ini menghasilkan suatu masyarakat perkotaan yang amat beragam.

Superkultur metropolitan Indonesia sampai saat ini masih dalam proses pembentukan, yang rata-rata baru berproses selama dua atau tiga generasi. Superkuitur merupakan serangkaian nilai dan gaya hidup yang terpadu; karena masyarakat perkotaan di Indonesia sebagian besar merupakan pendatang baru atau para pendatang generasi kedua, maka pada umumnya mereka masih menganut biculturai atau menganut kebudayaan-rangkap: Artinya, masyarakat perkotaan Indonesia masih tetap mempertahankan sejumlah aspek kebudayaan daerahl asalnya (unsur-unsur kedaerahan, primordialistik) terutama yangj berkaitan dengan nilai-nilai hubungan keluarga, agama, dan nilai-nilai kepercayaan lainnya.
Superkultur metropolitan Indonesia yang telah relatif mantap (maju) misalnya diekspresikan dalam kehidupan politik, gaya artistik, dan kebudayaan material. Tanda-tanda yang tampak yang menyatakan bahwa seseorang telah terlibat dalam super-kufrur misalnya kemampuan meraih pendidikan Universitas, kemampuan berbahasa asing, pernah ke luar negeri, dan memiliki niiai kebendaan dalam skala barat semisal mobil. DaJam setiap kebudayaan mesti ada segelintir individu yang memiiiki kesempatan untuk membangun kehidupan yang lebih tinggi atau lebih berkualitas, atau lebih elit Keberhasilan tersebut mungkin saja dalam bidang ekonomi (kekayaan), pendidikan (intelektual), atau bidang politik, Kelompok elit seperti inilah yang menjadi pendukung superkultur di perkotaan Indonesia, atau di metropolitan pada umumnya. Mereka ini antara lain pejabat tinggi pemerintahan, para tenaga. ahli, para pemimpin partai politik, para pervvira tinggi militer, dan para pengusaha besar. Jika status sosial seseorang atau kelompok orang mengalami penurunan, maka kebudayaan-rangkap akan lebih condong ke kebudayaan daerah asalnya; dan sebaliknya, semakin elit seseorang atau kelompok orang, maka kebudayaan-rangkapnya akan lebih condong ke kebudayaan metropolitan.

Di bawah lapisan elit perkotaan terdapat satu lapisan atau kelas menengah-kota, yangjumlahpopulasinya cenderung besar; mereka ini terdiri atas pegawai negeri menengah seperti tenaga kesehatan, guru-guru sekolah, perwira menengah, pengusaha menengah, dan sejenisnya. Kelas menengah ini terutama dilihat dari status sosial secara umum, dan dilihat dari aspek besarnya pendapatan karena pada kenyataannya kondisi kehidupan mereka rata-rata tergolong miskin. Secara umum pula kelas menengah ini lazim disebut kaum pegawai. Yang bisa digolongkan sebagai kelas menengah adalah kelompok buruh ahli, semisal tukang atau yang berketerampilan kerja khusus, yaitu tukang jahit, tukang besi, pedagang di kios-kios pasar, toko-toko kecil, dan keahlian yang relatif baru misalnya ahli listrik, pekerja jalan, montir mobil, dan benda-benda elektronik lainnya. Sebagian dari kelompok menengah ini umumnya para pendatang baru dari kota-kota kecil yang ada di sekitar metropolitan; sedagkan yang lainnya berasal dari keluarga-keluarga yang telah relatif lama berstatus warga metropolitan.

Ada sementara kelompok masyarakat perkotaan yang lebih khusus, tetapi masih bisa dimasukkan ke dalam kelas menengah, yaitu yang memiliki status pemberian dari zaman kolonial, mereka ini misalnya berasal dari etnik Manado, Ambon, dan kaum ningrat Jawa. Dapat dijumpai juga kelompok pedagang dari masyarakat Islam yang tinggal di jalur pantai utara pulau Jawa, Sumatra, Sulawesi, dan dari daerah pesisir Nusantara lainnya. Lepasnya kelompok atau kelas menengah dari kebudaya-an asal daerahnya tergantung pada tingkat keterikatan mereka kepada masyarakat dan kebudayaan dari mana mereka berasal dan sampai seberapa jauh terjadinya proses pembaharuan secara biologis antara mereka dengan kelompok etnik lainnya.

Lapisan masyarakat metropolitan yang nyaris tidak diketahui adalah kaum ploletar kota yang jumlah populasinya jauh lebih besar dari pada kedua lapisan terdahulu. Mereka ini adalah kaum buruh (kasar), pembantu nimah tangga, pedagang kaki-lima atau penjaja, dan bidang kerja informal lainnya. Kelompok lapisan bawah ini umumnya tidak memiliki keahlian kerja khusus, dan mungkin juga buta aksara atau buta pengetahuan dasar; populasi mereka akan terus membengkak dan memadati setiap sudut wilayah perkotaan yang menghadirkan sejumlah daerah kumuh (slum-areas) yang tersebar di berbagai sektor kota.

Kota propinsi dengan pola kehidupan masyarakatnya yang berfokkus pada dua kelompok yaitu (1) pemerintahan, dan (2) perdagangan; kedua kelembagaan ini keberadaannya saling menopang. Umumnya kedua kelompok masing-masing befada di lingkuhgan masyarakat yang berbeda dan sering bertempat tinggal di sektor kota yang berbeda juga. Di kota-kota yang berada di wilayah propinsi ini pada umumnya memiliki teknologi peralatan produksi yang masih sederhana (bersahaja); sedangkan kantor-kantor pemerintahan cukup banyak dengan jumlah pegawai yang relatif besar juga jumlahnya, hal ini bisa dipahami karena hams melayani penduduk dari daerah pedesaan yang luas dengan berbagai pelayanan administrasi yang kompleks pula.

Kelompok atau kelas pegawai di kota-kota kecil di wilayah propinsi ini dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu kelompok yang berkarakter lokal dan kelompok yang berkarakter metropolitan. Kelompok metropolitan lebih cenderung menganut superkultural dan telah banyak melepaskan kebudayaan daerahnya; mereka telah banyak pengalaman bekerja di kota-kota lain, oleh karena itu mereka lebih berorientasi ke luar dengan tingkat mobilitas geografis yang cukup tinggi. Tingkat mobilitas yang tinggi ini dikarenakan oieh tempat tinggal sanak keluarganya yang umumnya masih berada di kota-kota lain. Mereka juga ternyata berstatus sebagai pegavvai tinggi di daerah yang bersangkutan, oleh karenanya mereka kurang berinteraksi dengan masyarakat pedesaan yang agraris itu.

Kelompok pegawai yang berkarakter lokal adalah mereka yang masih bertumpu pada kultur masyarakat setempat, karena memang mereka itu umumnya berasal dari kota kecil tersebui. Scbagian kecil dari mereka ada yang berstatus sosial yang lebih tinggi, misalnya golongan elit politik setempat dan dalam aspek-aspek lainnya mereka masih mengakar dalam masyarakat setempat.

Sektor perdagangan di kota kecil ini umumnya didominasi oleh etnik Cina, Arab, atau India; artinya, oplag besar perdagangan eceran ada berada di tangan mereka. Sedangkan kelompok pedagang dari kalangan pribumi, ketrampilan berdagangnya, sekedar diperoleh secara turun-temunin sejak zaman kolonial, yang umumnya didominasi oleh kaum santri dengan orientasi daerah metropolitan.


Refrensi:

Kamsori, M. Hery. 2012. Masyarakat Urban. Tidak Diterbitkan.
Copyright © 2014-2015 REFERENSI PENDIDIKAN Powered by Blogger - All Rights Reserved