Masyarakat Perkotaan

a. Beberapa Pengertian


Salah satu satuan sosial atau sistem-sosial, atau kesatuan hidup manusia yang paling lumrah ditulis dan dituturkan baik dalam kasus ilmiah maupun keseharian adalah masyarakat. Istilah asingnya (Inggris) adalah society; sedangkan istilah masyarakat itu sendiri berasal dari bahasa Arab, svareha; yang berarti ikut serta atau partisi'pasi; kata masyarakat berarti saling bergaul atau interaksi, satu dengan yang lainnya saling memberikan makna. Kebermaknaan seseorang boleh dikatakan hanya ada manakala ia berada di dalam kelompok, komunitas, atau masyarakatnya. Masyarakat, sebagai suatu satuan kehidupan sosial manusia, menempati suatu wilayah tertentu yang keteraturan dalam kehidupan sosial tersebut telah dimungkinkan I oleh adanya seperangkat pranata sosial yang telah menjadi tradisi dan kebudayaan yang mereka miliki bersama (Parsudi Suparlan, 1982). 
Pranata sosial dimaksudkan sebagai seperangkat aturan-aturan yang berkenaan dengan kedudukan dan penggolongan stniktur satuan kehidupan sosial yang mengatur peran dan hubungan kedudukan, tindakan-tindakan atau kegiatan-kegiatan yang dilakukan. Sumber dari aturan-aturan tersebut mungkin dari tradisi, kebudayaan, dan kepercayaan (termasuk agama) yang dimiliki, dianut, dan dikembangkan oleh masyarakat yang bersangkutan.

Kebudayaan sebagai obyek formal dari kaj ian antropologi, hal ini dapat disimak dari salah satu detinisi antropologi itu sendiri yang berbunyi bahwa antropologi adalah ilmu tentang manusia dan kebudayaanhya (Parsudi Suparlan, 1982), Sedangkan kebudayaan didefinisikan sebagai keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial yang digunakan untuk menginterpretasi dan memahami lingkungan yang dihadapinya dan untuk menciptakan serta medorong terwujudnya kelakuan.

Kata dasar tradisi adalah traditura, yang berarti barang sesuatu yang diteruskan (transmitted) dari masa lalu ke masa sekarang, turun-temurun dari satu generasi ke generasi berikut-nya; apakah itu berupa benda, tingkah laku, nilai-nilai, norma-norma, harapan atau cita-cita dan berbagai bentuk gagasan atau ide. Konsepsi tradisi diciptakan melalui tindakan atau kelakuan, pikiran dan imajinasi orang-orang, yang kemudian diteruskau dari satu generasi ke generasi selanjutnya (Pudjiwati Sajogyo, 1985).

2. Masyarakat Kota Sebagai Inovator

Masyarakat perkotaan sering diidentikkan dengan masyarakat modern (maju); dan tidak jarang pula dipertentarig-kan dengan masyarakat pedesaan yang akrab dengan sebutan masyarakat tradisionat terutama dilihat dari aspek kulturnya. Adapun ciri-ciri sebuah masyarakat modern (maju) antaralain (1) hubungan antara sesama nyaris hanya didasarkan pada pertimbangan untuk kepentingan pribadi; (2) hubungan dengan masyarakat lain berlangsung secara terbuka dan saling mem-pengaruhi; (3) mereka yakin bahwa iptek memiliki kemanfaatan untuk meningkatkan kualitas hidupnya; (4) masyarakat kota berdeferensi atas dasar perbedaan profesi dan keahlian sebagai fungsi pendidikan serta pelatihan; (5) tingkat pendidikan masyarakat kota relatif lebih tinggi bila dibandingkan dengan masyarakat pedesaan; (6) aturan-aturan atau hukum yang berlaku dalam masyarakat perkotaan lebih berorientasi pada aturan atau hukum formal yang bersifat kompleks; (7) tata ekonomi yang berlaku bagi masyarakat kota uniumnya ekonomi-pasar yang berorientasi pada nilai uang, persaingan, dan nilai-nilai inovatif lainnya. Ciri-ciri ini berskala kelompok atau masyarakat.

Adapun karakteristik yang berskala individu sebagai manusia modern (maju) antara lain (1) selalu bersikap menerima perubahan setelah memahami adanya kelemahan-kelemahan dari situasi yang rutin; (2) memiliki kepekaan pada masalah yang ada di sekitarnya dan menyadari bahwa masalah tersebut tidak lerlepas dari kebcradaan dirinya; (3) lerbuka bagi pengalaman-pengalaman barn (inovasi) dengan disertai sikap yang tidak apriori atau prasangka; (4) untuk setiap pendiriannya selalu dilengkapi informasi akurat; (5) ia lebih berorientasi pada masa mendatang yang didukung oleh kesadaran bahwa masa lampau sebagai pengalaman dan masa sekarang sebagai suatu fakta, sedangkan masa mendatang sendiri sebagai harapan yang mesti diperjuangkan; artinya, bahwa ketiga pengalaman waktu itu merupakan suatu sikuen; (6) ia sangat memahami akan potensi dirinya, dan potensi tersebut ia yakin dapat diicernbangkan; (7) ia selalu berusaha untuk terlibat dan peka terhadap perencanaan; (8) ia selalu menghindar dari situasi yang fatalistik dan tidak mudah menyerah pada keadaan atau nasib; (9) ia meyakini akan manfaat iptek sebagai sarana dalam upaya meningkatkan kesejahteraan manusia; (10) ia memahami dan menyadari serta menghormati akan hak-hak dan kewajiban serta kehormatan pihak lain.

Ciri-ciri individu dan masyarakat tadi tidak mudah untuk niembangunnya: artinya, bahwa unsur-unsur tradisi yang telah melekat dalam diri individu atau masyarakat yang bersangkutan tidak mudah pula untuk menghilangkannya, Mesti dicatat pula bahwa tidak semua unsur tradisi bersifat usang atau menjadi penghambat proses modernisasi, tetapi justru ada sejumlah unsur tradisi yang temyata potensial dan mendukung pembaruan sehingga seyogianya dipelihara serta dikembangkan. Ada sejumlah kendala yang mengganggu usaha pengembangann manusia yang maju, antara lain (1) kekurang mampuan diri di dalam peran-peran pihak lain atau yang disebut empati, dan rendahnya tingkat aspirasi serta kegairahan untuk melihat masa depan; (2) ketidak mampuan untuk menunda kepuasan atau keinginan yang berlebih akan sesuatu kebutuhan; (3) langkanya daya kreasi dan inovasi.

Individu dan masyarakat perkotaan memiliki banyak peluang untuk berperan sebagai pembawa proses pembaruan. Dalam proses pembaruan akan sarat dengan upaya pemecahan sejumlah masalah yang berkembang dan dalam kaitan ini Nichoff (Pudjiwati Sajogyo, 1985) memberikan sejumlah mode atau kiat yang dapat dijadikan pegangan oleh para pelaku atau aktor pembaruan atau pembangunan. Mode atau kiat yang dimaksud antara lain (1) kemampuan berkomunikasi secara mantap baik dalam menghadapi masa maupun tatap muka secara personal atau face to face; (2) kemampuan berantisipasi dalam masyarakat mclalui keterampilan beradaptasi Icwat fungsi bahasa, gagasan atau ide, peralatan atau teknologi, dan potensi-potensi laiiinya yang relevan dengan kebutuhan atau masalah yang tengah berkembang; (3) kemampuan untuk mendemonstrasikan gagasan atau teknologi baru sehingga meyakinkan pihak lain untuk menerima pembaruan tersebut; (4) mendorong pihak lain untuk berpartisipasi dalam mencobakan serta melanjutkan gagasan-gagasan baru tersebut; (5) mengusahakan agar unsur-unsur lama beradaptasi dan bersaing secara sehat dalam menghadapi unsur-unsur baru; (6) kemampuan memanfaatkan atau memanipulasi sejumlah potensi lingkungan setempat yang relevan dengan kebutuhan pembaruan; (7) kejelian dalam memilih waktu dan menggunakan saat atau kesempatan yang lepat dalam memperkenalkan pembaruan tersebut; (8) cukup fleksibel dalam memilih cara dan taktik pada saat membawakan unsur-unsur baru dengan mempertimbangkan faktor-faktor kesulitan yang ada pada saat itu; (9) kemampuan memelihara kontinyuitas pemeliharaan dan pengembangan unsur-unsur baru yang telah diterima oleh pihak lain.

Ciri-ciri dan kemampuan-kemampuan tadi lebih banyak bertumpu pada pelaku atau aktor pembaruan, atau pelaku perubahan yang sering disebut sebagai agent of change. Bagaimana halnya dengan ciri-ciri atau persyaratan-persyaratan yang mesti ada atau siap dimiliki oleh penerima perubahan atau pembaruan itu sendiri ? Berikut ini adalah sejumlah kesiapan yang harus dimiliki oleh penerima suatu proses pembaruan atau pembangunan, Pertama, adanya motivasi untuk timbulnya rasa membutuhkan, dan memiliki akan manfaat dan nilai praktis dari unsur-unsur baru. Kedua, sifat kepemimpinan baik dalam kelembagaan maupun kelompok sosial. Ketiga, struktur sosial baik dalam peran-peran individual maupun dalam status seseorang dalam rentang hubungan hirarkis, dan hubungan-hubungan lainnya. Kempat. pengelompokkan individu baik berdasarkan subkultur (kelompok etnik) maupun berdasarkan politis, apakah berskala kelonvpok birokrat lokal, regional, atau nasional. Kelima, pola perekonomian yang melipuri sistem produksi, distribusi, konsumsi, deferensiasi kerja dan alokasi waktu, serta sistem pemilikan tanah dan nilai kebendaan lainnya. Keenam, kepercayaan masyarakat yang meliputi sistem agama, mistis, dan persepsi yang berfautan dengan kesehatan, kebersihan lingkungan, dan persepsi .keadaan yang memerlukan perubahan.

Refrensi:

Kamsori, M. Hery. 2012. Masyarakat Urban. Tidak Diterbitkan.