REFERENSI PENDIDIKAN

Metode Konseling untuk Perencanaan Karir

http://ewintribengkulu.blogspot.com/2012/11/metode-konseling-untuk-perencanaan-karir.html

Metode-metode konseling dalam konseling karir merupakan penerapan metode konseling untuk membantu konseli untuk membantu konseli dalam membuat keputusan perencanaan karirnya. Metode konseling karir tidak hanya menekankan aspek pembuatan keputusan secara operasional akan tetapi juga menyangkut aspek aktualisasi diri dalam keseluruhan perjalanan hidup konseli. Oleh karena itu metode konseling karir lebih menekankan pada pemahaman diri konseli dan proses aktualisasinya melalui perencanaan dalam rangka menjalani hidupnya (Surya, 1988: 263).

Proses konseling karir lebih dari sekedar proses rasional menjodohkan antara penilaian individu dengan informasi pekerjaan ke dalam perencanaan karir. Konseling karir merupakan proses yang melibatkan keterpaduan yang cermat dalam perjalanan hidup (Surya, 1988: 263). Sejalan dengan itu Super (Surya, 1988: 264) mengemukakan bahwa konseling karir merupakan implementasi konsep diri konseli. Hal ini berarti bahwa konseli memandang dirinya untuk memperoleh kepuasaan dan kebahagiaan diri dalam pekerjaannya melalui perbuatan dalam status, ketenangan, kontak sosial, dan nilai tertentu. Beberapa metode konseling dalam perencanaan karir antara lain : (1) interview survey dan penilaian, (2) interview sintetis, (3) pembentukan tujuan okupasional, (4) perencanaan pendidikan, (5) uji coba dan tindak lanjut (Surya, 1988: 263). Berikut akan dikemukakan masing-masing metode.

a. Interview Survey dan Evaluasi

Metode ini dimaksudkan untuk memperoleh gambaran konseli dan perkiraan karirnya di masa mendatang. Pada awal proses konseling karir, konselor mengumpulkan data konseli sebagai dasar dalam membuat prediksi keberhasilan konseli dalam pendidikan dan pekerjaan. Data dikumpulkan melalui interview, catatan pribadi, catatan kasus dan tes. Dalam interaksi dengan konseli, konselor mengevaluasi dan menganalisis data dengan menggunakan berbagai teknik, sehingga dapat diperoleh gambaran kecenderungan arah karir konseli. Melalui konseling ini konseli diharapkan dapat memahami dan menerima informasi mengenai kecenderungan karir dirinya. Atas dasar itu konseli dapat membuat keputusan dan perencanaan karirnya. Interview awal ini sangat tergantung kepada validitas dan reabilitas data yang diperoleh. Bila data yang terkumpul tidak valid dan tidak reliabel maka prediksi yang dibuat akan salah dan hal ini sudah tentu akan merugikan konseli. Oleh karena itu konselor hendaknya berhati-hati dalam memilih metode dan alat pengumpul data di samping dalam menganalisis dan pembuatan prediksinya.

b. Interview Sintetis

Interview sintesis merupakan kelanjutan dari interview survey dan evaluasi sebagaimana telah dikemukakan di atas. Dalam interview ini konselor dan konseli berinteraksi untuk mensintesakan data pribadi dan okupasional sebagai dasar dalam pembuatan keputusan. Konselor mereviu bahan-bahan dari interview permulaan, untuk mengkaji data pribadi, data hasil tes, dan informasi okupasional yang sesuai. Konseli mempertimbangkan data tes, mereviu nilai-nilai dan perasaan dirinya, serta mengkaji informasi okupasional yang telah dilakukannya sendiri. Konseli bersama konselor mendiskusikan data tersebut untuk menganalisis dan mensintesiskan sebagai dasar proses pembuatan keputusan. Interview sintesis biasanya berisi penafsiran data dan diskusi informasi okupasional. Dalam proses konseling, konselor menggunakan berbagai teknik- teknik konseling pada umumnya, seperti teknik refleksi, pemberian dukungan, klarifikasi, penerimaan, dan sebagainya.

c. Pembentukan Tujuan Okupasional

Keberhasilan seseorang dalam karirnya banyak ditentukan oleh sampai sejauh mana seseorang memahami tujuan okupasional. Tujuan okupasional dalam hal ini adalah hal-hal yang secara realistis dapat dicapai dalam suatu pekerjaan atau jabatan tertentu. Pengenalan tujuan okupasional ini merupakan dasar pertimbangan dalam pembuatan keputusan perencanaan karir. Hal ini berarti bahwa seorang individu akan membuat perencanaan secara tepat apabila ia telah memiliki pemahaman yang jelas tujuan-tujuan yang akan dicapai dalam pekerjaan atau jabatannya. Sehubungan dengan itu dalam konseling karir, konselor membantu konseli agar memperoleh pemahaman yang jelas mengenai tujuan karirnya. Hal ini diperoleh melalui serangkaian interview antara konselor dengan konseli dalam situasi konseling. Metode ini biasanya dilaksanakan setelah interview sintesis dan studi okupasional oleh konseli bersama konselor. Dari interview sintesis perencanaan karir dirumuskan oleh konseli. Selanjutnya dari perencanaan karir itu kemudian dibuat penjabaran yang lebih terinci dalam bentuk rumusan tujuan pekerjaan atau jabatan. Konselor membantu konseli dalam mengeksplorasi tujuan-tujuan okupasional melalui teknik-teknik konseling.

Perumusan ini hendaknya dibuat secara cermat berdasarkan informasi yang memadai. Untuk itu konselor hendaknya memperhatikan beberapa hal berikut :
  1. Perubahan-perubahan yang terjadi dalam dunia kerja.
  2. Kesempatan kepada konseli untuk melakukan pembuatan keputusan sendiri tentang tujuan okupasional.
  3. Keleluasaan kepada konseli untuk menyesuaikan tujuannya dengan kenyataan dunia kerja.
  4. Kesiapan konseli dalam menerima informasi okupasional. Kesiapan ini biasanya terjadi apabila konseli telah menyadari karakteristik mereka dan kaitannya dengan pemilihan karir.
d. Perencanaan Pendidikan

Setelah konseli berhasil memilih bidang pekerjaan secara umum dan membuat beberapa piliihan okupasional dan perumusan tujuan, maka langkah selanjutnya adalah membuat suatu rencana untuk memperoleh pendidikan yang memadai guna mencapai tujuan yang telah dirumuskan. Pendidikan ini mungkin berupa studi lanjutan di perguruan tinggi, baik program gelar ataupun diploma, kursus-kursus singkat, ataupun latihan-latihan dalam jabatan. Metode, teknik dan alat yang dipergunakan dalam kegiatan ini adalah sama dengan metode, teknik dan alat dalam konseling pendidikan. Konseling karir untuk perencanaan pendidikan dilakukan melalui interaksi antara konselor dengan konseli untuk membantu konseli agar memahami dirinya, kemungkinan-kemungkinan karir dan kemudian dapat membuat alternatif-alternatif pendidikan yang dapat ditempuh untuk mencapai karirnya.

Kegiatan konseling diawali dengan pemahaman informasi diri dan informasi pendidikan, kemudian dengan perumusan tujuan pendidikan, dan dilanjutkan dengan pembuatan perencanaan pendidikan. Dalam hubungan ini yang sangat diperlukan adalah informasi pendidikan yang memadai serta kemampuan peserta didik dalam membuat rumusan tujuan pendidikan. Konselor membantu konseli untuk mengeksplorasi dirinya dan kemungkinan-kemungkinan pendidikan yang dapat dicapai. Usaha bantuan ini dilakukan dengan menggunakan berbagai teknik konseling.

e. Uji Coba dan Tindak Lanjut

Dalam konseling karir hendaknya konseli selalu sadar bahwa gagasan rencana yang telah dibuatnya itu bukan sesuatu yang final dan pasti. Hal itu baru berupa rencana yang bersifat tentatif yang masih memerlukan pengkajian lebih lanjut. Oleh karena itu segala rencana yang telah dibuat perlu dikaji melalui suatu langkah uji coba dan tindak lanjut. Langkah ini diperlukan untuk mengecek kembali ketepatan perencanaan yang dibuat, sebelum diambil keputusan dan dilaksanakan.

Melalui proses konseling, konselor membantu konseli untuk menguji coba perencanaannya dan kemudian menganalisis untuk menilai kembali tujuan perencanaannya. Dari uji coba ini konseli dapat memperbaiki perencanaan karirnya secara lebih tepat. Uji coba dapat dilakukan melalui studi eksplorasi, simulasi, latihan bermain peran atau diskusi yang mendalam. Untuk itu konselor mempunyai peranan penting dalam membantu konseli. Dengan menggunakan metode uji coba dan tindak lanjut dalam proses  konseling karir, maka konseli diharapkan dapat membuat perencanaan dengan sebaik-baiknya.

Refrensi:


Surya, M. (1988). Dasar-Dasar Penyuluhan (Konseling). Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan DIRJEN DIKTI.
Copyright © 2014-2015 REFERENSI PENDIDIKAN Powered by Blogger - All Rights Reserved