Perilaku Masyarakat Adat Terhadap Lingkungan Hidup

Sebelum membahas mengenai perilaku masyarakat terhadap  lingkungannya, akan dijelaskan terlebih dahulu mengenai hubungan manusia dan lingkungan serta pandangan mengenai hubungan manusia dan lingkungan tersebut.

a. Hubungan Manusia dengan lingkungannya

Manusia berinteraksi dengan lingkungan hidupnya. Ia mempengaruhi dan dipengaruhi oleh lingkungan hidupnya. Ia membentuk dan terbentuk oleh lingkungan hidupnya. Manusia seperti ia adanya, yaitu yang disebut fenotipe, adalah perwujudan yang dihasilkan oleh interaksi sifat  keturunannya dengan faktor lingkungan. Sifat keturunan yang terkandung di dalam gen yang merupakan bagian kromosom di dalam masing-masing sel tubuh, menentukan perwujudan manusia, yaitu genotipe. Apakah suatu sifat dalam genotipe itu akan terwujud atau tidak, tergantung ada atau tidaknya faktor lingkungan yang sesuai untuk perkembangan sifat itu. Dobzhansky (dalam Soemarwoto, 1983:45) malahan menyatakan, "gen menentukan tanggapan apa yang akan terjadi terhadap faktor lingkungan". Jadi menurutnya gen bukanlah penentu sifat, melainkan penentu reaksi atau tanggapan terhadap lingkungan.
Soemarwoto (1983:46) mengungkapkan “hubungan antara manusia dengan lingkungan hidupnya adalah sirkuler”. Interaksi antara manusia dengan lingkungan hidupnya tidaklah sederhana, melainkan kompleks, karena pada umumnya dalam lingkungan hidup itu terdapat banyak unsur. Pengaruh terhadap suatu unsur akan merambat pada unsur lain, sehingga pengaruhnya terhadap manusia sering tidak dapat dilihat atau dirasakan dengan segera.
Selanjutnya Arianto, dkk (1988:18) menjelaskan mengenai hubungan manusia dengan alam lingkungannya, ditinjau dari sejarah hidup manusia adalah sebagai berikut:
  1. Manusia sangat dipengaruhi oleh lingkungan fisik, pada masa ini kebudayaan manusia masih sangat sederhana. Alat-alat yang digunakan untuk mengeksploitasi alam kemampuannya masih rendah, sehingga manusia tidak mampu mengatasi rintangan-rintangan dari alam. Akibatnya manusia sangat dipengaruhi oleh alam.
  2. Manusia mempengaruhi lingkungan fisik, ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang terus sehingga dengan teknologi yang dimilikinya, manusia dapat menguasai alam dan menguras apa yang terdapat di alam.
  3. Manusia dan lingkungan fisik saling mempengaruhi, akibat dari perkembangan IPTEK serta perkembangan sosial budaya masyarakat, maka hubungan manusia dengan lingkungannya berubah pula yaitu antara manusia dan alam saling mempengaruhi
  4. Kebudayaan menjadi faktor perantara hubungan manusia dengan lingkungannya, pandangan manusia mengalami perubahan bahwa lingkungan fisik tidak lagi menentukan kegiatan manusia, tetapi justru dapat memilih apa yang dikehendakinya, sesuai dengan apa yang tersedia pada lingkungan fisik. Dalam hal ini manusia mengadakan pemilihan, sesuai dengan sosial budayanya.
  5. Hubungan manusia dengan lingkungan fisik sangat kompleks, lingkungan fisik ini ternyata sangat kompleks, seperti tanah, udara, cuaca, air, mineral, cahaya, lautan dan sebagainya merupakan senyawa yang sangat majemuk. Manusiapun mempunyai sosio-budaya serta faktor-faktor fisiologis, psikologis, serta keadaan fisik yang beraneka ragam. Hal ini menimbulkan hubungan-hubungan yang sangat kompleks pula dengan alam lingkungannya. Makin maju IPTEK, makin bervariasi pula pola kehidupan masyarakat.
Selanjutnya pernyataan tersebut dipertegas oleh pernyataan Sarwono (1995:10) sebagai berikut: Dengan demikian, sejarah manusia dalam kaitan dengan kedudukannya sebagai salah satu komponen lingkungan diawali dengan manusia yang sangat dipengaruhi oleh alam yang kemudian bergeser menjadi fungsi yang mempengaruhi alam. Karena adanya kecenderungan merusak lingkungannya, pada akhirnya manusia itu sendiri terkena akibat dari perubahan-perubahan alam itu sehingga pada tahap ini manusia dan alam saling mempengaruhi. Hubungan timbal balik antara manusia dengan lingkungannya ini terwujud dalam bentuk kebudayaan dan teknologi, misalnya pemujaan Dewi Sri untuk meminta kesuburan tanah melalui penghuni alam gaib dan mistik ataupun penggunaan teknologi irigasi untuk menyuburkan sawah.

Dari berbagai pernyataan mengenai hubungan manusia dengan lingkungannya, dapat kita lihat bahwa hubungan antara manusia dengan lingkungan sangatlah erat.

b. Perilaku masyarakat adat terhadap lingkungan

Hal yang paling fundamental dari perspektif etika lingkungan hidup adalah kesamaan pemahaman dari semua masyarakat adat di seluruh dunia yang memandang dirinya, alam dan relasi di antara keduanya dalam perspektif religius, perspektif spiritual. Maka alam dipahami oleh semua masyarakat tradisional sebagai sakral, sebagai kudus. Spiritualis merupakan kesadaran yang paling tinggi, sekaligus menjiwai dan mewarnai seluruh relasi manusia dengan manusia, manusia dengan alam dan manusia dengan yang Gaib atau yang Kudus. Demikian pula spiritualis akan selalu menjiwai, mewarnai dan menandai setiap aktivitas manusia, yang tidak lain adalah aktivitas dalam alam, aktivitas dalam sacrum universum, dalam alam yang sakral.

Dalam perspektif itu, agama dipahami dan dihayati oleh masyarakat adat sebagai sebuah cara hidup, dengan tujuan untuk menata seluruh hidup manusia dalam relasi yang harmonis dengan sesama manusia dan alam. Dalam penghayatan agama seperti itu, masyarakat adat selalu ingin mencari dan membangun harmoni di antara manusia, alam, masyarakat dan dunia gaib, dengan didasarkan pada pemahaman dan keyakinan bahwa yang spiritual menyatu dengan yang material.

Pengaruh langsungnya adalah setiap perilaku manusia, bahkan sikap batin paling tersembunyi di lubuk hatinya, harus ditempatkan dalam konteks yang sakral, dalam spiritualis. Maka baik secara individual maupun kelompok, perilaku dan sikap batin manusia harus murni, bersih, baik terhadap diri sendiri, sesama manusia maupun terhadap alam. Sikap hormat dan menjaga hubungan baik, yang tidak boleh dirusak dengan perilaku yang merugikan, menjadi prinsip moral yang selalu dipatuhi dan dijaga dengan ritus dan upacara religius-adat. Dalam arti itu, moralitas adalah tuntutan inheren setiap masyarakat adat. Moralitas ini tidak hanya menyangkut perilaku manusia dengan sesamanya, tetapi juga manusia dengan sesamanya, tetapi juga manusia dengan dirinya dan juga dengan alam. Ada keyakinan religius-moral, bahwa setiap batin dan perilaku yang salah, yang bengkok, yang merusak hubungan dengan sesama dan alam, akan mendatangkan malapetaka, baik bagi diri sendiri maupun bagi komunitas. Dalam konteks itu bisa dipahami bahwa semua bencana alam-banjir, kekeringan, hama, gagal panen, tidak adanya hasil tangkapan di laut, semuanya dianggap sebagai bersumber dari kesalahan sikap batin dan perilaku manusia, baik terhadap sesama maupun terhadap alam. Perlu ada rekonsiliasi dalam bentuk upacara religius, upacara adat dengan membawa korban, baik untuk sesama yang dirugikan maupun untuk alam yang telah dirusak.

Dari sini kita bisa menarik kesimpulan, bahwa yang disebut sebagai komunitas adat adalah komunitas ekologis, bukan hanya komunitas sosial manusia sebagaimana dipahami masyarakat Barat atas pengaruh Aristoteles. Masyarakat adat memandang dirinya sebagai bagian integral dari komunitas ekologis, komunitas alam. Maka mereka berkembang menjadi dirinya, baik secara individual maupun secara kelompok, dalam ikatan dan relasi dengan alam semesta dan seluruhnya, dengan seluruh makhluk di alam semesta. Mereka tidak pernah berusaha menjalani hidup yang hanya mementingkan hubungan dengan sesama manusia. Yang juga penting bagi mereka adalah relasi dengan alam sekitarnya: dengan hutan, dengan laut, dengan danau, dengan sungai, dengan gunung dan dengan binatang-binatang dan tumbuh-tumbuhan di alam. Karena itu bisa dipahami bahwa cara berfikir ,  berperilaku, dan seluruh ekspresi serta penghayatan budaya masyarakat adat sangat diwarnai dan dipengaruhi oleh relasi dengan alam sebagai bagian dari hidup dan eksistensi dirinya.

Sementara itu Brennan, dkk (dalam Suhartini, 2009:B 213) mengungkapkan:
Pada umumnya masyarakat tradisional sangat mengenal dengan baik lingkungan di sekitarnya. Mereka hidup dalam berbagai ekosistem alami yang ada di Indonesia, dan telah lama hidup berdampingan dengan alam secara harmonis, sehingga mengenal berbagai cara memanfaatkan sumberdaya alam secara berkelanjutan. Masyarakat pedusunan memiliki keunikan khusus seperti kesederhanaan, ikatan emosional tinggi, kesenian rakyat dan loyalitas pada pimpinan. Di samping itu dalam berperilaku orang akan berpedoman pada berbagai macam hal yang pada hakekatnya mempunyai nilai baik dan buruk serta pada kegiatan yang didasarkan pada benar dan salah.
Dalam komunitas itu, masyarakat adat memahami segala sesuatu di alam semesta ini sebagai terkait dan saling tergantung satu sama lain. Manusia adalah bagian tak terpisahkan dari alam, dan perkembangan kehidupan manusia menyatu dengan proses evolusi dan perkembangan kehidupan manusia menyatu dengan proses evolusi dan perkembangan kehidupan alam semesta seluruhnya. Hubungan manusia dengan alam adalah hubungan yang didasarkan pada kekerabatan, sikap hormat dan cinta. Maka untuk bisa bertahan hidup dan hidup layak sebagai manusia dalam arti seluas-luasnya dan sepenuhnya, manusia bergantung pada alam, bukan hanya pada sesama manusia.

Kemudian pernyataan tersebut dipertegas oleh ungkapan Sastrosupeno (1984:68):
Pada masyarakat sederhana, hubungan antara manusia dengan alam dan lingkungan memang amat dekat dan erat. Saking erat dan dekatnya, sampai-sampai tumbuh kepercayaan yang kita kenal dengan nama totenisme, ialah suatu kepercayaan tentang asal-usul keturunan suatu masyarakat atau kelompok suku. Di dalam kepercayaan ini, maka seseorang dapat merupakan keturunan dari seekor binatang atau dari daun dan pohon tertentu. Disinilah keeratan hubungan antara manusia dengan alam.
Hal tersebut di atas dapat kita temukan pada masyarakat kasepuhan Jawa Barat dan masyarakat Jawa yang melihat adanya hubungan yang sangat erat antara sistem sosial dan sistem alam. Maka, perlu ada harmoni antara dunia manusia dan dunia alam, antara dunia batin dan dunia luar, antara mikrokosmos dan makrokosmos. Ketika harmoni ini terganggu, maka akan terjadi kekacauan dan bencana yang harus dipulihkan kembali dengan berbagai upacara religius. Upacara-upacara tersebut dimaksudkan untuk menyatukan kembali mikrokosmos dan makrokosmos untuk kembali menemukan keesaan hidup.

Bagi masyarakat adat, respek atau sikap hormat kepada kehidupan, baik pada manusia maupun makhluk lain, merupakan sebuah hukum moral kehidupan itu sendiri. Karena, tanpa sikap hormat tidak mungkin akan ada harmoni dan komunitas. Dari sikap hormat ini muncul harmoni, keadilan, hukum dan komunitas. Sikap hormat akan hukum kehidupan menjamin bahwa kehidupan akan berjalan terus tanpa henti. Hukum moral ini terejawantah dalam kodrat manusia, dalam kodrat alam, untuk dengan sendirinya secara alamiah saling menyayangi dan melindungi di antara semua kehidupan itu sendiri.

Refrensi:
  1. Soemarwoto, O. (1983). Ekologi, Lingkungan Hidup dan Pembangunan. Jakarta: Djambatan
  2. Arianto, I. dkk. (1988). Pendidikan Kependudukan dan Lingkungan Hidup Untuk IKIP dan FKIP. Jakarta: Depdikbud
  3. Soemarwoto, O. (1983). Ekologi, Lingkungan Hidup dan Pembangunan. Jakarta: Djambatan
  4. Suhartini. (2009). Kajian Kearifan Lokal Masyarakat dalam Pengelolaan
  5. Sumberdaya Alam dan Lingkungan.[Online]. Tersedia:http://staff.uny.ac.id 
  6. Sastrosupeno, S. (1984). Manusia, Alam dan Lingkungan. Jakarta: Depdikbud