Perkembangan, Pertumbuhan, dan Kematangan Individu

Perkembangan. Dalam perjalananan hidupnya, setiap individu mengalami perkembangan. Perkembangan adalah proses perubahan yang berlangsung terus menerus sejak terjadinya pembuahan (conception) hingga meninggal dunia (Yelon and Weinstein, 1977). Perubahan-perubahan dalam perkembangan individu tersebut dapat terjadi karena dua hal, yaitu: 1) kematangan (maturation) dan 2) belajar (learning).

Pertumbuhan. Untuk menunjukkan perubahan-perubahan yang terjadi pada diri individu, selain menggunakan istilah perkembangan, sering digunakan pula istilah pertumbuhan. Misalnya dalam kalimat berikut ini: “Anak ini pertumbuhannya cukup baik” atau “anak-anak sedang berada pada masa pertumbuhan”. Apakah pertumbuhan mempunyai pengertian yang sama dengan perkembangan? Crow & Crow mengemukakan bahwa pertumbuhan berkenaan dengan perubahan-perubahan struktural dan fisiologis (jasmaniah) pada diri seseorang yang berlangsung sejak saat konsepsi melalui periode-periode prenatal (dalam kandungan) dan postnatal (setelah lahir) sampai kedewasaannya (E. Usman Effendi dan Juhaya S. Praja, 1984:48). Jadi, pertumbuhan merupakan proses perubahan yang berkenaan dengan aspek fisik atau jasmaniah individu seperti perubahan tinggi badan, berat badan dsb. Sedangkan perkembangan merupakan proses perubahan-perubahan yang terutama berhubungan dengan aspek psikis atau hidup kejiwaan individu seperti perubahan mental, sosial, emosi, dsb., yang mana perubahan-perubahan tersebut dapat melahirkan tingkah laku yang dapat diamati, meskipun tidak dapat diukur seperti yang terjadi pada perubahanperubahan yang berkenaan aspek jasmaniah. Namun demikian, karena individu itu hakikatnya adalah satu kesatuan yang tak dapat dibagi atau tak dapat dipisahpisahkan, maka sesunguhnya antara proses pertumbuhan dan perkembangan itu pun pada dasarnya sulit untuk dipisahkan satu sama lainnya. Antara pertumbuhan fisik dan perkembangan sosial, emosional, moral, dan mental individu sesungguhnya sangat sulit untuk dipisahkan, sebab aspek fisik, sosial, emosional, moral, dan mental individu pertumbuhan/perkembangannya saling berhubungan dan saling mempengarhi. Berkenaan dengan ini Sunaryo Kartadinata dan Nyoman Dantes (1996/1997:50) menyatakan bahwa: “Perkembangan adalah proses yang kompleks karena perkembangan merupakan hasil dari berbagai proses biologis, kognitif, sosial dan moral. Oleh karena itu pertumbuhan akan selalu terlibat dalam proses perkembangan”.

Kematangan. Sebagaimana telah dikemukakan, perubahan-perubahan dalam perkembangan individu dapat terjadi karena kematangan (maturation) dan belajar (learning). Kematangan adalah perubahan-perubahan - pada individu-sebagai hasil dari pertumbuhan fisik atau perubahan-perubahan biologis. Kematangan bukan akibat dari pengalaman, melainkan akibat dari pertumbuhan fisik atau perubahan-perubahan dalam aspek biologis. Contoh: Pada suatu saat untuk pertama kalinya seorang anak remaja putri akan mengalami menstruasi. Menstruasi terjadi bukan akibat pengalaman karena anak remaja putri yang bersangkutan melakukan sesuatu hal, melainkan akibat dari tercapainya pertumbuhan fisik dan biologis tertentu. Tumbuhnya bulu-bulu pada bagian badan tertentu pada individu, juga merupakan contoh kematangan. Coba Anda kemukakan beberapa contoh kematangan yang lainnya seperti yang pernah terjadi pada diri Anda!

Belajar. Perubahan-perubahan dalam perkembangan individu, selain dapat terjadi karena kematangan, juga dapat terjadi karena belajar. Untuk memahami apa yang dimaksud dengan belajar, silahkan Anda kaji beberapa pernyataan dan definisi berikut ini: Menurut Morgan “Belajar adalah setiap perubahan tingkah laku yang relatif menetap yang terjadi sebagai suatu hasil dari latihan atau pengalaman” (M. Ngalim Purwanto, 1993:84). Sejalan dengan definisi itu Cronbach menyatakan bahwa: “Learning is shown by a change in behavior as a result of experience” . Belajar ditunjukkan oleh perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman (Sardiman A.M, 1986:22). Adapun Witherington mendefinisikan belajar sebagai perubahan di dalam kepribadian sebagaimana dimanifestasikan dalam pola-pola respons atau tingkah laku yang baru berupa kecakapan, sikap, kebiasaan, kepandaian atau suatu pemahaman. Berbeda dengan definisi atau pernyataan di atas, Good dan Brophy dalam bukunya Educational Psychology: A Realistic Approach menjelaskan bahwa belajar merupakan suatu proses yang bersifat internal, yang terjadi pada diri individu yang sedang mengalami belajar, dalam usahanya memperoleh hubunganhubungan baru (new associations). Hubungan-hubungan baru itu dapat berupa hubungan antara perangsang-perangsang, antara reaksi-reaksi, atau antara perangsang dengan reaksi. Good dan Brophy menyatakan: “Learning is the development of new associations as a result of experience” (M. Ngalim Purwanto, 1983:85).

Berdasarkan beberapa pernyataan dan definisi tentang belajar seperti disajikan di atas, dapat Anda simpulkan bahwa belajar adalah perubahan tingkah laku pada diri individu yang bersifat relatif permanen dan terjadi sebagai hasil pengalaman. Ada beberapa karakteristik yang terkandung dalam pengertian belajar, yaitu:
  1. Pengertian belajar meliputi proses dan hasil.
  2. Sebagai suatu proses, belajar merupakan suatu upaya disengaja yang berlangsung pada diri individu yang terjadi melalui pengalaman.
  3. Proses belajar menghasilkan perubahan tingkah laku pada diri individu. Perubahan-perubahan tingkah laku sebagai hasil belajar meliputi berbagai aspek kepribadian, baik fisik maupun psikhis, seperti perubahan mengenai pengetahuan, pemahaman, kebiasaan, keterampilan, sikap, dsb.
  4. Perubahan-perubahan tingkah laku sebagai hasil belajar sifatnya relatif manetap atau permanen.
Refrensi Rujukan:
  1. E. Usman E. dan Juhaya, S.P., (1984), Pengantar Psikologi, Angkasa, Bandung.
  2. M. Ngalim Purwanto., (1993), Psikologi Pendidikan, PT. Remaja Rosda Karya, Bandung.
  3. Sumadi S. Brata, (1990), Psikologi Pendidikan, Rajawali Pers, Jakarta.
  4. Sunaryo K. dan Nyoman D., (1996/1997) Landasan-Landasan Pendidikan Sekolah
  5. Dasar, Bagian Proyek Pengembangan Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Dirjendikti, Depdiknas.
  6. Suparno, P., (1997), Filsafat Konstrukstivisme dalam Pendidikan, Kanisius, Yogyakarta.
  7. Yelon L.S. dan Weinstein, W.G., (1977), A Teacher's World Psychology in the Clasroom, McGraww-Hill International Book Company, Tokyo.