REFERENSI PENDIDIKAN

Prinsip-prinsip dan Arah Perkembangan Individu

http://ewintribengkulu.blogspot.com/2012/11/prinsip-prinsip-dan-arah-perkembangan.html

a. Prinsip-prinsip Perkembangan Individu

Prinsip perkembangan yang pertama menyatakan bahwa “perkembangan individu berlangsung terus menerus sejak pembuahan hingga meninggal dunia”. Di pihak lain, Anda telah memahami bahwa pendidikan diselenggarakan untuk mengubah perilaku individu ke arah yang diharapkan. Dengan demikian, prinsip perkembangan yang pertama tadi mengimplikasikan bahwa pendidikan adalah mungkin dapat dilaksananakan, sebab individu berada dalam perkembangan, individu masih mungkin berubah. Selain itu, karena perkembaangan berlangsung sepanjang hayat, maka pendidikan pun hendaknya diselenggarakan sepanjang hayat.

“Kecepatan perkembangan setiap individu berbeda-beda, tetapi pada umumnya mempunyai perkembangan yang normal”. Dengan prinsip perkembangan yang kedua ini, guru dapat memahami bahwa pada umumnya siswa berkembang secara normal dan bersama-sama. Sejumlah siswa yang berada pada tahap perkembangan yang sama mungkin menampilkan ciri-ciri yang sama dan memiliki kesiapan belajar yang sama. Sebab itu, pembelajaran secara bersama-sama atau secara klasikal adalah mungkin untuk dilaksanakan. Tetapi sekalipun demikian, guru tidak boleh melupakan akan adanya perbedaan kecepatan perkembangan pada setiap individu. Mungkin saja dalam kelompok siswa yang secara usia kronologis berada pada tahapan perkembangan yang sama, tetapi ada diantara siswa tersebut yang menampilkan ciri-ciri dan kesiapan belajar yang berbeda. Mungkin pada umumnya siswa telah memiliki kesiapan untuk mempelajari sesuatu, sementara seseorang atau beberapa orang siswa belum memiliki kesiapan belajar mengenai sesuatu tersebut. Sebab itu, sekalipun guru melaksanakan pembelajaran secara klasikal, tetapi guru harus tetap memperhatikan, mempertimbangkan dan memperlakukan siswa secara individual juga. Guru mesti tetap memperhatikan pula keunikan setiap siswa, baik secara fisik, mental, emosional maupun sosial.

Prinsip ketiga menyatakan bahwa “semua aspek perkembangan yang bersifat fisik, sosial, mental dan emosional dalam pertumbuhan/perkembangannya satu sama lain saling berhubungan dan saling mempengaruhi”. Ini merupakan salah satu bukti bahwa individu adalah satu kesatuan yang terpadu. Implikasinya, maka proses pembelajaran di sekolah yang diselenggarakan dalam berbagai mata pelajaran hendaknya selalu dihubungkan dan berkenaan dengan seluruh aspek perkembangan anak. Para guru hendaknya memahami siswa sebagai suatu keseluruhan yang terpadu dan alangkah bijaksananya apabila para guru menyelenggarakan pembelajaran secara terpadu pula.
“Arah perkembangan individu dapat diramalkan”. Prinsip perkembangan yang keempat ini mengimplikasikan agar pendidikan dilaksanakan dengan mempertimbangkan arah perkembangan individu/siswa. Untuk memahami lebih jauh mengenai hal ini Anda dapat mengakajinya dalam pembahasan tentang arah perkembangan".
Prinsip kelima menegaskan bahwa “perkembangan berlangsung secara bertahap; setiap tahap memunyai ciri-ciri atau karakteristik tertentu; tahapan perkembangan sejalan dengan tahapan usia; tahap perkembangan berlangsung terus menerus dan bersifat overlaping”. Prinsip perkembangan yang kelima ini pada dasarnya mengimplikasikan agar pendidikan diselenggarakan sesuai dengan tahap perkembangan siswa. Kita para guru diharapkan menyusun kurikulum pendidikan atau program pembelajaran yang sesuai atau sepadan dengan tahap perkembangan para siswanya.

b. Arah Perkembangan Individu. 

Telah Anda ketahui bahwa arah perkembangan individu dapat diramalkan. Bagaimanakah arah perkembangan individu tersebut? Perkembangan individu pada umumnya mengikuti arah sebagai berikut:
  1. Individu berkembang secara menyeluruh; dari kepala hingga kaki dan dari pusat badan hingga kaki dan tangan.
  2. Perkembangan struktur mendahului fungsi. Dalam diri individu, struktur tertentu misalnya tulang dan otot kaki akan berkembang lebih dulu dibanding perkembangan fungsinya untuk berjalan. Apabila struktur tulang dan otot kaki tersebut sudah berkembang sebagaimana mestinya, baru fungsi kaki untuk berjalan akan berkembang. Demikian halnya perkembangan struktur dan fungsi yang lainnya dalam diri individu.
  3. Perkembangan mulai dari hal yang bersifat umum menuju ke hal yang bersifat khusus. Contoh: Pengenalan anak terhadap berbagai objek, bergerak dari pengenalan secara umum (kabur, tidak detail) ke arah pengenalan yang semakin khusus mengenai detail bagian-bagian dari objek tersebut.
  4. Perkembangan mental mulai dari kongkrit ke abstrak; mulai dari kecakapan berpikir apa adanya pada saat ini hingga kecakapan berpikir konseptual yang berorientasi ke masa yang akan datang.
  5. Perkembangan bergerak dari egosentrisme kepada persfektivisme hingga dapat mengerti pendirian/pandangan orang lain. Dalam usia yang sangat muda, anak akan memandang dirinya sebagai pusat segalanya. Tetapi lambat laun kondisi egosentris ini akan berkembang kearah pemahaman terhadap orang lain dan lingkungan. Lambat laun anak akan memahami kondisi objektif akan adanya orang lain dan lingkungannya, sehingga ia akan mengerti akan adanya perbedaan pendirian atau pandangan dirinya dan pendirian atau pandangan orang lain.
  6. Perkembangan bergerak dari dominasi kontrol dari luar diri kepada kontrol dari dalam diri. Pada awalnya anak belum dapat mengendalikan diri, ia masih memerlukan dominasi kontrol dari orang lain. Misalnya berkenaan dengan aturan atau disiplin. Namun demikian, lambat laun dan pada akhirnya anak akan dapat mengendalikan dirinya sendiri.
  7. Perkembangan bergerak dari absolutisme kepada relativisme. Pada awalnya anak akan melihat sesuatu sebagai sesuatu yang mutlak, tidak boleh berubah. Contoh: pada awalnya anak akan berpendapat bahwa segala aturan tidak boleh diubah. Tetapi sejalan dengan perkembangannya, ia akan melihat akan adanya kemungkinan-kemungkinan atau kekecualian di mana dalam konteks tertentu aturan tertentu dapat saja diubah.
  8. Perkembangan bergerak spiral menuju ke arah tujuan. Menurut prinsip ini berarti bahwa penguasaan tugas-tugas perkembangan akan terjadi pada berbagai tahap perkembangan dalam derajat kompleksitas yang berbeda. Semakin tinggi tahap perkembangannya, maka penguasaan tugas-tugas perkembangnnya akan semakin kompleks. Contoh: Pengenalan anak kelas satu madrasah ibtidaiyah mengenai Tuhan akan berbeda dengan pengenalan anak kelas satu Madrasah Tsanawiyah mengenai Tuhan. Selanjutnya perlu dipahami pula, bahwa perkembangan setiap individu bergerak maju menuju perkembangan yang lebih tinggi hingga mencapai kedewasaan.
Arah perkembangan individu berimplikasi terhadap pendidikan. Implikasi yang dimaksud antara lain: Pertama, mengingat perkembangan struktur mendahului fungsi, maka program pembelajaran hendaknya disusun dengan memperhatikan kesiapan atau kematangan struktur pada diri siswa. Contoh: Siswa jangan dulu diajari menulis halus apabila otot-otot jari tangannya belum siap untuk memegang pensil dengan baik. Kedua, penyusunan kurikulum pendidikan dan penyusunan program pembelajaran yang lebih bersifat operasional di lembaga pendidikan pada jenjang yang paling bawah (sekolah dasar) hendaknya dilakukan dengan memperhatikan dan mempertimbangkan berbagai arah perkembangan individu sesuai tahap perkembangannya. Contoh: bahwa program pendidikan itu hendaknya dimulai dari materi ajar yang bersifat umum dan selanjutnya mengarah kepada materi ajar yang khusus; dimulai dengan mempelajari hal-hal yang konkrit selanjutnya mengarah kepada yang abstrak; disusun secara bertahap untuk dapat menghilangkan egosentrisme dan mengarah ke perspektifvisme; disusun untuk secara bertahap menumbuhkan kemampuan kontrol dari dalam diri siswa; dalam hal tertentu program pembelajaran hendaknya disusun secara bertahap untuk membangun konsepsi tentang sesuatu yang hakikatnya absolut dan yang relatif; dan bahwa keluasan, kompleksitas dan kedalaman isi kurikulum pendidikan atau program pembelajaran hendaknya disusun secara spiral menuju perkembangan tertinggi atau kedewasaan.

Refrensi Rujukan:
  1. E. Usman E. dan Juhaya, S.P., (1984), Pengantar Psikologi, Angkasa, Bandung.
  2. M. Ngalim Purwanto., (1993), Psikologi Pendidikan, PT. Remaja Rosda Karya, Bandung.
  3. Sumadi S. Brata, (1990), Psikologi Pendidikan, Rajawali Pers, Jakarta.
  4. Sunaryo K. dan Nyoman D., (1996/1997) Landasan-Landasan Pendidikan Sekolah
  5. Dasar, Bagian Proyek Pengembangan Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Dirjendikti, Depdiknas.
  6. Suparno, P., (1997), Filsafat Konstrukstivisme dalam Pendidikan, Kanisius, Yogyakarta.
  7. Yelon L.S. dan Weinstein, W.G., (1977), A Teacher's World Psychology in the Clasroom, McGraww-Hill International Book Company, Tokyo.
Copyright © 2014-2015 REFERENSI PENDIDIKAN Powered by Blogger - All Rights Reserved