REFERENSI PENDIDIKAN

Program Pelatihan Outbound Pendidikan Luar Sekolah

http://ewintribengkulu.blogspot.com/2012/11/program-pelatihan-outbound-pendidikan-luar-sekolah.html

a. Pengetian pelatihan

Pelatihan merupakan suatu proses belajar mengajar dengan mempergunakan teknik dan metode tertentu. Konsep dasar pelatihan yang akan dipaparkan meliputi pengertian pelatihan, manfaat pelatihan dan pelatihan satuan Pendidikan Luar Sekolah.

Banyak ahli yang mengartikan pelatihan secara berbeda-beda namun pada intinya pelatihan merupakan aktivitas Pendidikan Luar Sekolah. Secara lebih jelas dalam Instruksi Presiden Nomor 15 Tahun 1974, (Roni Artasasmita 1985 : 20) menyatakan bahwa:

Pelatihan adalah bagian pendidikan yang menyangkut proses belajar untuk memperoleh dan meningkatkan keterampilan diluar sistem pendidikan yang berlaku dalam waktu yang relatif  singkat dengan metode yang lebih mengutamakan praktek daripada teori.
Sedangkan menurut Poerwadaminta (Roni Artasasmita, 1985:21) adalah :
Latihan dapat di definisikan sebagai suatu kegiatan pendidikan yang dilakukan dengan sengaja, terorganisir, dan sistematik diluar sistem persekolahan untuk memberikan dan meningkatkan suatu pengetahuan dan keterampilan kepada kelompok tertentu dalam waktu yang relative singkat dengan metode yang lebih mengutamakan praktek daripada teori, agar mereka memperoleh pengetahuan, sikap dan keterampilan dalam memahami dan melaksanakan suatu pekerjaan tertentu dengan cara yang efisien dan efektif.
b. Unsur-Unsur Pelatihan

Pelatihan mempunyai unsure-unsur bersifat umum,yaitu :
  1. Latihan mengandung tujuan yang hendak dicapai.
  2. Latihan dilaksanakan dengan sengaja.
  3. Latihan memberikan suatu pengetahuan serta keterampilan pekerjaan tertentu.
  4. Latihan berlangsung diluar sistem persekolahan.
  5. Latihan dilasanakan dalam waktu relative singkat.
  6. Latihan lebih menitikberatkan praktek daripada teori.
Dari uraian diatas memberikan gambaran bahwa latihan merupakan sarana yang tepat guna meningkatkan dan mengubah potensi yang terdapat pada diri setiap individu menjadi kemampuan berpikir dan bekerja yang dibutuhkan dalam kehidupannya.

c. Tujuan Pelatihan

Kegiatan apa saja yang dilakukan sudah pasti memiliki arah yang dituju, baik dalam jangka waktu yang pendek maupun dalam waktu yang jangka panjang. Arah atau tujuan yaitu rencana yang dinyatakan sebagai hasil yang harus dicapai. Tujuan latihan merupakan acuan didalam penyusunan program pelaksanaan dan pengawasannya. Pada umumnya tujuan latihan berhubungan erat dengan jenis latihan yang dilakukan.

Menurut Mills dan Roni artasasmita (1985: 20) menyatakan bahwa tujuan pelatihan adalah : “untuk menolong peserta pelatihan agar memperoleh keterampilan, sikap dan kebiasaan berpikir dengan efisien dan efektif”.

Uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa tujuan dari pelatihan yaitu untuk membantu warga belajar dalam memperoleh pengetahuan, sikap, keterampilan yang dapat diterapkan langsung dalam kehidupannya. Hal ini terus saja dapat terjadi jika seseorang menyadari betul potensi diri yang dimilikinya dan senantiasa perlu dikembangkan melalui usaha peningkatan kemampuan kerja, disamping latihan itu harus melahirkan perubahan dalam kebiasaan bekerja dari warga belajar secara aktif.

d. Prinsip-prinsip Umum Pelatihan

Demi terlaksananya pelatihan dengan baik, kiranya setiap fasilitator atau penyelenggara pelatihan harus mempertimbangkan prinsip-prinsip latihan sebagai berikut :
  1. Pebedaan-perbedaan individu
  2. Motivasi
  3. Partisipasi aktif
  4. Memilih peserta pelatihan
  5. Memilih pelatih
  6. Metode pelatihan
  7. Prinsip pelatihan  (Moekijat 2003 : 20 )
Stimulus mutlak diperlukan dalam pelaksanaan kegiatan pelatihan, sehingga warga belajar akan termotivasi untuk mengikuti kegiatan pembelajaran secara sungguh-sungguh. Fasilitator yang berpotensi dan berpengalaman merupakan tuntunan yang akan menunjang terhadap keberhasilan dari kegiatan tersebut. Untuk itu haruslah orang yang terlatih. Begitupula dengan metode latihan dan prinsip belajar harus dipertimbangkan dan sesuai dengan jenis latihan yang diberikan.

e. Manfaat Pelatihan

Beberapa manfaat yang berharga dari pelatihan adalah :
  1. dapat memberikan pengetahuan dan keterampilan mengenai suatu pekerjaan.
  2. dapat memberikan dasar yang lebih luas bagi pendidikan lanjutan.
  3. dapat menambah pengalaman terhadap wawasan suatu pekerjaan
  4. dapat meningkatkan keterampilan dalam suatu pekerjaan.
  5. dapat menghasilkan efisiensi dan efektivitas dalam mengerjakan suatu pekerjaan.
  6. dapat memberikan rasa puas terhadap suatu pekerjaan.
  7. dapat memberikan rasa sadar terhadap kesempatan untuk mencapai suatu kemajuan.
  8. dapat menambah perasaan tanggung jawab terhadap suatu pekerjaan.
  9. dapat menambah kemampuan untuk menggunakan sumber-sumber manusia atau materi yang belum dimanfaatkan.
  10. dapat memperkecil kecelakaan dalam melakukan suatu pekerjaan.
  11. dapat memberikan keterampilan untuk melakukan perbaikan dalam suatu pekerjaan.
  12. dapat menberikan didikan untuk melakukan suatu pekerjaan dengan cara yang lebih baik.
  13. dapat meningkatkan semangat kerja.
  14. dapat meningkatkan kualitas dan kuantitas produktifitas kerja.
  15. dapat mengurangi pengawasan terhadap suatu pekerjaan.
  16. dapat meningkatkan kestabilan dan keluwesan organisasi.
f. Perencanaan Program Pelatihan

Perencanaan program pelatihan merupakan kegiatan merencanakan program pelatihan secara menyeluruh. Menurut Mudjiman (Moekijat, 1993; 56) kegiatan perencanaa pelatihan pada umumnya adalah sebagai berikut:
  1. Menetapkan pengelola dan staf pembantu program pelatihan.
  2. Menetapkan tujuan pelatihan.
  3. Menetapkan bahan ajar pelatihan.
  4. Menetapkan metode-metode yang akan digunakan.
  5. Menetapkan alat bantu pelatihan.
  6. Menetapkan cara evaluasi pelatihan.
  7. Menetapkan tempat dan waktu pelatihan.
  8. Menetapkan instruktur pelatihan.
  9. Menyusun rencana kegiatan dan jadwal pelatihan.
  10. Menghitung anggaran yang dibutuhkan.
Rencana pelatihan harus di review berulangkali dengan melibatkan berbagai narasumber, baik pada tataran substansif maupun teknis penyelenggaraan pelatihan.

g. Penyusunan Bahan Pelatihan

Bahan pelatihan merupakan salah satu penentu keberhasilan suatu pelatihan. Menurut Mudjiman (Ratna Komalasari, 2006: 57) bahan yang perlu disiapkan diantaranya adalah :
  1. Tujuan belajar dan silabi.
  2. Bahan ajar dan hand out.
  3. Pustaka pendukung.
  4. Komputer dengan fasilitas internet.
  5. Alat-alat bantu belajar.
Peran instruktur: para instruktur berperan penting dalam seluruh kegiatan persiapan ini. Khususnya dalam penyiapan bahan ajar dan segala hal yang dibutuhkan dalam proses pembelajaran. Para pengelola dengan staf pembantu menyiapkan segala hal yang bersangkutan dengan proses penyelenggaraan pelatihan dalam aspek teknis, seperti penyiapan tempat pelatihan, penginapan, kertas dan alat tulis, dan sebagainya.

h. Pelaksanaan Pelatihan

Pelaksanaan pelatihan mengikuti rencana yang telah ditetapkan. Akan tetapi di dalam pelaksanaannya selalu banyak masalah yang memerlukan pemecahan. Pemecahan masalah sering berakibat adanya keharusan mengubah beberapa hal dalam rencana tetapi perubahan dan penyelesaian apapun yang dilakukan harus selalu berorientasi pada upaya mempertahankan kualitas pelatihan, menjaga kelancaran proses pelatihan, dan tidak merugikan kepentingan partisipan.

Perkenalan pada awal pelaksanaan pelatihan, partisipan perlu memperkenalkan diri, agar dikenal baik oleh instruktur maupun koleganya sesama partisipan. Instruktur pun perlu memperkenalkan diri, kesempatan ini dapat digunakan untuk menyampaikan harapan instruktur tentang apayang perlu dilakukan oleh partisipan agar proses pembelajaran berjalan lancer, dan partisipan dapat mengambil manfaat optimal dari pelatihan, khususnya dan mata pelajaran yang diambilnya.

Acara review pengalaman: pada awal pelatihan juga perlu diadakan secara khusus review pengalaman partisipan. Dalam acara ini partisipan menyampaikan pengalamannya dalam melaksanakan tugas di lembaga atau unit kerjanya. Perlu disampaikan apa tugasnya, masalah apa yang dihadapi, bagaimana ia mengatasi, dan sebagainya. Pada kesempatan ini instruktur mencatat pengetahuan yang dialami partisipan pada umumnya, dam catatan-catatan khusus tentang partisipan yang memiliki pengalaman banyak di bidangnya. Mereka adalah partisipan potensial yang kemungkinan dapat memberikan banyak sumbangan dalam proses pembelajaran di kelas, khususnya dalam diskusi-diskusi.

Dirangsang untuk memanfaatkan pengalaman: pengalaman partisipan adalah modal untuk pembelajaran selanjutnya. Maka dari itu, instruktur harus dapat merangsang partisipan agar memanfaatkan pengalaman yang telah dimilikinya. Cara sederhana adalah dengan meminta secara langsung kepada partisipan untuk mengomentari apa yang baru saja disampaikan instruktur. Kesempatan memberikan komentar harus diberikan kepada sebanyak mungkin partisipan di kelas. Komentar yang diberikan oleh partisipan selalu terkait dengan pengalaman yang telah dimilikinya. Dengan memberikan komentar, dan dengan mendengarkan komentar partisipan yang lain serta ulasan instruktur, partisipan akan dapat mengembangkan pengetahuan baru dan memperkaya pengetahuan yang telah dimilikinya.

Refrensi:
  1. Artasasmita, R. (1985). Pedoman Merancang Sistem Kursus dan Latihan. Bandung : PLS FIP IKIP.
  2. Moekijat. (1993). Evaluasi Pelatihan dalam Rangka Peningkatan Produktivitas Perusahan. Bandung : Mandar Maju.
  3. Komalasari, R. (2003). Studi Deskriptif tentang Pembinaan Ekstrakurikuler Bidang Agri Bisnis dalam Upaya Meningkatkan Motivasi Usaha Siswa di SMU Negeri 1 Lembang Pemerintahan Kabupaten Bandung. Skripsi Program Sarjana Universitas Pendidikan Indonesia Jurusan Pendidikan Luar Sekolah. Bandung : tidak diterbitkan.
Copyright © 2014-2015 REFERENSI PENDIDIKAN Powered by Blogger - All Rights Reserved