REFERENSI PENDIDIKAN

Sejarah kolonisasi bangsa Inggris di Amerika

http://ewintribengkulu.blogspot.com/2012/11/sejarah-kolonisasi-inggris-ke-amerika.html

a. Penjelajahan Bangsa Inggris ke Amerika

Para penjelajah Inggeris juga tidak mau ketinggalan dalam meramaikan penjelajahan dunia. Dimulai dengan penjelajahan John Cabot (pedagang Genoa yang tinggal di London), yang berniat berlayar ke Brazil tetapi mendarat di Canada (Newfoundland) tahun 1497, penjelajan Inggeris berusaha menemukan "daerah baru", seperti penjelajah Drake (1577-1580) yang berhasil mengelilingi dunia, Gilber, dan Releigh menjelajah daratan Amerika Utara.

Kebijaksanan politik Ingeris dalam melakukan kolonisasi di Amerika Utara sejak abad ke-16 berkaitan dengan situasi politik di dalam negeri. Walaupun klaim Inggeris terhadap Amerika Utara berlangsung sejak penjelajahan John Cabot (1497), klaim tersebut tidak diikuti dengan tindakan nyata. Pada akhir abad ke-16 Monarki Tudor telah mengubah kerajaan Inggeris sebagai kekuatan utama di Eropa yang siap bersaing dengan negara-negara lainnya dalam melakukan eksploitasi benua baru. Setelah keluar dari krisis monarki abad ke-15 yang dikenal dengan "Wars of Roses" atau perang-perang bunga ros dalam tubuh keluarga monarki, Inggeris memasiki abad ke-16 memperoleh pemerintahan yang kuat di dalam negeri. Tampilnya keluarga Tudor yang dipirnpin oleh Henry VII (1485-1509) dan Henry VIII (1509-1547) ditandai dengan upaya mempersatukan semua keluarga monarki yang bertikai dan menyatukan kesetiaan semua warga negara terhadap tahta kerajaan. Pada masa pemerintahannya, Henry VIII telah dapat memperoleh kekuasaannya atas semua keluarga kerajaan, kecuali atas kekuasaan Paus di Roma. Ketika istri pertama Henry, Catherine of Aragon tidak melahirkan anak laki-laki sebagai putra mahkota, Henry meminta Paus di Roma untuk membatalkan perkawinannya. Ketika Paus menolak, Henry menentang Paus dan meminta Parlemen Inggeris untuk memutuskan hubungan dengan Gereja Katholik di Roma. Akhirnya Parlemen pada tahun 1534 sepakat untuk menghasUkan undang-undang yang mengesahkan terbentuknya sistem gereja Inggeris yang berada di bawah kekuasaan Raja Inggeris. Dengan undang-undang tersebut, Henry, sebagai raja Inggeris memiliki kewenangan atas pajak yang dipungut oleh gereja serta tanah yang dikuasainya. Peristiwa tersebut merupakan saluran bagi terbentuknya reformasi gereja dan protestanisme di Inggeris.

Setelah memperoleh kekuatan politik di dalam negeri, Henry berusaha meningkatkan kekuatan ekonomi dalam negeri melalui perdagangan luar negeri. Sistem pemagaran tanah atau enclosure telah mampu meningkatkan produktifitas pertanian dan peternakan sehingga mampu meningkatkan ekonomi Inggeris melalui ekspor wool dan hasil pertanian. Sistem tersebut juga telah menguntungkan golongan tuan tanah dan para pedagang Namun demikian, akibat dari sistem tersebut telah banyak petard yang kehilangan lahan garapannya dan meningkarnya urbanisasi. Antara tahun 1560-1625 penduduk Inggeris telah meningkat tiga kali lipat sehingga menimbulkan kesan pada pemerintah dan warga Inggeris bahwa kota-kota besar mereka telah berpenduduk terlalu banyak (overpopulated). Untuk mengatasinya, pemerintah Inggeris berusaha mencari daerah koloni baru sebagai tempat tinggal warganya. Amerika sebagai benua baru merupakan pilihan utama untuk tujuan itu. Kaum migran yang dikirim Inggeris diharapkan akan mampu meningkatkan produktifitasnya untuk kepentingan ekonomi kerajaan Inggeris, seperti halnya telah dilakukan oleh bangsa Spanyol di New Spain, Amerika.

Dalam merealisasikan tujuan itu, Ingeris harus bersaing dengan Spanyol. Setelah mendapat laporan dari Richard Hakluyt, seorang pendukung kolonisasi Inggeris di Amerika yang menyatakan bahwa Spanyol merupakan ancaman utama bagi kepentingan kolonisasi Inggeris di benua baru tersebut, Inggeris mulai meninjau hubungan persahabatannya dengan Spanyol. Pada masa pemerintahan Elizabeth I (1558-1603) hubungan Inggeris dan Spanyol putus yang disebabkan oleh putusnya hubungan gereja Inggeris dengan Roma dan dukungan Inggeris terhadap gereja Protestan Belanda dalam melawan gereja Katholik Spanyol.

Pada tahun 1560-an, John Hawkins merebut sejumlah pangkalan dagang Spanyol di kepulauan Caribia dan menjual budak-budak Afiika terhadap pengusaha perkebunan di kawasan itu. Saudara sepupu Hawkins, Francis Drake juga merebut West Indies Spanyol tahun 1570-an. Antara tahun 1577-1580, Drake merebut kapal Spanyol yang bermuatan emas di kawasan Pasifik dan mendirikan Calofonu'a. Sedangkan perusahaan Cathay membiayai perjalanan Martin Frobister (1576-1578) untuk mengeksplorasi daerah Kanada. Keberhasilan para penjelajah Ingeris di Amerika terhadap kedudukan Spanyol tersebut mendorong Inggeris untuk mengintensifkan kolonisasinya atas Amerika Utara. Atas dukungan pemerintah Inggeris, Sir Humprey Gilbert (1539-1583) berhasil mendaratkan 200 pemukim potensial di Newfoundland tahun 1583 dan diteruskan oleh sudara tirinya, Sir Walter Raleigh (1552-1618) yang mendirikan koloni Virginia atas penghargaan terhadap ratu Elizabet I yang masih virgin atau perawan. Sedangkan upaya untuk mendirikan koloni di Pulau Roanoke gagal setelah tahun 1590 diketahui bahwa semua pemukim di sana telah musnah yang sampai sekarang tidak diketahui penyebabnya.

Kegagalan dalam mendirikan beberapa koloni di Amerika Utara dijadikan bahan pelajaran oleh Ratu Elizabeth I. Pertama, keberhasilan kolonisasi tergantung pada sumber pertanian agar para pemukim tidak tergantung pada orang-orang Indian. Kedua; kaum kolonis harus memelihara hubungan langsung dengan negeri induk, Inggeris. Ketiga, perkembangan koloni tergantung pada dukungan finansial melalui perusahaan pasar modal yang dikelola secara profesional. Upaya terakhir tersebut baruterwujud pada awal abad ke-17.

b. Migrasi kaum Puritan ke Amerika.

Migrasi sekelompok penganut agama dari Inggeris ke benua Amerika berkaitan dengan konflik dalam kehidupan agama di Inggeris. Perpecahan hubungan antara gereja di Inggeris dengan Gereja Katholik Roma pada masa Henry Vin (1509-1547) telah mengubah tatanan keagamaan di Inggeris yang disusul dengan perubahan-perubahan kebijaksanaan yang dilakukan oleh raja-raja seterusnya. Raja Edward VI (1547-1558) mencoba menerapkan Protestanisme dalam kehidupan agama. Sedangkan anak Henry yang bernama Mary (1553-1558) mencoba mengembalikan kehidupan agama Katholik di bawah pengaruh Paus di Roma. Sedangkan Elizabeth I (1558-1603) mencoba mencari jalan tengah antara ajaran Katholik dengan Protestan. Sikap Elizabeth ini sama dengan Henry VIII yang menempatkan Raja Inggeris sebagai pemimpin Gereja Inggeris tetapi masih mengakui beberapa prinsip ajaran Katholik, kecuali kepemimpinan Paus di Roma. Selama pemerintahan Mary, banyak penganut Protestan meninggalkan Inggeris menuju daratan Eropa untuk menghindari penyiksaan. Ketika Elizabeth naik tahta tahun 1553, mereka kembali ke Inggeris dan menuntut agar sikap kompromi Ratu Elizabeth terhadap tradisi Katholik yang masih dianutnya dihapuskan. Kelompok penganut Protestan "radikal" yang kemudian dikenal dengan Puritan tersebut menginginakan adanya reformasi dan pembersihan gereja Inggeris dari pengaruh Katholik.

Puritan sebagai aliran agama mendapat dukungan yang luas dari berbagai kalangan mulai dari orang-orang Inggeris yang tidak puas dengan keadaan sosial saat itu seperti pengangguran, perampasan tanah akibat esclosure, serta para pedagang dan kaum aristokrat yang mengalami kesulitan ekonomi akibat imflasi. Dalam menjalankan kehidupan agamanya, mereka menghendaki pentingnya memelihara ketertiban dalam beragama dan kehidupan sosial. Para penganutnya percaya bahwa Puritan bukan hanya mampu menjelaskan pengalaman-pengalaman religius penganutnya melainkan juga bisa dijadikan alat untuk memecahkan masalah-masalah sosial. Karena rasa tidak puas dengan kondisi di Inggeris tersebut sebagian penganut Puritan memilih berimigrasi ke benua baru Amerika, terutama New England. Dengan demikian, migrasi orang-orang Inggeris ke Amerika bukan hanya disebabkan karena daya tank Amerika melainkan juga rasa tidak puas warganya terhadap situasi di Inggeris.

Para pembangkang Protestan yang tidak setuju dengan Gereja Anglikan di Inggeris sebenarnya terbelah menjadi dua kelompok, yaitu Separatist dan Puritan (non separatis). Walaupun kedua aliran tersebut sepakat mengenai aspek-aspek penting dalam kehidupan agama, keduanya memiliki perbedaan pandangan mengenai kedudukan gereja. Aliran Puritan, yang lebih moderat dan memiliki jumlah pengikut lebih banyak, percaya bahwa Gereja Inggeris merupakan gereja yang "benar" walaupun masih perlu direformasi. Menurut para pendukungnya, adalah penting bagi seorang Kristen untuk tetap menjalin hubungan dan beribadah di gereja Inggeris (Anglikan) untuk meningkatkan upaya reformasi mereka. Sedangkan menurut penganut Separatis, beribadah di gereja Anglikan merupakan perbuatan dosa, karena itu penganutnya hanya boleh beribadah di gerejanya. Dalam kehidupan religi, pengaruh Puritan nampak lebih besar pada kehidupan agama dan politik di New England.

c. Awal Kolonisasi Inggris ke Amerika Utara

Kolonisasi awal Amerika Utara oleh Inggeris mulai lebih intensif sejak pemerintah dipegang oleh Raja James I (1603-1625) yang berasal dari keluarga Stuart. Untuk mempermudah kaum kolonis memperoleh wilayah di Amerika Utara, Raja James I mendekati kembali Spanyol dan mengadakan perjanjian damai tahun 1604. Setelah perjanjian tersebut, Inggeris mulai menata kembali rencananya mengenai kolonisasi atas Virginia. Didorong oleh kepentingan ekonomi, dua kelompok pedagang yaitu Virginia Company dan Virginia Company of Plymouth meminta raja Inggeris untuk mendirikan perusahaan pasar modal untuk membiayai kolonisasi Amerika Utara. Setelah itu berbondong-bondong kaum migran dari Inggeris mendatangi benua baru tersebut. Namun demikian, karena ganasnya alam Virginia dan tidak cocoknya iklim di sana menyebabkan ribuan kaum migran mati. Dalam tahun 1622 tercatat 6000 migran mati dari 8000 yang sudah bermukim di sana. Kematian tersebut ternyata tidak menyurutkan kaum pionir, kaum imigran pekerja keras, untuk terus mencari sumber daya alam bagi keuntungan komersial. Percobaan John Rolfe di bidang tanaman tembakan tahun 1622 ternyata membuahkan hasil. Setelah dikembangkan bertahun-tahun, akhirnya Virginia menjadi daerah koloni yang sangat subur bagi produksi tembakau dan mampu meningkat ekonomi koloni tersebut. Model kolonisasi awal Amerika Utara, selain atas sponsor pemerintah Ingeris juga dilakukan oleh perusahaan-perusahaan dagang yang mencari komoditi ekspor. Virginia dan Massachussetts merupakan contoh dari dua daerah koloni yang dikembagkan oleh perusahaan-perusahaan swasta yang juga mendapat sponsor dari Raja Inggeris. Para migran kaya yang juga pengusaha berani mengeluarkan biaya dalam jumlah besar untuk mengongkosi para pekerja dari Inggeris. Mereka mendirikan pusat-pusat pemukiman kaum migram yang kemudian menjadi daerah-daerah koloni yang memiliki model pemerintahan sendiri. Pusat-pusat pemukiman seperti New Hampshire, Maine, Maryland, Carolina, New Jersey dan Pensylvania, adalah kepunyaan para pengusaha yang berasal dari kalangan bangsawan kaya yang menyewa tanah tersebut dari raja Inggeris dengan bayaran yang sangat rendah atau hanya bersifat lambang saja. Misalnya Lord Baltimore hanya memberikan dua buah anak panah kepada raja setiap tahunnya dan william Penn hanya memberikan dua lembar kulit binatang.

Dengan karakteristik daerah koloni dan asal usul yang berbeda-beda namun memiliki persamaan dalam hal dibangun oleh kaum imigran para pertengahan abad ke-17 telah terbentuk tiga belas daerah koloni di Amerika Utara, yaitu New Hampshire, Massachusetts, Rhode Island, Connecticut, Delaware, New York, New Jersey, Pennsilvania, Maryland, Virginia, North Carolina, South Carolina dan Georgia. Ketiga belas daerah koloni tersebut menjadi cikal bakal terbentuknya Amerika Serikat tahun 1776 setelah meletusnya revolusi yang digerakkan oleh kaum kolonis.

Berbagai motivasi orang-orang Eropa bermigrasi ke benua baru Amerika pada abad ke-16. Motivasi agama, seperti yang dijelaskan di atas merupakan faktor penting. Selain dari Inggeris, banyak juga orang-orang Jerman dan Irlandia bermigrasi ke Pennsylvania dan North Carolina berusaha mencari kebebasan agama. Demikian juga dengan faktor politik. Banyak orang-orang dekat kerajaan dari kalangan aristokrat yang tidak setuju dengan kesewenang-wenangan Raja Charles I tahun 1640-an meninggalkan Inggeris menuju Virginia. Faktor ekonomi bekaitan dengan banyaknya kaum imigran yang berlatarbelakang ekonomi tidak mampu di Inggeris dan belahan Eropa lainnya berusaha mencari kehidupan yang lebih baik di Amerika. Bagi mereka yang tidak mampu membayar biaya perjalanannya akan ditangngung oleh perusahan yang kelak akan mempekerjakan mereka di negeri baru. Sebagian di antara mereka juga adalah tawanan di Inggeris dan kelak menjadi pelayan kontrak di Amerika. Imigran setengah budak Eropa tersebut menjadi pemukim koloni-koloni Amerika setelah mereka dibebaskan oleh majikannya menyusul selesainya masa kontrak mereka.

Ketiga belas daerah koloni baru di Amerika tersebut didirikan oleh kaum kolonis dalam jumlah kecil pada awal abad ke-17. Koloni Virginia pertama kali dihuni oleh seratus kolonis tahun 1607 yang kemudian berkembang menjadi pusat penghasiian tembakau yang sangat baik kualitashya. Sedangkan Maryland pertama kali didirikan oleh seorang pioner benama George Calvert. Calvert sebagai seorang penganut katholik Roma mengembangkan koloni ini sebagai pusat penghasil tembakau, gandum dan jagung. Walaupun pendirinya beragama katholik para pemukim di koloni ini sebagian besar berasal dari kalangan Protestan Undang-undang Tolerasi Agama yang dikeluarkan tahun 1649 menjamin tolerasi kehidupan agama di Maryland. Pada tahun 1660 Maryland dan Virginia berkembang menjadi koloni-koloni yang memiliki persaman di bidang agraria (penghasil tembakau), politik dan pemerintahan sendiri. Karena kebutuhan akan tenaga kerja di bidang industri tembakau. kedua koloni tersebut menerapkan sistem perbudakan terhadap penduduk kulit hitam dari Afrika.

New England pertama kali dihuni secara permanen sebagai sebuah koloni oleh sekelompok "pejiarah" atau the Pilgrims tahun 1620. Kaum pejiarah ini merupakan kelompok Separatis yang pemah mengungsi ke Belanda tahun 1607 untuk menghindari tuntutan penguasa Inggeris. Walaupun memperoleh kebebasan di bidang agama di Belanda, kelompok ini menderita secara ekonomi. Kbndisi ini dimanfaatkan oleh London Company untuk mengangkut mereka dengan kapal Mayflower ke New England dan diperkerjakan di perusahaan tersebut. Kelompok ini bermukim di Plymouth Coloni yang tidak berkembang dengan baik. Akhirnya koloni ini digabuingkan dengan Massacussett Bay tahun 1691 yang berkembang lebih cepat.

Pada tahun 1643, koloni-koloni yang berada di wilayah New England seperti Massachusetts Bay, Connecticut, Plymouth dan New Haven membentuk konfederasi untuk menghadapi klaim Belanda dan menciptakan kebijaksanaan bersama menghadapi orang-orang Indian. Koloni-koloni tersebut tidak akan lagi menggantungkan bantuan dari Inggeris yang pada saat itu sedng dilanda perang sipil. Mereka ingin menunjukkan independensinya dari negeri induk mereka, Inggeris. Namun demikian, antara tahun 1660-1700, Inggeris masih terus berusapa memperluas daerah koloninya dengan cara memaksakan dan mempengaruhi penguasa di daerah koloni tersebut. Koloni-koloni tersebut tetap menjadi bagian dari imperium Inggeris.

Dengan banyaknya kelompok imigran dari berbagai negara seperti Inggeris, Jerman, Belanda Irlandia, Skotlandia, Swiss, Perancis dan lain-lain maka sejak tahun 1680 koloni Amerika telah menjadi pusat percampuran kebudayaan dari berbagai negara. Dari jumlah seperempat juta penduduk berbagai ras dan etnik tahun 1690 telah meningkat menjadi 25 juta tahun 1775. Namun demikian karena jumlah orang Inggeris mencapai sembilan puluh persen dari jumlah kelompok migran maka kebudayan Inggeris tetap dominan di ketigabelas daerah koloni tersebut. Kebudayan Inggeris yang berkembang di sana tentu saja telah menyesuaikan diri dengan lingkungan baru Amerika yang juga dipengaruhi oleh kebudayaan golongan migran yang dibawa dari Eropa.

Refrensi:

Supriana, Nana. 2012. Bangsa Amerika. Tidak Diterbitkan.
Copyright © 2014-2015 REFERENSI PENDIDIKAN Powered by Blogger - All Rights Reserved