REFERENSI PENDIDIKAN

Teori Belajar Behaviorisme dan Implikasinya terhadap Pendidikan

http://ewintribengkulu.blogspot.com/2012/11/teori-belajar-behaviorisme-dan-implikasinya-terhadap-pendidikan.html

Teori belajar Behaviorisme didasarkan pada asumsi bahwa: (1) hasil belajar adalah berupa perubahan tingkah laku yang dapat diobservasi; (2) tingkah laku dan perubahan tingkah laku sebagai hasil belajar dimodifikasi oleh kondisi-kondisi lingkungan; (3) komponen teori behavioral ini adalah stimulus, respon dan konsekuensi; (4) faktor penentu yang penting sebagai kondisi lingkungan dalam belajar adalah reiforcement. Tokoh teori belajar Behaviorisme antara lain B. F. Skinner.

Penganut teori belajar Behaviorisme memandang belajar sebagai suatu sistem respons tingkah laku terhadap rangsangan fisik. Mereka mengutamakan akibat atau konsekuensi dari suatu penguatan (reinforcement), praktek atau latihan, dan motivasi eksternal. Guru yang menganut teori ini, biasanya merencanakan kurikulum dengan menyusun isi pengetahuan menjadi bagian-bagian kecil yang ditandai dengan suatu keterampilan tertentu. Selanjutnya bagian-bagian itu disusun secara hierarki, dari yang sederhana sampai yang kompleks. Peserta didik dipandang sebagai makhluk yang pasif, yang membutuhkan motivasi dari luar dan dipengaruhi oleh reinforcement. Sebab itu mereka mengembangkan kurikulum yang terstruktur dengan baik dan menentukan bagaimana siswa seharusnya dimotivasi, dan dievaluasi.Kemajuan belajar siswa diukur dengan hasil yang dapat diamati.
Implikasi konsep-konsep teori belajar Behaviorisme terhadap pendidikan adalah sebagaimana dirangkumkan oleh Yelon dan Weinstein (1977) berikut ini:
  1. Individualisasi: perlakuan individual didasarkan kepada tugas, ganjaran dan disiplin.
  2. Motivasi: motivasi belajar bersifat ekstrinsik melalui pembiasaan secara terusmenerus atau melalui reinforcement.
  3. Metodologi: metode belajar dijabarkan secara rinci untuk mengembangkan keterampilan dan pengetahuan tertentu, dan menggunakan teknologi.
  4. Tujuan kurikuler: berpusat pada pengetahuan dan keterampilan akademis serta tingkah laku sosial.
  5. Bentuk pengelolaan kelas: pengelolaan kelas berpusat pada guru, hubunganhubungan sosial hanya merupakan cara untuk mencapai tujuan dan bukan tujuan yang hendak dicapai.
  6. Usaha mengefektifkan mengajar: yaitu dengan cara menyusun program secara rinci dan bertingkat serta mengutamakan penguasaan bahan atau keterampilan,
  7. Partisipasi: peserta didik mungkin pasif.
  8. Kegiatan belajar peserta didik: pemahiran keterampilan melalui pembiasaan setahap demi setahap secara rinci.
  9. Tujuan umum: kemampuan mengerjakan sesuatu (kompetensi).
Copyright © 2014-2015 REFERENSI PENDIDIKAN Powered by Blogger - All Rights Reserved