REFERENSI PENDIDIKAN

Teori Belajar Kognitif dan Implikasinya terhadap Pendidikan

http://ewintribengkulu.blogspot.com/2012/11/teori-belajar-kognitif-dan-implikasinya.html

Jerome Bruner dan Jean Piaget adalah dua orang tokoh teori belajar Kognitif. Teorinya didasarkan pada asumsi bahwa: (1) individu mempunyai kemampuan memproses informasi. (2) kemampuan memproses informasi tergantung kepada faktor kognitif yang perkembangannya berlangsung secara bertahap sejalan dengan tahapan usianya. (3) belajar adalah proses internal yang kompleks berupa pemrosesan informasi; (4) hasil belajar adalah berupa perubahan struktur kognitif; (3) cara belajar pada anak-anak dan orang dewasa berbeda sesuai tahap perkembangannya. Berkenaan dengan ini, coba Anda ingat-ingat kembali teori tahap-tahap perkembanagan kognitif dari Jean Piaget dan Jerome Bruner yang telah Anda pelajari. 

Piaget mengemukakan, bahwa setiap makhluk hidup perlu beradaptasi dan mengorganisasi lingkungan fisik di sekitarnya agar tetap hidup. Bagi piaget pikiran dan tubuh juga terkena aturan main yang sama. Oleh karena itu, ia berpikir bahwa perkembangan pemikiran juga mirip dengan perkembangan biologis, yaitu beradaptasi dengan dan mengorganisasi lingkungannya. Menurut Piaget (1971) bahwa teori pengetahuan itu pada dasarnya adalah teori adaptasi pikiran ke dalam suatu realitas, seperti organisme beradaptasi ke dalam lingkungan.

Sebagaimana dijelaskan Paul Suparno (1997), Piaget berpendapat bahwa pikiran manusia mempunyai struktur yang disebut skema atau skemata. Skema adalah suatu struktur mental atau kognitif yang dengannya seseorang secara intelektual beradaptasi dan mengkoordinasi lingkungan sekitarnya. Skemata itu akan beradaptasi dan berubah selama perkembangan mental anak. Orang dewasa mempunyai banyaak skema. Skema ini digunakan untuk memproses dan mengidentifikasi rangsangan yang datang. Anak yang baru lahir memiliki sedikit skema, yang dalam perkembangannya kemudian menjadi lebih umum, lebih terperinci dan lebih lengkap.

Adaptasi intelektual manusia dilakukan dengan dua cara, yaitu melalui asimilasi dan akomodasi. Asimilasi adalah proses kognitif yang dengannya seseorang mengintegrasikan persepsi, konsep, ataupun pengalaman baru ke dalam skema atau pola yang sudah ada di dalam pikirannya. Asimilasi dapat dipandang sebagai suatu proses kognitif yang menempatkan dan mengklasifikasikan kejadian atau rangsangan yang baru ke dalam skema yang telah ada. Proses asimilasi ini berjalan terus.

Apabila seseorang tidak dapat mengasimilasikan rangsangan atau pengalaman yang baru karena sama sekali tidak cocok dengan skema yang ada dalam pikirannya, maka orang itu akan melakukan akomodasi, yaitu: (1) membentuk skema baru yang dapat cocok dengan rangsangan atau pengalaman baru itu, atau (2) memodifikasi skema yang ada sehingga cocok dengan rangsangan atau pengalaman baru itu. Skema adalah hasil suatu konstruksi, sebab itu skema bukan tiruan dari kenyataan dunia yang ada.

Dalam perkembangan kognitif seseorang diperlukan keseimbangan antara asimilasi dan akomodasi. Proses atau keadaan itu disebut equilibrium , yaitu pengaturan diri secara mekanis untuk mengatur keseimbangan proses asimilasi dan akomodasi. Apabila asimilasi dan akomodasi tidak seimbang, keadaan itu disebut disequilibrium. Sedangkan proses dari disequilibrium ke equilibrium disebut equilibration. Equilibration terus berlangsung pada diri seseorang melalui asimilasi dan akomodasi. Equilibration membuat seseorang dapat menyatukan pengalaman luar dengan struktur dalamnya (skemata). Bila terjadi ketidakseimbangan maka seseorang dipacu untuk mencari keseimbangan dengan jalan asimilasi dan akomodasi.

Menurut Piaget, skema berkembang sejalan dengan tahap-tahap perkembangan mental/kognitif individu. Jadi secara konseptual bahwa perkembangan kognitif berjalan dalam semua tahap perkembangan pemikiran seseorang sejak lahir sampai dewasa. Pengetahuan dibentuk oleh individu secara terus menerus. Demikianlah bahwa Piaget tergolong ahli psikologi kognitif yang menganut filsafat konstruktivisme.

Yelon dan Weinstein (1977) mengidentifikasi implikasi konsep-konsep teori belajar Kognitif terhadap pendidikan. Implikasi yang dimaksud adalah sebagai berikut:
  1. Individualisasi: perlakuan individu didasarkan pada tingkat perkembangan kognitif peserta didik.
  2. Motivasi: bersifat intrinsik yang timbul berdasarkan pengetahuan yang telah dikuasai peserta didik.
  3. Metodologi: menggunakan kurikulum dan metode-metode yang berfungsi mengembangkan keterampilan dasar berpikir.
  4. Tujuan Kurikuler: difokuskan untuk mengembangkan keseluruhan kemampuan sensori motor, bahasa, kognitif, adapun interaksi sosial merupakan cara/alat untuk mengembangkan intelegensi.
  5. Bentuk pengelolaan kelas: berpusat pada peserta didik; guru hendaknya berperan untukmembimbing siswa dalam belajar, bereksplorasi dan discovery.
  6. Usaha mengefektifkan mengajar: dengan cara mengutamakan program program pendidikan berupa pengetahuan-pengetahuan yang terpadu, adapun konsep-konsep dan keterampilan harus disusun secara hierarkhis.
  7. Partisipasi peserta didik: peserta didik dituntut berpartisipasi aktif untuk mengembangkan kognitif, peserta didik belajar dengan bekerja.
  8. Kegiatan belajar peserta didik: mengutamakan belajar melalui tilikan (insight learning) dan pemahaman.
  9. Tujuan umum: mengembangkan kemampuan atau fungsi-fungsi kognitif secara optimal dan kemampuan menggunakan kecerdasan secara bijaksana.
Copyright © 2014-2015 REFERENSI PENDIDIKAN Powered by Blogger - All Rights Reserved