Teori Konflik

Konflik merupakan suatu bentuk interaksi sosial ketika dua individu mempunyai kepentingan yang berbeda dan kehilangan keharmonisan di antara mereka. Menurut Dahrendorf dalam Arios (2011), pada dasarnya konflik merupakan hal yang alamiah dan sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Dalam penulisan ini beberapa teori konflik yang akan digunakan adalah teori konflik Karl Marx dan Ralf Dahrendorf dalam Arios (2011), serta Campbell dalam Cahyo (2011). Pemikiran dari ketiga tokoh tersebut mengenai teori konflik akan dijadikan sebagai bahan dalam landasan teori dalam penulisan ini.

Dalam sejarah pemikiran mengenai teori konflik, Karl Marx merupakan tokoh yang pertama mencetuskan teori tersebut. Teori konflik ini muncul sebagai reaksi atau respon dari Karl Marx terhadap teori struktural fungsional yang menyatakan bahwa masyarakat hidup dalam keterikatan dengan tatanan yang ada di lingkungannya, baik itu ikatan hukum penguasa atau negara, keluarga, norma-norma serta nilai-nilai yang ada, salah satunya dalam keyakinan beragama contohnya (Arios, 2011).
Marx sebagai tokoh utama dan pertama teori konflik ini melihat bahwa masyarakat tersusun atas dua kelas yaitu borjuis (penguasa dan pemilik modal) dan proletar (masyarakat kelas rendah). Kedua kelas ini saling bertentangan terutama oleh dalam memperjuangkan sumber-sumber ekonomi. Teori fungsionalis cenderung melihat masyarakat secara informal diikat oleh norma, nilai, dan moral. Sedangkan teori konflik melihat bahwa seluruh keteraturan dalam masyarakat disebabkan adanya pemaksaan terhadap anggotanya oleh para penguasa. Merujuk pada konsep Marx hal ini berarti masyarakat proletar hidup dan bertingkah laku karena adanya pemaksaan untuk melaksanakan aturan-aturan yang ditetapkan oleh kaum burjuis. Golongan fungsionalis fokus pada kohesi yang diciptakan oleh nilai bersama dalam masyarakat. Sedangkan kritik teori konflik memfokuskan pada peran kekuasaan dalam mempertahankan ketertiban dalam masyarakat.http://sosbud.kompasiana.com/2011/10/29/mengapa-ada konflik-ralf-dahrendorf-membicarakannya/
Pandangan Karl Marx atas teori tersebut dan responnya atas teori tersebut memang terbukti di kemudian hari, terutama satu abad setelah masa hidupnya, yakni pada abad ke-20, dimana dunia ini mengalami konflik terbesar dalam sejarah manusia, yakni Perang Dunia I dan Perang Dunia II. Pada awal abad ini masyarakat di Eropa khususnya yang menjadi perhatian dunia pada saat itu mengalami suatu krisis dimana teori struktural fungsional sudah tidak lagi diterapkan di lapangan dalam realitasnya. Masyarakat Eropa sendiri pada saat itu jatuh terhadap pengaruh ideologi-ideologi yang sangat kuat dan berpotensi untuk terjadi konfrontasi antara satu negara dengan negara lainnya dikarenakan perbedaan ideologi, sehingga dengan kata lain norma dan nilai mengenai kehidupan masyarakat yang berlaku sebelumnya tidak berlaku lagi.

Selain teori konflik Karl Marx yang digunakan dalam penulisan ini, teori konflik lainnya yang akan digunakan adalah teori konflik Ralf Dahrendorf. Selain mengkritik teori fungsional struktural tradisional yang dibangun oleh Talcot Parsons karena gagal memahami masalah perubahan, Dahrendorf juga mengkritik toeri konflik Marx. Jika Marx bersandar pada pemilikan alat produksi, maka Dahrendorf bersandar pada kontrol atas alat produksi (Arios, 2011).

Pemikiran dari Dahrendorf berkaitan dalam realitasnya terutama dalam peristiwa Perang Dunia I dan Perang Dunia II. Pada dua peperangan tersebut negara-negara utama yang terlibat dan menyeret dunia ini dalam peperangan terjadi karena didorong oleh persaingan antara satu negara dengan negara lainnya dalam memperebutkan pengaruh dan menjaga hegemoninya serta dalam memenuhi kebutuhan negara-negara tersebut (Darman, 2004: 4).

Pemikiran tersebut memiliki keterkaitan dengan Pertempuran Stalingrad antara pasukan Jerman dengan pasukan Soviet dalam Perang Dunia II. Keterkaitannya dengan peristiwa yang akan menjadi inti pembahasan penulisan ini akan dipaparkan dalam bahasan selanjutnya.

Sedangkan mengenai konflik menurut Campbell (2006: 157) dalam Cahyo (2011) mempunyai derajat kompleksitas dan intensitas yang dapat ditemui dalam individu, kelompok dan negara-negara di seluruh dunia. Konflik pun akan muncul ketika kedua belah pihak ingin mencapai atau merebut tujuan namun tidak ditemukan kesepakatan antara keduanya sehingga akan berujung pada perjuangan keduanya untuk memperebutkan tujuan tersebut. Potensi konflik akan meningkat seiring perubahan sosial dalam kehidupan masyarakat serta perbedaan budayanya dimana konflik yang terjadi dapat teraplikasi dalam berbagai bentuk, salah satunya peperangan contohnya (Cahyo, 2011).

Refrensi:
  1. Rois Arios. (2011). Mengapa Ada Konflik? Ralf Dahrendorf Membicarakannya. Tersedia di http://sosbud.kompasiana.com/2011/10/29/mengapa-ada-konflik-ralf-dahrendorf-membicarakannya/
  2. Sandi Tri Cahyo (2011).Teori Struktural Fungsional dan Teori Konflik. Tersedia di http://sanditricahyo.blogdetik.com/2011/03/20/teori-struktural-fungsional-dan-teori-konflik/
  3. Darmawan, M. D. (2004) Kendaraan-kendaraan Tempur Dalam Perang Dunia II, Yogyakarta: Narasi