REFERENSI PENDIDIKAN

Teori Perang

http://ewintribengkulu.blogspot.com/2012/11/teori-perang.html

Teori Gulio Douhet dalam Wikipedia (2011) mengenai peperangan yang akan dituliskan adalah teorinya mengenai serangan udara sebagai awal dari serangan atau serangan pembuka yang dilakukan terhadap kubu lawan. Pada pertempuran ini sendiri, Angkatan Udara Jerman (Luftwaffe) melakukan serangan udara terlebih dahulu terhadap kota Stalingrad. Hal ini dilakukan dengan tujuan untuk melumpuhkan kubu pertahanan musuh di dalam kota sekaligus bertujuan untuk melumpuhkan moril Tentra Merah dan penduduk Stalingrad supaya menyerah kepada pasukan Nazi Jerman. Metode menyerang pasukan Jerman ini sendiri dilakukan sebagaimana dalam teori perang Douhet mengenai serangan udara dalam maksud dan tujuannya.

Teori perang Erich Ludendorff dalam Wikipedia (2012), pemikirannya yang akan dituliskan adalah mengenai konsep perang total. Pemikirannya mengenai konsep perang total menyatakan bahwa penduduk sipil harus membantu negara dalam mendukung jalannya peperangan dengan tujuan untuk memenangkan perang. Metode yang dilakukannya adalah dengan  menggandakan jumlah buruh di pabrik senjata, dimana penduduk sipil lainnya selain buruh pabrik senjata sendiri turut dipekerjakan untuk meningkatkan produksi mesin perang yang dibutuhkan oleh negara. Selain itu, penduduk sipil sendiri ditinggakan keterlibatannya dalam peperangan dengan diberlakukannya wajib militer untuk setiap pria usia dewasa untuk dijadikan serdadu dan diterjukan ke medan pertempuran.

Teori perang lain yang akan digunakan dalam penulisan ini adalah teori perang Carl von Clausewitz. Teori perang dari Clausewitz dalam Gatzke (1942) sendiri dijadikan Grand Theory dalam teori perang oleh penulis dalam penulisan ini. Pemikiran Clausewitz yang akan diambil adalah prinsip-prinsip mengenai strategi dan taktik operasi penyerangan atau offensif. Pihak pasukan Nazi Jerman sendiri selaku pihak penyerbu dalam peperangannya dengan Tentara Merah dalam Perang Dunia II umumnya dan Pertempuran Stalingrad khususnya. Mengenai prinsip dari taktik offensif Clausewitz menyatakan bahwa:

Kita harus memilih satu titik musuh untuk kita serang dengan superioritas berada di tangan kita dalam satu titik serangan tersebut, dan membiarkan pasukan musuh di titik lainnya dalam ketidakpastian namun tetap berada dalam posisi masing-masing. Ini adalah satu- satunya cara untuk mendapatkan keuntungan dengan pasukan kita yang berjumlah lebih sedikit dibandingkan lawan dan berharap untuk sukses dalam misi. Lebih lemahnya kita, lebih sedikitnya pasukan untuk membuat musuh tetap pada possisi di titik-titik yang tidak penting, supaya kita bisa dapat sekuat mungkin untuk berkonsentrasi pada titik yang penting. Frederick II tanpa diragukan memenangkan Pertempuran Leuthen karena ia dapat mengerahkan pasukannya yang kecil bersama-sama di satu tempat dan sangat terkonsentrasi, dibandingkan dengan
musuh.http://www.clausewitz.com/readings/Principles/ (2011)

Dalam pertempuran Stalingrad pasukan Nazi Jerman menjalankan taktik ofensif sebagaimana yang terdapat dalam teori taktik offensif tersebut. Dimana pasukan Jerman yang berjumlah lebih sedikit dibandingkan dengan pasukan Soviet menyerang di satu titik yang penting. Satu titik penting yang dipilih oleh pihak Nazi Jerman itu sendiri adalah kota Stalingrad. Untuk lebih jelasnya mengenai penjabaran teori ini dalam Pertempuran Stalingrad akan dibahas pada pokok bahasan selanjutnya.

Teori perang berikutnya adalah teori perang kota atau Urban Warfare. Dalam konsep perang kota ini sendiri tokoh yang akan diangkat pemikirannya adalah Vasily Chuikov, dimana ia merumuskan dan menerapkan teori perang kotanya untuk mempertahankan Stalingrad. Vasily Chuikov sendiri pada saat itu menjabat posisi Letnan Jenderal dan ditugaskan oleh pemimpin Soviet, Joseph Stalin untuk memimpin Tentara Merah dalam mempertahankan kota Stalingrad supaya tidak jatuh ke tangan pasukan Nazi Jerman. Teori perang kota yang dikemukakan dan dijalankan oleh Chuikov untuk mempertahankan kota Stalingrad, ia memanfaatkan jumlah pasukan Soviet yang lebih besar dengan menyatakan bahwa pasukan Soviet harus merapat sedekat mungkin jarak pasukannya dengan pasukan Jerman (Subaktio, 2007).

Refrensi:

Subaktio, Ari (2007) Operasi Barbarossa 1941, Yogyakarta: Narasi
Teori Perang, Pada: 2:18 AM
Copyright © 2014-2015 REFERENSI PENDIDIKAN Powered by Blogger - All Rights Reserved