REFERENSI PENDIDIKAN

Tipologi Masyarakat

http://ewintribengkulu.blogspot.com/2012/11/tipologi-masyarakat.html

Menurut Soekanto (2004:153), dalam masyarakat yang modern sering dibedakan antara masyarakat pedesaan (rural community) dengan masyarakat perkotaan (urban community). Kedua tipe masyarakat tersebut selalu mempunyai hubungan, karena betapapun kecilnya desa pasti ada pengaruh-pengaruh dari kota. Supaya lebih jelas, di bawah ini penulis paparkan karakteristik dari kedua tipe masyarakat tersebut.

a. Masyarakat Pedesaan (Rural Community)

Masyarakat pedesaan merupakan masyarakat yang tinggal di daerah pedesaan dan dikategorikan sebagai masyarakat yang hidup di dalam suasana, cara dan pemikiran pedesaan. Masyarakat pedesaan mempunyai ciri dan kepribadian sendiri. Mereka hidup secara berdampingan dengan penuh kebahagiaan, tolong-menolong dan gotong royong yang disertai dengan suasana alam yang masih sederhana. Pekerjaan mereka masih tergantung dari pertanian yang digarap secara tradisionel.
Warga masyarakat desa mempunyai hubungan yang lebih erat dan mendalam dibandingkan dengan warga masyarakat desa lainnya di luar batas wilayahnya. Sistem kehidupan masyarakat desa adalah berkelompok atas dasar sistem kekeluargaan. Siswopangritno dan Suprihadi (1984:37) memberikan batasan tentang masyarakat desa sebagai berikut:
“Masyarakat pedesaan adalah masyarakat yang tinggal di pedesaan dan dikategorikan sebagai masyarakat yang masih hidup melalui dan dalam suasana dari pemikiran alam pedesaan. Biasanya mereka bekerja, berbicara, berfikir dan melakukan kegiatan apapun selalu mendasarkan diri kepada apa-apa yang biasa berlaku di daerah pedesaan.”
Karakteristik masyarakat pedesaan dikemukakan oleh Soekanto (2004:153-155) sebagai berikut:
  1. Mempunyai hubungan yang lebih erat dan mendalam dibandingkan dengan warga masyarakat lainnya.
  2. Sistem kehidupan biasanya berkelompok atas dasar sistem kekeluargaan.
  3. Pada umumnya hidup dari partanian.
  4. Cara bertani sangat tradisional dan dilakukan semata-mata untuk memenuhi kehidupannya sendiri serta tidak dijual (subsistence farming).
  5. Golongan orang tua pada umumnya memegang peranan penting.
  6. Hubungan antara penguasa dengan rakyat berlangsung secara tidak resmi.
  7. Segala sesuatu di jalan atas dasar musyawarah.
  8. Tidak adanya mekanisme pembagian kerja yang tegas.
Sedangkan menurut Siagian (1983:2),pada umumnya masyarakat pedesaan mempunyai karakteristik sebagai berikut:
  1. Kehidupan di pedesaan erat hubungannya dengan alam, mata pencaharian tergantung kepada alam serta terikat pada alam.
  2. Pada umumnya semua anggota keluarga mengambil bagian dalam kegiatan bertani walaupun kekerabatannya berbeda.
  3. Orang desa sangat terikat pada desa dan lingkungannya, apapun yang ada di desa sukar dilupakan sehingga perasaan akan  desanya merupakan sebuah ciri yang nampak.
  4. Di pedesaan segala sesuatu seolah-olah membawa kehidupan yang rukun, perasaan sepenanggungan, jiwa tolong-menolong sangat kuat dihayati.
  5. Corak feodalisme masih nampak walaupun sudah mulai pudar
  6. Hidup di pedesaan banyak berkaitan dengan adat istiadat dan kaidahkaidah yang diwarnai dari suatu generasi ke generasi berikutnya sehingga masyarakat pedesaan dicap statis. Dari pendapat-pendapat di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa masyarakat pedesaan pada umumnya memiliki ciri kehidupan yang bersifat paguyuban. Dengan segala homogenitasnya, nilai perasaan selalu mendominasi cara berfikir mereka, akibatnya mereka kurang berani mengungkapkan hal-hal yang dianggap tabu dan tidak sopan menurut ukuran mereka. Hal inilah yang menyebabkan sulitnya warga masyarakat desa untuk berfikir terbuka dan menerima modernisasi. Oleh karena itu, bimbingan dan penerangan tentang modernisasi perlu digalakkan di pedesaan agar masyarakat desa mampu berfikir kritis, dinamis dan terbuka sehingga mereka mampu mengejar ketertinggalan dari pembangunan masyarakat kota.
b. Masyarakat Perkotaan (Urban Commity)

Dilihat dari segi fisik, kota merupakan suatu pemukiman yang mempunyai bangunan-bangunan perumahan yang jaraknya relatif rapat dan mempunyai sarana dan prasarana serta fasilitas-fasilitas yang memadai guna memenuhi kehidupannya. Grunfeld (Menno dan Alwi, 1992:24) merumuskan pengertian kota sebagai berikut:
“Suatu pemukiman dengan kepadatan pendudukan yang lebih, kepadatan wilayah nasional, dengan struktur mata pencaharian dan tataguna tanah yang beraneka ragam serta dengan gedung-gedung yang berdiri berdekatan.”
Mansyur (tanpa tahun:107) merumuskan pengertian masyarakat kota sebagai “masyarakat yang anggota-anggotanya terdiri dari manusia yang bermacam-macam lapisan/tingkat hidup, pendidikan, kebudayaan dan lain-lain serta mayoritas penduduknya mempunyai lapangan usaha di bidang non-agraris”. Pendapat tersebut senada dengan yang dikemukakan oleh Soekanto (2004:156-157) yang merumuskan masyarakat kota dengan karakteristik-karakteristik sebagai berikut:
  1. Kehidupan keagamaan yang kurang bila dibandingkan dengan kehidupan beragama di desa
  2. Orang kota pada umumnya dapat megurus dirinya sendiri tanpa harus bergantung pada orang lain
  3. Pembagian kerja diantara warga kota jauh lebih tegas dan punya batas kota
  4. Peluang untuk mendapatkan pekerjaan tidak luas
  5. Jalan fikiran rasional pada umumnya dianut oleh masyarakat perkotaan, menyebabkan interaksi-interaksi yang terjadi lebih didasarkan pada faktor kepentingan daripada faktor pribadi
  6. Efisiensi dan efektivitas waktu yang sangat diperhatikan
  7. Perubahan-perubahan sosial tampak dengan nyata Sistem kehidupan masyarakat kota mempunyai corak-corak kehidupan tertentu yang jauh berbeda apabila dibandingkan dengan masyarakat di desa.
Sifat-sifat yang tampak menonjol pada masyarakat kota adalah:
  1. Sikap hidupnya cenderung pada individualism/egoism
  2. Tingkah lakunya bergerak maju mempunyai sifat kreatif, radikal dan dinamis
  3. Perwatakannya cenderung pada sifat materialistis
  4. Pandangan hidupnya menjurus pada materialistis. Masyarakat kota cenderung mementingkan pribadi, memungkinkan mereka mengabaikan faktor-faktor sosial dalam lingkungan masyarakatnya
  5. Nilai-nilai religi cenderung berkurang karena aktivitas dan pikiran terlalu disibukkan oleh hal-hal yang menjurus kepada usaha keduniawian (Mansyur, tanpa tahun: 107).
Refrensi:
  1. Soekanto,S (1999). Sosiologi suatu Pengantar, Jakarta: Universitas Indonesia
  2. Suswo Pangritno, N. Soehartono dan Suprihadi. (1987). Pokok-Pokok Sosiologi Desa. Jakarta: Ghalia Indonesia.
  3. Siagian, P.S (1991). Teori dan Praktek Kepemimpinan. Jakarta: Rineka Cipta.
  4. Mansyur, Cholil. (tanpa tahun). Sosiologi Masyarakat Kota dan Desa. Surabaya: Usaha Nasional.
Tipologi Masyarakat, Pada: 2:12 AM
Copyright © 2014-2015 REFERENSI PENDIDIKAN Powered by Blogger - All Rights Reserved