REFERENSI PENDIDIKAN

Tradisi Sejarah Setelah Mengenal Tulisan

http://ewintribengkulu.blogspot.com/2012/11/tradisi-sejarah-setelah-mengenal-tulisan.html

Apakah yang dimaksud dengan rekaman tertulis ?. Rekaman tertulis yang dimaksud di sini adalah merupakan salah satu bentuk kesadaran masyarakat Indonesia pada masa lalu dalam merekam apa yang terjadi di masa lalu dan dianggap sebagai peristiwa penting yang patut diketahui. Cara yang dilakukan untuk merekam peristiwa itu yaitu dengan cara menulisnya yang biasanya dalam sauatu tulisan yang biasanya disebut dengan naskah.

Di Indonesia banyak sekali tersebar naskah-naskah, hampir di berbagai daerah. Naskah-naskah tersebut ditulis dengan berbagai bahasa, terutama bahasa-bahasa daerah seperti bahasa Sunda, Jawa, Bugis, Melayu, Aceh, Minang dan sebagainya. Tesebarnya naskah dalam berbagai bahasa daerah tersebut, meunjukkan bahwa bangsa Indonesia sudah sejak lama memiliki kesadaran sejarah yang cukup tinggi. Beberapa sebutan tentang naskah seperti babad, tambo, hikayat, kronik, dan lain-lain.
Naskah-naskah tersebut disebut dengan naskah lama atau naskah kuno. Disebut naskah kuno, karena naskah tersebut ditulis pada masa lampau. Ukuran masa lampaunya itu, menurut Monumen STBL no. 238 tahun 1931 yaitu 50 tahun. Jadi naskah kuno yaitu ialah karangan yang berupa tulisan atau ketikan yang telah berusia lebih 50 tahun.

Di daerah-daerah Indonesia, naskah-naskah kuno itu sudah banyak yang berusia ratusan tahun. Bahan yang digunakan untuk menulis kertas sangat beragam. Selain ditulis pada kertas seperti umumnya karya-karya buah pikiran, ada pula yang ditulis pada bambu, kulit kayu, rotan, daun nipah, dan lain-lain. Di Sulawesi Selatan naskah kuno ditulis pada daun lontar, sehingga naskah kuno itu dikenal dengan sebutan lontarak.

Naskah kuno merupakan sumber informasi kebudayaan daerah masa lampau yang sangat penting dan memiliki makna yang sangat berarti. Di dalamnya mengandung ide-ide, gagasan, dan berbagai macam pengetahuan tentang alam semesta menurut persepsi budaya masyarakat yang bersangkutan, ajaran-ajaran moral, filsafat, keagamaan dan unsur-unsur lain yang mengandung nilai-nilai luhur.

Isi dari naskah-naskah kuno tersebut tidak semuanya merupakan cerita sejarah. Beberapa materi yang menjadi kandungan isi naskah-naskah kuno tersebut misalnya ajaran agama, hukum, adat istiadat, filsafat, politik, sastra, astronomi, ajaran moral, mantera, doa, obat-obatan, mistik, bahasa, bangunan dan tumbuh-tumbuhan. Naskah-naskah kuno yang tidak berisi tentang cerita sejarah, bermanfaat pula untuk dijadikan bahan dalam menulis sejarah. Hal-hal yang bisa kita kaji dari naskah-naskah tersebut misalnya sistem kemasyarakatan, nilai-nilai budaya, pelaksanaan ajaran agama dan lain-lain. Untuk melacak hal-hal tersebut, maka kita bisa menggunakan naskah-naskah yang berisi tentang ajaran agama, hukum, adat istiadat, politik, ajaran moral dan lain-lain. Pengunaan contoh naskah-naskah tersebut karena biasanya apa yang ditulis oleh naskah tersebut adalah sesuatu hal yang berlaku pada saat itu. Apalagi menyangkut hal-hal yang berkaitan dengan masalah budaya. Dalam setiap zaman biasanya terjadi perubahan-perubahan nilai-nilai budaya yang berlaku dalam suatu masyarakat.

Naskah-naskah lama yang berisi tentang sejarah dapat dikatagorikan ke dalam bentuk historiografi tradisional. Penyebutan istilah historiografi tradisional, karena dalam penulisannya sangat dipengaruhi oleh faktor budaya dimana naskah tersebut ditulis. Dengan demikian naskah tersebut dapat menjadi suatu hasil kebudayaan suatu masyarakat. Sebagai kebudayaan suatu masyarakat maka penulisan historiografi tradisional dipengaruhi oleh alam pikiran penulis naskah tersebut atau masyarakatnya.

Cerita sejarah yang ada dalam naskah, biasanya lebih banyak menceritakan peran “orang-orang besar”, seperti raja, penguasa, tokoh, dan lain-lain. Pemunculan peran penguasa dalam naskah diakarenakan subjektivitas penulisnya. Pada masa lalu biasanya di kerajaan terdapat seorang pujanngga. Pujangga ini mencatat peristiwa-peristiwa penting yang terjadi di kerajaan tersebut. Peristiwa-peristiwa penting itu misalnya kapan raja itu memerintah, siapa rajanya, kapan raja berakhir berkuasa, siapa yang menggantikan raja yang lama, peristiwa apa yang terjadi pada saat pergantian raja, dan peristiwa-peristiwa lainnya.

Tidak semuanya naskah yang berisi tentang sejarah ditulis oleh pujangga kerajaan. Ada juga naskah yang ditulis oleh orang biasa. Bahkan naskah-naskah tersebut mengalami proses penyalinan kembali. Pada zaman Belanda, terdapat orang-orang yang kembali menyalin naskah. Penyalinan itu dilakukan karena para ilmuwan  Belanda yang tertarik pada pengumpulan naskah meminta menyalin kembali.

Pandangan dari penulis naskah akan berpengaruh terhadap hasil penulisannya. Bagi pembuat naskah yang sekaligus adalah pengarang, atau pujangga, pekerjaan menulis naskah adalah suatu pemenuhan batin untuk menyatakan pikiran-pikirannya, untuk mempraktekan kiat-kiat estetikanya, untuk menyatakan sikap hidup dan tanggapan dunianya. Berbeda halnya dengan para pembuat naskah yang semata-mata melakukan penyalinan, baik atas perintah, keinginan sendiri, maupun atas pesanan. Pada waktu itu, para pembuat naskah yang ada kebanyakan adalah golongan penyalin. Para pengarang pada umumnya telah menggunakan media penulisan modern untuk langsung diproduksi secara massal.

Fakta yang ada dalam naskah-naskah lama tidak selamanya dapat digunakan sebagai fakta sejarah. Apabila kita menggunakan fakta-fakta tersebut harus bersikap kritis, karena uraian atau cerita dari naskah lama biasanya banyak dibumbui oleh cerita yang bersifat mistik atau magis religius. Misalnya raja tersebut memiliki kesaktian yang luar biasa yang berbeda dengan manusia lain pada umumnya.

Naskah sebagai bentuk historiografi tradisional memiliki karakteristik-karakteristiknya yaitu:

1. Uraiannya dipengaruhi oleh ciri-ciri budaya masyarakat pendukungnya. 

Di Indonesia hanpir setiap daerah memiliki naskah-naskah lama yang bercerita tentang sejarahnya. Kebudayaan dari daerah setempat akan berpengaruh terhadap isi dari naskah tersebut, misalnya bahasa yang digunakan, gaya bahasa, adat istiadat, dan lain-lain. Naskah-naskah yang di Jawa Barat tentu banyak menggunakan bahasa Sunda. 

2. Cenderung mengabaikan unsur-unsur fakta karena terlalu dipengaruhi atau dikaburkan oleh sistem kepercayaan yang dimiliki masyarakatnya. 

Tokoh-tokoh yang menjadi fakta dalam naskah tersebut dibumbui dengan unsur-unsur mistik yang menjadi kepercayaan masyarakat setempat. Sehingga yang menonjol bukan tokoh yang menjadi fakta, tetapi unsur mistik yang menonjol yang dimiliki oleh tokoh tersebut. Misalnya tokoh-tokoh para wali penyebar Islam di Jawa digambarkan sebagai tokoh yang memiliki kekuatan-kekuatan di luar kekuatan manusia biasa. Mereka memiliki kekebalan, dapat berjalan di atas laut, berjalan ke Mekah melalui terowongan di bawah tanah, dan unsur-unsur mistik lainnya.

3. Adanya kepercayaan tentang kekuatan “sekti” (sakti).

Yang menjadi pangkal dari berbagai peristiwa alam, termasuk yang menyangkut kehidupan manusia. Kekuatan sakti ini menampakkan diri di mana-mana dan pada setiap saat. Sifat-sifat kekuatan sakti itu bisa bekerja secara otomatis, atau diperlukan orang-orang tertentu untuk mengembangkan atau menggerakannya. Demikian juga mengenai keberadaannya, juga tidak ditentukan dengan pasti, karena kadang-kadang bisa muncul atau lenyap tanpa diketahui asal-usulnya. Contoh uraian tentang kesaktian tokoh dapat dibaca dalam Naskah yang berjudul Jaya Bayawak. Dalam naskah ini mengisahkan dua orang putra raja dari negeri Nadenda, yang sulung laki-laki menyerupari Bayawak dan adiknya perempuan cantik bernama Rara Uju. Karena buruk rupa, Jaka Bayawak menceburkan diri ke air, lalu ada yang menemukan dan kemeduian dipelihara oleh janda miskin, pada usia dewasa mengembara hingga akhirnya mendapat azimat kesaktian berupa dua buah labu yang masing-masing bisa diubah menjadi sebuah kerajaan dan untuk pengisi kerajaan itu yang serba emas. Jejak demikian diikuti oleh Rara Uju yang dari akhir pengembaraannya ia mendapat azimat tiga pucuk cempaka sehingga berhasil mengatasi berbagai hambatan dan rintangan hidupnya. Berkat kekuatan azimat yang dimilikinya, Jaka Bayawak berhasil mengubah wujudnya menjadi seorang ksatria tampan dengan nama Jaka Pangling serta nikah dengan putri bungsu dari Majapahit yang bernama Dewi Patah setelah segala persyaratan dipenuhinya, tetapi putri Sulung atau kakak Dewi Patah yang tadinya menolak dan menghina Jaka Bayawak berbalik mencintai calon suami adiknya itu. Akhirnya, semua masalah dapat diatasi dan Jaka Pangling resmi menikah dengan Dewi Patah, bahkan sekaligus diangkat menjadi Prabu Anom Amarjaya. Dalam pada itu, Rara Uju telah bersuami tanpa disengaja bertemu dengan adinya pada saat pernikahan. Kemudian suami Rara Uju diangkat sebagai Patih di Kerajaan Majapahit.

Sebagaimana telah dikemukakan, bahwa naskah-naskah lama merupakan bentuk gambaran bagaimana masyarakat merekam terhadap pengalaman masa lalunya atau sejarahnya. Dalam merekam pengalaman masa lalunya, akan senantiasa diwarnai dengan pandangan-pandangan hidup masyarakat pada saat itu atau disebut jiwa zaman. Salah satu pandangan penting masyarakat pada saat itu yaitu melihat sosok penguasa atau raja sebagai figur yang memiliki kedudukan yang sakral yang dicirikan dengan memiliki kesaktian. Dari contoh cerita naskah tersebut, kita bisa melihat bagaimana kesaktian yang dimiliki oleh Jaka Bayawak atau Jaka Pangling, dari seorang yang bermuka buruk kemudian dengan kesaktiannya dapat berubah menjadi pria yang tampan dan menikahi puteri raja Majapahit dan kemudian menjadi raja muda. 

4. Keempat dari historiografi tradisional yaitu adanya kepercayaan akan klasifikasi magis yang mempengaruhi segala sesuatu yang ada di alam ini, baik itu mahluk hidup maupun benda-benda mati, baik bagi pengertian-pengertian yang dibentuk dalam akal manusia maupun bagi sifat-sifat yang terdapat dalam materi. 

Atas dasar klasifikasi semacam ini, maka dengan mudah terjadi perhubungan antara sesuatu dengan sesuatu yang lain yang secara akal sehat sulit diterima. Contohnya binatang dapat berwujud menjadi manusia atau jasad manusia dapat berubah menjadi tumbuh-tumbuhan. Naskah yang memberikan contoh seperti itu misalnya isi dari Naskah Babad Ratu Galuh. Dalam naskah ini mengisahkan Ratu Galuh mempunyai beberapa putra yang salah satunya bernama Hariangbang. Sang raja senang berburu ke hutan dengan membawa seekor anjing yang bernama Belang Wayungyung. Menjelang pulang berburu, sang raja buang air kecil dan air seninya tergenang pada pelapah kelapa. Air kencing itu ternyata diminum oleh seekor babi hutan putih yang kehausan setelah bertapa. Sang babi hutan itu ternyata hamil, dan kemudian melahirkan seeorang bayi manusia yang bernama Sepirasa. Setelah ditinggal mati ibunya, Sepirasa oleh Raja Galuh ditempatkan di sebuah gubuk di hutan dan diganti namanya menjadi Dewi Hartati. Dewi Hartati kemudian hamil karena disetubuhi oleh Si Belang titisan dewa, dan lahirlah seorang putra bernama Suwungrasa yang mirip dengan Hariangbanga putra Raja Galuh.

Suwungrasa senang berburu dan selalu bersama si Belang. Pada suatu ketika Suwungrasa dan Si Belang berburu tetapi binatang di hutan sudah hampir punah sehingga tidak ada buruannya. Si Belang tidak bersemangat untuk berburu. Melihat sikap si Belang yang demikian, Suwungrasa menjadi kesal, kemudian Si Belang dibunuhnya dan membawa atinya. Ati tersebut dibawa oleh Suwungrasa ke rumah ibunya dan dimakan bersama ibunya. Suwungrasa memberitahu ibunya bahwa ati yang dimakan itu adalah ati Si Belang. Mendengar cerita anaknya itu, Dewi Hartati marah dan Suwungrasa dipukul denga sinduk sehingga ada goresan di kepalanya. Sejak itu mereka berpisah. Dewi Hartati rajin bertapa dan berkat keuletannya dia kemudian menjadi orang sakti dan berganti nama menjadi Dewi Malaya. Sedangkan Suwungrasa berguru kepada Ajar Padang dan berganti namanya Jaka Wardaya. Jaka Wardaya ingin memperistri Dewi Malaya karena dia belum beristri dan dia sendiri tidak tahu bahwa Dewa Malaya adalah ibu kandungnya sendiri. Jaka Wardaya menantang ingin bertanding dengan Dewi Malaya dan kalau dapat mengalahkannya, Dewi Malaya akan dijadikan istrinya. Ajar Padang mengingatkan Jaka Wardaya bahwa Dewi Malaya bukan tandingannya, tetapi Jaka Wardaya tetap pada pendiriannya. Ketika bertanding, Dewi Malaya melihat bekas luka goresan di kepala Jaka Wardaya, dan dia meyakini bahwa Jaka Wardaya adalah anaknya yang dulu berpisah. Ajar Padang akirnya dapat melerai. Jaka Wardaya kemudian berganti nama menjadi bangkasari dan menikah dengan putri di atas angin, sedangkan Dewi Malaya menjadi raja.

Dari uraian Babad Ratu Galuh kita menemukan adanya binatang yang melahirkan anak manusia. Hal ini merupakan suatu perubahan benda dari binatang bisa menjadi manusia. Sepirasa dilahirkan dari seekor babi hutan dan Suwungrasa dilahirkan dari hasil persetubuhan anjing (Si Belang) dengan manusia (Dewi Hartati).

Contoh perubahan dari manusia atau dewa menjadi tumbuh-tumbuhan dapat dibaca dalam naskah Sulanjana. Naskah ini bercerita tentang terjadinya tumbuh-tumbuhan khususnya tumbuhan padi di negeri Pakuan. Awal kisah diceritakan keadaan sawargaloka tatkala Batara Guru bermaksud membangun arasy. Semua abdi Batara Guru telah siap kecuali Dewi Anta karena memiliki tubuh seperti ular, tanpa tangan dan kaki sehingga menangis karena takut dibunuh oleh Batara Guru. Tiga tetes air mata Dewi Anta yang jatuh ke tanah menjelma menjadi tiga butir telur dan segeralah ia bawa ketiga butir telur dalam mulut ke hadapan Batara Guru, namun sayangnya yang dua butir pecah di perjalanan akibat disambar oleh Elang Belang karena ketika ditanya Dewi Anta tidak menjawabnya. Kedua butir telur yang pecah tadi masing-masing menjelma menjadi seekor babi hutan bernama Kalabuat, dan seekor binatang bertubuh babi kepala anjing bernama Budug Busug. Kedua binatang ini dopelihara oleh Sapi Gumarang yang dilahirkan induknya akibat minum air kencing Jin Adajil. Sebutir telur yang selamat tiba di hadapan Batara Guru menjelma menjadi seorang putri yang cantik yang kemudian disusui dan dipelihara Dewi Uma, istri Batara Guru. Puteri tersebut dinamai Dewi Pohaci. Kecantikan Dewi Pohaci membangkitkan hasrat cinta Batara Guru kepadanya, tetapi gelagat ini keburu diketahui oleh Batara Wenang yang membuat Dewi Pohaci tidak berumur panjang. Dewi Pohaci dimakamkan dan makamnya dijaga oleh Aki Bagawat. Dari makam Dewi Pohaci inilah muncul tumbuh-tumbuhan diantaranya adalah padi.

Uraian dari naskah Sulanjana ini memperlihatkan adanya perubahan materi yaitu dari tetes mata menjadi telur, dan dari telur menjadi binatang dan manusia. Dari kuburan Dewi Pohaci lahir tumbuh-tumbuhan di antaranya padi. Sampai sekarang pada masyarakat pertanian masih mempercayai Dewi Pohaci atau sering pula disebut sebagai Dewi Sri merupakan dewi kesuburan khususnya tanaman padi.

5. Kelima dari historiografi tradisional adalah kepercayaan perbuatan magis atau sihir yang dilakukan tokoh-tokoh tertentu. 

Dalam sejarah Indonesia contoh dari ciri ini adalah cerita tentang tokoh Mpu Bharada dari daerah Wurare. Kehebatan sihirnya digambarkan dalam perjalanannya ke Bali hanya dengan menumpang daun kluih. Selain itu, Mpu Bharada memiliki kehebatan lain yaitu beterbang dengan membawa kendi yang berisi air suci yang nantinya akan dipercikan ke tanah. Pekerjaan ini dilakukan atas perintah Ailangga yang ingin membagi dua wilayah kerajaan kepada anaknya. Tempat dimana air kendi itu jatuh, maka akan dijadikan batas dua kerajaan yang diwariskan kepada kedua anaknya. Kemampuan Mpu Bharada beterbang menujukkan perbuatan magis atau sihir.

6. Ciri dari historiografi tradisional adalah gambaran dari tokoh-tokoh yang ditonjolkan dalam cerita naskah tersebut. Selalu memiliki silsilah dari tokoh-tokoh yang mitis (raja dianggap titisan dewa). 

Kalau kita perhatikan silsilah raja-raja yang ada di Jawa, selalu merujuk kepada tokoh-tokoh yang dianggap sebagai mitos. Seperti halnya silsilah bupati-bupati di Jawa Barat. Hampir seluruhnya merujuk kepada Prabu Siliwangi. Prabu Siliwangi adalah tokoh mitos dalam pandangan masyarakat Jawa Barat. Dia adalah raja dari Pakuan Pajajaran. Pencantuman tokoh mitos tersebut memiliki fungsi untuk memberikan legitimasi. Masyarakat akan memberikan pandangan yang sakral terhadap penguasa apabila penguasa itu berasal dari keturunan yang dimitoskan. Bahkan ada silsilah para Wali penyebar Islam, dibuat silsilah sampai Nabi Muhammad. Dengan cara seperti ini kepercayaan dan penghormatan masyarakat terhadap Wali itu akan semakin tinggi.

Refrensi :

Winarti, Murdiyah. 2012. Tradisi Sejarah. Tidak Diterbitkan.
Copyright © 2014-2015 REFERENSI PENDIDIKAN Powered by Blogger - All Rights Reserved