REFERENSI PENDIDIKAN

Tradisi Sejarah

http://ewintribengkulu.blogspot.com/2012/11/tradisi-sejarah.html

Bagaimanakah masyarakat yang belum mengenal tulisan merekam dan mewariskan masa lalunya ?. Bagaimanakah masyarakat yang belum mengenal tulisan memaknai masa lalunya ?. Masyarakat dalam memahami masa lalunya akan ditentukan oleh alam pikiran masyarakat pada masa itu atau ¨jiwa zaman¨. Alam pikiran masyarakat yang belum mengenal tulisan sudah tentu berbeda dengan masyarakat yang sudah mengenal tulisan. Tulisan pada dasarnya merupakan salah satu hasil dari alam pikiran manusia. 

Kehidupan manusia memperlihatkan adanya suatu kesinambungan waktu. Kesinambungan ini terlihat dalam tahap-tahap kehidupan manusia, misalnya mulai dia dilahirkan, masa kanak-kanak, masa dewasa dan sampai orang tua. Dalam kesinambungan waktu itulah nampak terjadi perubahan-perubahan dari satu tahap ke tahap lainnya. 

Perubahan-perubahan yang terjadi dalam diri masyarakat dapat menjadi pengalaman hidup masa lalunya. Pemahaman terhadap masa lalunya selalu berkaitan dengan bagaimana masyarakat tersebut melihat perubahan yang terjadi pada diri dan lingkungan di sekitarnya. Secara garis besar perubahan dapat dikatagorikan dalam dua bentuk yaitu perubahan yang bersifat alami dan perubahan yang bersifat insani. Perubahan alami adalah perubahan yang terjadi pada alam itu sendiri seperti gempa bumi, gunug meletus, banjir, dan lain-lain. Sedangkan perubahan insani adalah perubahan-perubahan yang terjadi pada diri manusia, baik bersifat individu maupun kelompok, misalnya kelahiran, peperangan, dan kejadian-kejadian lainnya.

Dalam memahami pengalaman masa lalunya, suatu kelompok masyarakat yang belum mengenal tulisan selalu melihat alam sebagai bagian yang terpenting dalam menentukan perubahan diri dan lingkungannya. Alam merupakan realitas kehidupan dan dirinya merupakan bagian dari alam. Manusia pada masa lalu masih memiliki sikap yang sangat menghormati bahkan mengkultuskan alam. Alam memiliki kekuatan yang sangat menentukan kehidupan manusia. Perubahan yang terjadi pada diri manusia tidak lepas dari kekuatan-kekuatan yang terjadi pada hukum alam. Asal-usul kejadian yang terjadi pada lingkungan alam atau pada diri manusia, sangat ditentukan oleh kekuatan-kekuatan yang berada di luar diri manusia. Kekuatan-kekuatan itu dapat berupa hukum alam itu sendiri atau tokoh-tokoh dewa atau figur-figur tertentu yang dianggap memiliki kesaktian. Dengan demikian dalam masyarakat masa lalu, khususnya masyarakat yang belum mengenal tulisan, melihat asal-usul atau kejadian itu bersifat magis religius.

Pemikiran yang bersifat magis religius artinya pemikiran yang melihat kejadian-kejadian atau usul-usul tidak berdasarkan pada pemikiran yang bersifat rasional atau akal. Dalam pemikiran yang magis religius, manusia bukanlah menjadi penentu perubahan, peran manusia dalam suatu peristiwa hanyalah sebagai objek atau subordinasi dari perubahan tersebut. Penentu perubahan adalah kekuatan-kekuatan di luar diri manusia. Misalnya di beberapa daerah di Indonesia banyak terdapat cerita-cerita tentang asal-usul daerah tersebut. Cerita asal usul daerah tersebut biasanya diawali dengan uraian tentang adanya tokoh yang bukan manusia yang mengawali pembangunan daerah tersebut. Tokoh tersebut bisa merupakan dewa yang diutus oleh dewa tertinggi dari kayangan untuk membangun suatu daerah di muka bumi. Agar ceritanya dapat menjadi suatu kenyataan, biasanya dewa yang turun dari kayangan itu menikah dengan manusia. Dari pernikahan inilah maka akan lahir keturunannya yang menjadi cikal bakal adanya suatu kehidupan masyarakat daerah tersebut. Dengan demikian asal usul dari daerah tersebut bukan merupakan peristiwa yang disebabkan oleh peran-peran manusia, tetapi lebih ditafsirkan sebagai kehendak dewa. Dari cerita ini, kita bisa melihat bahwa peran manusia dalam suatu cerita sejarah tidaklah menjadi faktor penentu, tetapi lebih berperan sebagai objek dari peristiwa itu. 

Begitu pula halnya dalam menjelaskan terhadap peristiwa alam. Perubahan yang terjadi pada alam dianggap sebagai suatu kehendak di luar kehendak manusia. Manusia hanya bersikap pasrah terhadap perubahan yang terjadi pada alam tersebut. Kehendak yang dimaksud dapat berupa kehendak dewa. Seperti terjadinya banjir atau bencana alam lebih dipahami sebagai bentuk dari kehendak dewa. Kalau dikaitkan dengan prilaku manusia, kejadian alam itu dapat dipahami sebagai bentuk kutukan atau kemarahan dewa kepada manusia.

Pada masyarakat yang belum mengenal tulisan, memiliki cara yang berbeda dengan masyarakat yang sudah mengenal tulisan, dalam menjelaskan peristiwa-peristiwa yang mereka anggap penting. Peristiwa-peristiwa penting itu dapat berupa peristiwa-peristiwa alam, seperti gunung meletus, gempa bumi, banjir, asal-usul suatu tempat, dan lain-lain. Selain peristiwa alam, ada pula peristiwa yang terjadi dalam lingkungan sosial kehidupan manusia itu sendiri seperti asal-usul kelompok masyarakatnya, peperangan, peran seorang tokoh, dan lain-lain.

Peristiwa-peristiwa pada masyarakat yang belum mengenal tulisan tidak meninggalkan bukti-bukti tertulis. Jika menjelaskan suatu asal-usul tempat, maka yang dijadikan bukti hanya bukti benda atau artefak dari benda itu sendiri. Penjelasan terhadap asal-usul suatu tempat itu lebih banyak berupa cerita lisan. Cerita tersebut akan terus menerus diceritakan dari mulut ke mulut, dari generasi ke generasi sehingga menjadi suatu tradisi atau menjadi tradisi lisan.

Refrensi:

Winarti, Murdiyah. 2012. Tradisi Sejarah (Makalah). Tidak Diterbitkan
Tradisi Sejarah , Pada: 12:47 AM
Copyright © 2014-2015 REFERENSI PENDIDIKAN Powered by Blogger - All Rights Reserved