Bentuk-Bentuk Perencanaan Pembelajaran

Guru yang berperan sebagai perencana, harus dapat memutuskan bentuk perencanaan yang manakah yang cocok sesuai dengan ruang lingkup pekerjaan yang dibebankan kepada guru. Makean (Oemar Hamalik: 1980) membagi bentuk-bentuk perencanaan ke dalam tiga bagian sebagai berikut: perencanaan jangka panjang (long range planning), perencanaan jangka pendek (short range planning), unit pelajaran (unit lesson). Untuk lebih jelasnya akan diuraikan sebagai berikut:
  1. Perencanaan jangka panjang (long range planning), perencanaan ini bermaksud mengembangkan dan memelihara perspektif yang berkenaan dengan konsepsi secara menyeluruh tentang pembelajaran yang akan diberikan. Karena itu guru perlu memiliki keterampilan dalam mengembangkan unit sumber (resource unit) dan unit pembelajaran (teaching unit), yang memuat organisasi pembelajaran.
  2. Perencanaan jangka pendek (short range planning) harus fleksibel dan adaptif dan harus terarah pada kegiatan pembelajaran harian dalam kelas.
  3. Unit pelajaran (unit lesson), yang dikenal dengan satuan pelajaran. Dalam perencanaan ini hendaknya siswa diberikan kesempatan memberikan kontribusinya terhadap perencanaan. Kesempatan ini akan turut memperkayakemungkinan untuk mencapai tujuan intruksional.
Pendapat lain tentang bentuk-bentuk perencanaan dikemukakan oleh Syaodih
(1988), yang mengemukakan bahwa: “Guru mengembangkan perencanaan dalam bidangnya untuk jangka waktu satu tahun atau satu semester, beberapa minggu atau beberapa jam saja. Untuk satu tahun dan semester disebut sebagai program unit, sedangkan untuk beberapa jam pelajaran disebut program satuan pelajaran yang masingmasing memiliki komponen yang sama, yaitu tujuan, bahan, metoda dan evaluasi. Perbedaannya hanya terletak pada keleluasaan dan kedalaman masing-masing level” .

Anderson (Mulyasa: 2004), membedakan perencanaan dalam dua kategori, yaitu perencanaan jangka panjang dan perencanaan jangka pendek. Perencanaan jangka panjang yang disebut dengan “unit plans”, merupakan perencanan yang bersifat komprehensif dimana dapat dilihat aktivitas yang direncanakan guru selama satu semester. Perencanaan umum ini memerlukan uraian yang lebih rinci dalam perencanaan jangka pendek yang disebut dengan perencanaan pembelajaran, guru dapat memodifikasi perencanaan umum yang telah dibuatnya disesuaikan dengan kondisi kelas dan karakteristik siswa.

Perencanaan unit dimulai dengan mempertimbangkan isi (content) yang telah ditetapkan dalam kurikulum nasional yang berlaku. Selanjutnya prioritas utama yang harus dipertimbangkan dalam tahap ini adalah informasi yang telah diidentifikasi, seperti jumlah siswa, materi yang akan disampaikan, pendekatan pembelajaran dan kemungkinan sumber belajar.
  
Bentuk-bentuk perencanaan lain dikemukakan oleh Lorin dari Savage & Armstrong (1996: 124). Menurut mereka: “Guru-guru akan menggunakan perencanaan jangka panjang dan perencanaan jangka pendek. Perencanaan jangka panjang disebut “unit plans”, yang berisi garis besar (outlines) mengenai apa-apa yang akan dikerjakan selama satu tahun pembelajaran. Perencanaan unit ini selanjutnya dijabarkan menjadi bagian--bagian rencana yang lebih kecil, yaitu antara 2 (dua) atau 4 (empat) minggu pembelajaran”.

Dengan demikian outlines berisi garis besar apa yang akan dikerjakan oleh guru dan siswa selama proses pembelajaran. Biasanya guru-guru cenderung mengembangkan rencana-rencana tersebut berdasarkan apa yang akan mereka kerjakan dalam satu kali pertemuan. Bagi guru yang kurang berpengalaman pada umumnya memerlukan perencanaan yang lebih rinci dibandingkan dengan guru yang sudah berpengalaman.

Berdasarkan seluruh uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa perencanaan itu terbagi dalam dua bentuk, yaitu perencanaan jangka panjang dan perencanaan jangka pendek. Pada perencanaan jangka panjang guru harus memperhatikan program belajar sepanjang satu tahun atau satu semester, sedangkan perencanaaan jangka pendek dilakukan berdasarkan apa yang akan dikerjakan untuk jangka waktu satu minggu atau satu hari.

Refrensi Rujukan :
  1. Ali, M. (2000). Guru dalam Proses Belajar Mengajar. Bandung: Sinar Baru Algesindo
  2. Ahmadi, Abu dan Rohani, A. (1991). Pengelolaan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta
  3. Bafadal, (2004). Dasar-Dasar Manajemen dan Supervisi. Jakarta: Bumi Aksara
  4. Departemen Pendidikan Nasional. (2006). Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan
  5. Fattah, N. (2004). Landasan Manajemen Pendidikan. Bandung: Rosdakarya
  6. Hamalik, O. (2001). Proses Belajar Mengajar. Jakarta; Bumi Aksara
  7. Ibrahim, R. dan Syaodih, N. (2003). Perencanaan Pembelajaran. Jakarta; Rineka Cipta
  8. Karli, H. (2003). 3H dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi. Bandung: BMI
  9. Mulyasa, E. (2004). Kurikulum Berbasis Kompetensi. Bandung: Remaja Rosdakarya
  10. Mulyasa, E. (2004). Implementasi Kurikulum 2004. Bandung: Remaja Rosdakarya
  11. Reiser, R.A, Dick, W. (1996). Instructional Planning : A Guide for Teachers.
  12. Massachusetts: Allyn and Bacon.
  13. Sudjana, N. (1989). Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar. Bandung: Sinar Baru
  14. Sagala, S. (2003). Konsep dan Makna Pembelajaran. Bandung: Alfabeta