REFERENSI PENDIDIKAN

Definisi Permainan Menurut Teori

http://ewintribengkulu.blogspot.com/2013/04/definisi-permainan.html

Istilah bermain (play) dan permainan (games) memiliki makna berbeda dalam literatur terapi bermain. Menurut Schaefer & Reid (Rusmana, 2009b), bermain dipandang sebagai suatu perilaku yang muncul secara alamiah yang dapat ditemukan dalam kehidupan manusia. Aktivitas sukarela dan spontan yang tidak memiliki titik akhir atau tujuan tertentu. Bermain secara intrinsik didorong oleh hasrat untuk bersenang-senang (Schaefer, C & Reid, S 2001). Bermain juga merupakan suatu kekuatan pendorong dalam perkembangan manusia, pada masa bayi dan masa anak-anak, bermain memiliki suatu peran kunci untuk eksplorasi, melatih otot dan pikiran (Schaefer, C & Reid, S 2001). Fromberg, 1992 (dalam Masnipal, 2008, h. 58-59) mendefinisikan bermain pada siswa sebagai symbolic, meaningful, active, pleasure, voluntary, rule-governed, eposodic.

Dalam pelaksanaanya games memerlukan kemampuan kognitif yang lebih besar dibandingkan dengan bermain (play), untuk bermain hopscotch sondah atau permainan kartu perang, orang harus dapat menghitung, mengenali angka-angka pokok, dan memahami konsep lebih banyak/lebih sedikit. Siswa-siswa yang bermain game juga harus memiliki toleransi frustasi yang cukup dan pengujian realitas untuk menerima batasan-batasan dalam berperilaku, bergiliran, mengikuti aturan, dan menerima kekalahan. Disamping itu dalam games diperlukan sejumlah konsentrasi dan persistensi untuk mengikuti suatu permainan.
Lebih jauh lagi, bermain game melibatkan suatu tantangan pribadi untuk menerapkan keterampilan-keterampilan seseorang (Rusmana, 2009b, h. 13). Karakteristik terakhir yang membedakan antara play dengan game adalah persyarat-persyarat game untuk interaksi interpersonal. Sepanjang sejarah, games telah berkembang sebagai aktivitas sosial dengan melibatkan dua orang atau lebih.

Pada kebanyakan games, tindakan-tindakan partisipasi memandang penting, artinya hasil dari game tergantung pada interaksi-interaksi dari para pemain, dan bukan pada tindakan satu orang pemain saja. Berbeda halnya dengan bermain yang tak terstruktur yang dapat dilaksanakan oleh dua orang siswa atau lebih dengan interaksi yang kecil diantara mereka. (Rusmana, 2009b, h. 13).

Refrensi :
  1. Masnipal, (2008). Model Pengembangan Kreativitas Melalui Permainan Konstruktif Dalam Proses Pendidikan Anak Usia Dini. Disertasi Pascasarjana UPI: Tidak diterbitkan.
  2. Rusmana, N. (2009a). Bimbingan dan Konseling Di Sekolah. Bandung: RIZQI  PRESS.
Copyright © 2014-2015 REFERENSI PENDIDIKAN Powered by Blogger - All Rights Reserved