Faktor-faktor Penyebab Kenakalan Remaja

Setiap melakukan tindakan atau melakukan suatu sikap tertentu dilakukan oleh sebuah motivasi dan motivasi atau dorongan tersebut tidak hanya satu motivasi melainkan dapat dari berbagai motivasi. Misalnya, seorang anak bersikap nakal di sekolah terhadap adik kelasnya, karena memiliki pengalaman terhadap kakak kelas yang juga bersikap sama terhadapnya. Motivasi atau dorongan-dorongan tersebut dapat dimasukkan ke dalam faktor-faktor penyebab munculnya kenakalan remaja. Faktor-faktor kenakalan remaja menurut Santrock, (2002; 24) lebih rinci dijelaskan sebagai berikut:

a. Identitas 

Menurut teori perkembangan yang dikemukan Erikson (1968), masa remaja ada pada tahap di mana krisis identitas versus difusi identitas harus diatasi. Erikson percaya bahwa delinkuensi pada remaja terutama ditandai dengan kegagalan remaja untuk mencapai integrasi yang kedua, yang melibatkan aspek-aspek peran identitas. Beberapa dari remaja yang tidak mampu memenuhi tuntutan yang dibebani pada mereka untuk setiap masa perkembangan yang mereka lewati, mungkin akan memilih perkembangan identitas yang negatif. Remaja seperti ini mungkin akan ambil bagian dalam tindak kenakalan, membuat diri mereka sendiri terperangkap dalam arus zaman yang paling negatif dalam dunia muda yang mereka hadapi.
b. Kontrol diri 

Kenakalan remaja juga dapat digambarkan sebagai kegagalan untuk mengembangkan kontrol diri yang cukup dalam hal tingkah laku. Beberapa anak gagal dalam mengembangkan kontrol diri yang esensial yang sudah dimiliki orang lain selama proses pertumbuhan. Santrock (2003) menunjukkan bahwa ternyata kontrol diri mempunyai peranan penting dalam kenakalan remaja. Mereka mungkin gagal membedakan tingkah laku yang dapat diterima dan yang tidak dapat diterima, atau mungkin mereka sebenarnya sudah mengetahui perbedaan antara keduanya namun gagal mengembangkan kontrol yang memadai dalam menggunakan perbedaan itu untuk membimbing tingkah laku mereka. Remaja pelaku kenakalan juga mungkin saja mengembangkan standar tingkah laku yang tidak memadai. Remaja yang akan melakukan tindakan antisosial memerlukan pemikiran krisis terhadap dirinya sendiri agar bisa menghambat kecenderungan untuk melakukan tindakan yang melanggar hukum. Standar krisis terhadap diri sendiri ini sangat dipengaruhi oleh model peran yang dimiliki oleh remaja. Oleh karena itu, remaja yang memiliki orang tua, guru, dan teman sebaya yang menunjukkan adanya standar krisis terhadap diri sendiri biasanya mengembangkan control diri yang diperlukan untuk menahan diri dari tindakan melanggar hukum atau antisosial. Hasil penelitian yang dilakukan baru-baru ini Santrock (2003) menunjukkan bahwa ternyata kontrol diri mempunyai peranan penting dalam kenakalan remaja. Pola asuh orangtua yang efektif di masa kanak- kanak (penerapan strategi yang konsisten, berpusat pada anak dan tidak aversif) berhubungan dengan dicapainya pengaturan diri oleh anak. Selanjutnya, dengan memiliki ketrampilan ini sebagai atribut internal akan berpengaruh pada menurunnya tingkat kenakalan remaja

c. Usia Penampakan awal

 perilaku antisosial berkaitan dengan pelanggaran- pelanggaran serius di kemudian hari pada masa remaja. Akan tetapi tidak semua anak yang bertindak berlebihan menjadi anak nakal. Munculnya tingkah laku anti sosial di usia dini berhubungan dengan penyerangan serius nantinya di masa remaja, namun demikian tidak semua anak yang bertingkah laku seperti ini nantinya akan menjadi pelaku kenakalan.

d. Jenis kelamin 

Remaja laki-laki lebih banyak terlibat dalam perilaku antisosial daripada remaja perempuan, walaupun remaja perempuan lebih cenderung melarikan diri dari rumah. Sedangkan remaja laki-laki lebih banyak terlibat dalam tindakan-tindakan kejahatan.

e. Harapan terhadap pendidikan dan nilai-nilai di sekolah. 

Remaja yang menjadi pelaku kenakalan seringkali memiliki harapan- harapan pendidikan yang rendah dan nilai rapor yang rendah. Kemampuan-kemampuan verbal mereka seringkali lemah. Remaja yang menjadi pelaku kenakalan seringkali memiliki harapan yang rendah terhadap pendidikan di sekolah. Mereka merasa bahwa sekolah tidak begitu bermanfaat untuk kehidupannya sehingga biasanya nilai-nilai mereka terhadap sekolah cenderung rendah. Mereka tidak mempunyai motivasi untuk sekolah.

f. Pengaruh orangtua 

Remaja yang nakal seringkali berasal dari keluarga dimana orangtua jarang memantau anak-anak mereka, memberi sedikit dukungan, dan mendisiplinkan mereka secara tidak efektif. Faktor keluarga sangat berpengaruh terhadap timbulnya kenakalan remaja. Kurangnya dukungan keluarga seperti kurangnya perhatian orangtua terhadap aktivitas anak, kurangnya penerapan disiplin yang efektif, kurangnya kasih sayang orangtua dapat menjadi pemicu timbulnya kenakalan remaja. Penelitian yang dilakukan oleh Gerald Patterson dan rekan-rekannya (dalam Santrock, 2003) menunjukkan bahwa pengawasan orangtua yang tidak memadai terhadap keberadaan remaja dan penerapan disiplin yang tidak efektif dan tidak sesuai merupakan faktor keluarga yang penting dalam menentukan munculnya kenakalan remaja. Perselisihan dalam keluarga atau stress yang dialami keluarga juga berhubungan dengan kenakalan. Faktor genetik juga termasuk pemicu timbulnya kenakalan remaja, meskipun persentasenya tidak begitu besar.

g. Pengaruh teman sebaya 

Bergaul dengan teman-teman sebaya yang nakal menambah besar resiko menjadi nakal. Memiliki teman-teman sebaya yang melakukan kenakalan meningkatkan risiko remaja untuk menjadi nakal. Pada sebuah penelitian Santrock (2003) terhadap 500 pelaku kenakalan dan 500 remaja yang tidak melakukan kenakalan di Boston, ditemukan persentase kenakalan yang lebih tinggi pada remaja yang memiliki hubungan reguler dengan teman sebaya yang melakukan kenakalan.

h.Status sosioekonomi 

Hal ini disebabkan kurangnya kesempatan remaja dari kelas sosial rendah untuk mengembangkan ketrampilan yang diterima oleh masyarakat. Mereka mungkin saja merasa bahwa mereka akan mendapatkan perhatian dan status dengan cara melakukan tindakan anti sosial. Menjadi “tangguh” dan “maskulin” adalah contoh status yang tinggi bagi remaja dari kelas sosial yang lebih rendah, dan status seperti ini sering ditentukan oleh keberhasilan remaja dalam melakukan kenakalan dan berhasil meloloskan diri setelah melakukan kenakalan. Pelanggaran-pelanggaran yang serius lebih sering dilakukan oleh kaum laki-laki kelas rendah.

i. Kualitas lingkungan Masyarakat seringkali membiakkan kejahatan

Tinggal di suatu daerah yang tingkat kejahatannya tinggi, yang juga dicirikan oleh kondisi-kondisi kemiskinan dan kehidupan yang padat, menambah kemungkinan bahwa seorang anak akan menjadi nakal. Masyarakat ini seringkali memiliki sekolah-sekolah yang sangat tidak memadai. Komunitas juga dapat berperan serta dalam memunculkan kenakalan remaja. Masyarakat dengan tingkat kriminalitas tinggi memungkinkan remaja mengamati berbagai model yang melakukan aktivitas kriminal dan memperoleh hasil atau penghargaan atas aktivitas kriminal mereka. Masyarakat seperti ini sering ditandai dengan kemiskinan, pengangguran, dan perasaan tersisih dari kaum kelas menengah. Kualitas sekolah, pendanaan pendidikan, dan aktivitas lingkungan yang terorganisir adalah faktor-faktor lain dalam masyarakat yang juga berhubungan dengan kenakalan remaja. Berhubung sangat banyaknya faktor yang menyebabkan tingkah laku kenakalan remaja maka dibagi atau dikelompokkan berdasarkan tempat atau sumber kenakalan remaja atas empat bagian (Willis, 2008:92):
  1. Faktor-faktor di dalam diri anak itu sendiri, yaitu predisposing factor, lemahnya pertahanan diri, kurangnya kemampuan penyesuaian diri, dan kurangnya dasar-dasar keimanan di dalam diri remaja
  2. Faktor-faktor di lingkungan rumah tangga, yaitu remaja kurang mendapatkan kasih sayang dan perhatian dari orangtua, lemahnya keadaan ekonomi orangtua (terutama di desa-desa), dan kehidupan keluarga yang tidak harmonis.
  3. Faktor-faktor yang berasal dari lingkungan masyarakat, yaitu kurangnya pelaksanaan ajaran-ajaran agama secara konsekuen, masyarakat yang kurang memperoleh pendidikan, kurangnya pengawasan terhadap remaja, dan pengaruh norma-norma baru dari luar
  4. Faktor-faktor yang berasal dari lingkungan sekolah, yaitu faktor guru, faktor fasilitas pendidikan, norma-norma pendidikan dan kekompakkan guru, dan kekurangan guru.
Refrensi Rujukan :
  1. Kartini, Kartono. (1992). Patologi Sosial II: Kenakalan Remaja. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
  2. Santoso, Topo dan Eva Achajani. (2003). Kriminologi. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.
  3. Santrock, John W. (1995). Life-Span Development. Alih Bahasa (2002). Juda Damanik dan Achmad Chusairi. Perkembangan Masa Hidup Edisi Lima Jilid II. Jakarta: Erlangga.
  4. Santrock, John W. (1996). Adolescence. Alih Bahasa (2003). Shinto B.Adelar dan Sherly Saragih. Perkembangan Remaja. Jakarta: Erlangga.