Fungsi Motivasi Belajar

Pada keseluruhan proses belajar, motivasi memiliki fungsi sentral atau utama. Menurut Nana Syaodih (2007:62) motivasi memiliki dua fungsi yaitu mengarahkan (directional function) dan mengaktifkan dan meningkatkan kegiatan (activating and energizing function). Pada fungsi mengarahkan, motivasi berperan mendekatkan atau menjauhkan individu dari sasaran yang akan dicapai. Apabila sasaran tersebut diinginkan oleh individu maka motivasi berperan mendekatkan (approach motivation), dan jika sasaran tidak diinginkan maka motivasi berperan menghindari (avoidance motivation).

Menurut Schunk (Farozin, 2011:37) motivasi dapat mempengaruhi apa, kapan, dan bagaimana seorang individu belajar. Hasil dari proses belajar akan menjadi baik apabila dilandasi dengan motivasi. Terdapat tiga fungsi motivasi belajar yang dikemukakan oleh Djamarah (2002:123), yaitu :
1) Motivasi sebagai pendorong perbuatan.

Pada mulanya siswa tidak ada hasrat untuk belajar, tetapi karena ada sesuatu yang dicari munculah minatnya untuk belajar. Sesuatu yang akan dicari dalam rangka untuk memuaskan rasa ingin tahunya dari sesuatu yang akan dipelajarinya. Sesuatu yang belum diketahui mendorong siswa untuk belajar dalam rangka mencari tahu. Siswa mengambil sikap seiring dengan minat terhadap suatu objek. Siswa memliki keyakinan dan pendirian tentang apa yang seharusnya dilakukan untuk mencari tentang sesuatu. Sikap yang mendasari dan mendorong ke arah sejumlah perbuatan dalam belajar. Motivasi yang berfungsi sebagai pendorong mempengaruhi sikap apa yang seharusnya diambil siswa dalam rangka belajar.

2) Motivasi sebagai penggerak perbuatan.

Dorongan psikologis yang melahirkan sikap terhadap siswa merupakan suatu kekuatan yang tidak terbendung, yang kemudian terjelma dalam bentuk psikofisik. Siswa sudah melakukan aktivitas belajar dengan segenap jiwa dan raga. Akal pikiran berproses dengan sikap raga yang cenderung tunduk dengan kehendak perbuatan belajar. Sikap berada dalam kapasitas perbuatan dan akal pikiran mencoba membedah nilai yang terpatri dalam wacana, prinsip, dalil, dan hukum, sehingga mengerti betul isi yang dikandungnya.

3) Motivasi sebagai pengarah perbuatan.

Siswa yang mempunyai motivasi dapat menyeleksi mana perbuatan yang harus dilakukan dan mana perbuatan perbaikan. Seorang siswa yang ingin mendapatkan sesuatu dari suatu mata pelajaran tertentu, tidak mungkin dipaksakan untuk mempelajari mata pelajaran lain. Pasti siswa akan mempelajari mata pelajaran di mana tersimpan sesuatu yang akan dicari itu. Sesuatu yang akan dicari siswa merupakan tujuan dari belajar. Tujuan belajar sebagai pengarah yang memberikan motivasi kepada siswa dalam belajar. Dengan tekun siswa belajar, penuh konsentrasi dengan tujuan mencari sesuatu yang belum diketahuinya itu cepat tercapai. Segala sesuatu yang mengganggu pikirannya dan dapat membuyarkan konsentrasinya diusahakan disingkirkan jauh-jauh. Peranan motivasi dapat mengarahkan perbuatan siswa dalam belajar.

Refrensi Rujukan :
  1. Mc. Clelland, Atkinson, Clark & Lowell. (1953). The Achievment Motive. New York: Halsted Press.
  2. Mc.Clelland, D. C .(1985). Human Motivation. Illinois : Scott, Foresman & Company.
  3. Nasution. (2004). Sosiologi Pendidikan. Jakarta : Bumi Aksara
  4. Natawidjaja, Rochman. (2009). Konseling Kelompok,konsep Dasar dan Pendekatan . Bandung : Rizqi Press
  5. Nisriyana, Ela. (2007). Hubungan interaksi sosial dalam kelompok Teman sebaya dengan motivasi belajar siswa. Skripsi Sarjana pada Fip UNNES Semarang : tidak diterbitkan.
  6. Surya, Mohamad. (2003). Psikologi Konseling. Bandung : Pustaka Bani Quraisy
  7. Syamsudin, Makmun Abin. (2003). Psikologi Pendidikan. Bandung : PT Remaja Rosda Karya
  8. Uno, Hamzah B. (2011). Teori Motivasi dan Pengukurannya. Jakarta : Bumi Aksara.
  9. Widiastuty, Isti Larasati. (2011). Indeks Pembangunan Manusia. BPS Kota Bandung
  10. Winkel, W.S. (2009). Bimbingan di Institusi Pendidikan. Jakarta : Grafindo
  11. Yusuf, Syamsu. (2009). Program Bimbingan dan Konseling di sekolah. Bandung : Rizqi Press
  12. Yusuf, Syamsu dan Nurikhsan, Juntika. (2006). Landasan Bimbingan dan Konseling. Bandung : PT Remaja Rosdakarya