REFERENSI PENDIDIKAN

Implementasi Pembelajaran Tematik di Sekolah

http://ewintribengkulu.blogspot.com/2013/04/implementasi-pembelajaran-tematik-di.html

Apakah mungkin beberapa materi dari mata pelajaran terpisah dipadukan? Mengapa tidak, materi beberapa mata pelajaran, khususnya di SD dapat disajikan secara terpadu atau tematik. Tentu saja materi yang dipilih merupakan materi yang saling kait mengait. Misalnya, pada waktu akan membahas golongan darah (IPA) guru dapat menugaskan untuk menyelidiki penyebaran golongan darah A, B, O, dan AB masing-masing siswa. Setelah data terkumpul, siswa dapat menyajikan pengelompokkan golongan darah ini dengan beragam grafik (matematika). Pembahasan tentang ciri-ciri siswa yang memiliki golongan darah tertentu dapat dideskripsikan dalam bentuk karangan lucu (bahasa Indonesia).

Pembelajaran tematik ini menuntut guru untuk bekerja keras membaca beberapa buku acuan, mencatat segala gejala alam dan peristiwa yang terjadi di masyarakat. Guru perlu pula mengkaji materi GBPP beberapa mata pelajaran yang mungkin dapat dipadukan dalam satu tema. Namun perlu diingat, bahwa dalam pembelajaran tematik tidak harus memadukan semua mata pelajaran. Di SD terdiri dari sejumlah mata pelajaran umum dan kelompok mata pelajaran muatan lokal. Melalui pengkajian antar materi pelajaran, maka dapat diketahui bahwa beberapa topik/konsep dari dua atau lebih mata pelajaran dapat dipadukan dan dirangkai ke dalam satu tema.

Pembelajaran tematik tidak menuntut adanya perubahan jadwal pelajaran yang telah ada. Pembelajaran tematik dapat memanfaatkan jadwal pelajaran yang telah ada, sehingga guru belum perlu mengubah jadwal pelajaran. Artinya pelajaran tetap diberikan sesuai jadwal pelajaran sehari-hari yang ada. Begitu juga, tujuan pembelajaran dan alokasi waktu yang tersedia, tidak perlu dirubah, sesuai dengan yang tertuang dalam GBPP. Untuk materi yang sulit dipadukan, dituntut kerja keras dari guru dengan mengerahkan seluruh kemampuan, pengalaman, dan pengetahuan yang dimilikinya serta mengkaji berbagai sumber acuan dan media yang ada.

Guru perlu menyadari, bahwa tidak semua materi dapat dipadukan dalam suatu tema, namun untuk materi/topik yang direncanakan untuk diajarkan secara tematik, pilihlah materi-materi yang dapat dipadukan dalam satu tema aktual yang ada di sekitar siswa. Misalnya krisis ekonomi, bahaya narkoba, derita gempa bumi, korban banjir, dan sebagainya.

Pembelajaran tematik ini lebih sesuai diterapkan di SD, karena guru SD pada umumya merupakan guru kelas. Artinya, dengan kewenangannya mengajar semua mata pelajaran (kecuali mata pelajaran Agama dan Olah Raga), guru dapat mengatur sendiri cara menyajikan beberapa mata pelajaran, disesuaikan dengan ketersediaan alat pelajaran, ketersediaan waktu, ketersediaan buku pelajaran, dan kondisi minat serta kemampuan siswa.

Keterpaduan pemahaman selalu berlangsung, baik secara vertikal maupun secara horizontal. Keterpaduan yang bersifat vertikal berlangsung mulai materi pelajaran kelas 1 sampai dengan materi kelas 6, dan bahkan keterpaduan pemahaman berlangsung mulai TK sampai ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, seperti sekolah lanjutan. Pemahaman terhadap suatu topik/konsep diharapkan dapat membangun dasar untuk memahami topik/konsep berikutnya. Pemahaman topik/konsep kelas 1 diharapkan dapat menjadi dasar untuk memahami topik/konsep kelas 2, dan begitu seterusnya. Dengan demikian, pemahaman konsep selalu bersinergi melalui keterpaduan pemahaman.

Keterpaduan pemahaman secara horizontal merupakan keterpaduan tentang keluasan dan kedalaman materi pembelajaran dalam satu mata pelajaran. Ketika mata pelajaran yang disajikan guru dapat dipahami siswa secara terpisah, diharapkan dampak keterpaduan pemahaman kumulatif dapat terjadi. Selanjutnya, pemahaman yang terpadu ini akan berkembang menjadi dasar pemahaman topik/konsep terkait pada masa mendatang.

Refrensi Rujukan :
  1. Gunter, Marry Alice., Thomas, Jan Schwab, (1999) Instruction; A Models Approach, 3th Ed, Allyn And Bacon: USA
  2. Joyce Bruce. Et al. (2000). Models of Teaching. 6th Ed. Allyn & Bacon : London
  3. Nasution. (1993). Pengembangan Kurikulum. Bandung : Citra Aditya Bakti.
  4. Reiser A. Robert & Dikc Walter, (1996) Instructional Planning, Asimon & Schuster Company. Needham Heights. Masaschussetts.
  5. Schubert, W.H. (1986). Curriculum : Perspective, Paradigm, and Possibility. New York : Macmillan Pub.
  6. Sukmadinata, Nana S. (2000). Pengembangan Kurikulum: Teori dan Praktek. Remaja Rosdakarya : Bandung.
  7. Susilana, Rudi (Koord), (2006), Kurikulum dan Pembelajaran, Jurusan Kurtek FIP
  8. Universitas Pendidikan Indonesia.
  9. Sanjaya, Wina., (2006) Strategi Pembelajaran, Kencana Prenada Media: Jakarta
  10. Sukandi, Ujang, (dkk) (2001), Belajar Aktif dan Terpadu: Apa, mengapa dan Bagaimana? The British Council: Jakarta.
Copyright © 2014-2015 REFERENSI PENDIDIKAN Powered by Blogger - All Rights Reserved