Interaksi Sosial Siswa dengan Teman Sebaya

Masa remaja merupakan masa peralihan dari masa anak dengan masa dewasa yang mengalami perkembangan semua aspek atau fungsi untuk memasuki masa dewasa (Rumini & Sundari, 2004). Sedangkan definisi remaja menurut Sarwono (2006) adalah individu yang berumur antara 10-20 tahun. Adapun tahapan perkembangan remaja yaitu remaja awal (10-14 tahun), remaja tengah (15-19 tahun), remaja akhir (20-24). Berdasarkan beberapa teori seblumnya, maka siswa SMP/SMA termasuk kedalam kategori remaja karena berada pada rentang usia 10-20 tahun.

Sebagaimana diketahui, dalam setiap fase perkembangan, termasuk pada masa remaja, individu memiliki tugas-tugas perkembangan yang harus dipenuhi. Salah satu tugas perkembangan remaja adalah mencapai hubungan sosial yang lebih matang dengan teman-teman sebayanya, baik dengan teman-teman sejenis maupun jenis kelamin lain. Sejalan dengan hal itu Key (dalam Yusuf, 2006:72) menguraikan bahwa salah satu tugas perkembangan remaja adalah belajar bergaul dengan teman sebaya atau orang lain, baik secara individual maupun kelompok. Jika seorang remaja tidak dapat melewati tugas perkembangannya dengan baik atau melakukan melakukan kesalahan dalam hubungan sosialnya maka dapat berdampakk pada penerimaan sosial dan dampak sosial yang rendah sehingga menyebabkan ia ditolak atau diabaikan teman sebayanya.

Dalam proses interaksi sosial siswa dengan teman sebaya di sekolah, tidak semua siswa bisa berinteraksi sosial dengan baik. Siswa yang bisa berinteraksi dengan baik akan diterima teman-temanya, sebaliknya siswa yang mengalami kesulitan dalam berinteraksi dengan teman sebayanya akan ditolak oleh teman-temannya.

Remaja yang dapat melewati tugas perkembangannya dengan baik akan dapat berinteraksi sosial dengan baik. Hal tersebut akan memberikan pengaruh yang positf terhadap remaja, seperti memiliki keinginan untuk terlibat dalam dunia teman sebyanya, misalnya menghabiskan waktu dengan teman sebayanya untuk mengerjakan tugas bersama, berdiskusi tentang pelajaran yang telah dibahas setiap pulang sekolah, keadaan seperti itu. Begitupun sebaliknya ketika. Remaja yang ditolak atau diabaikan oleh teman sebayanya akan cenderung bertingkah laku negatif, seperti menggunakan bahasa yang asal-asalan, mempermainkan orang tua dan guru, berbohong, membolos, mencuri dan lain sebagainya

Penerimaan atau penolakan teman sebaya mempunyai pengaruh yang kuat terhadap pikiran, sikap, perasaan, perbuatan-perbuatan dan penyesuaian diri remaja.  Akibat langsung dari penerimaan teman sebaya bagi seseorang remaja adalah adanya rasa berharga dan berarti serta dibutuhkan bagi kelompoknya. Hal yang demikian ini akan menimbulkan rasa senang, gembira, puas bahkan rasa bahagia. Hal yang sebaliknya dapat terjadi bagi remaja yang ditolak oleh kelompoknya yakni adanya frustasi yang menimbulkan rasa kecewa akibat penolakan atau pengabaian itu.

Refrensi Rujukan :
  1. Yusuf, S. 2006. Psikologi Perkembangan Anak & Remaja. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
  2. Sarwono, Sarlito W. 2006. Psikologi Remaja. Jakarta : Raja Grafindo Persada
  3. Rumini, Sri & Sundari, Siti. 2004. Perkembangan Anak & Remaja. Jakarta : Rineka Cipta.