Kelebihan dan Kekurangan Model Pembelajaran Tuntas

Setiap pendekatan pembelajaran sudah tentu tidak akan lepas dari kelebihan dan kekurangan yang dimilikinya. Setelah mengkaji beberapa hal yang berkaitan dengan pendekatan pembelajaran tuntas di atas, tiba saatnya kita menganalisis kelebihan dan kekurangan dari pendekatan pembelajaran tuntas.

Apabila Anda telah membaca dan memahami berbagai uraian dan penjelasan sebagaimana telah dikemukakan di atas, nampaknya Anda sendiri sudah bisa menangkap apa yang menjadi kelebihan dan kekurangan dari pendekatan pembelajaran tuntas ini. Silakan Anda diskusikan dengan teman sejawat dan tuliskan dalam lembar kertas terpisah, kemudian bandingkan hasil diskusi tersebut dengan beberapa poin di bawah ini. Kelebihan pendekatan pembelajaran tuntas:
  1. Pendekatan ini sejalan dengan pandangan psikologi belajar modern yang berpegang pada prinsip perbedaan individual.
  2. Memungkinkan siswa belajar lebih aktif dan memberi kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan diri sendiri, memecahkan masalah sendiri dengan proses menemukan dan bekerja sendiri.
  3. Guru dan siswa dapat bekerja sama secara partisipatif dan persuasif, baik dalam proses belajar maupun proses bimbingan terhadap siswa lainnya.
  4. Berorientasi kepada peningkatan produktivitas hasil belajar karena siswa dapat menguasai bahan pelajaran secara tuntas, menyeluruh, dan utuh.
  5. Pendekatan ini pada hakekatnya tidak mengenal siswa yang gagal belajar atau tidak naik kelas. Siswa yang hasil belajarnya kurang memuaskan atau masih di bawah target hasil yang diharapkan, terus menerus dibantu oleh rekannya dan gurunya.
  6. Penilaian yang dilakukan terhadap kemajuan belajar siswa mengandung unsur objektivitas yang tinggi sebab penilaian dilakukan oleh guru, rekan sekelas dan oleh diri sendiri, dan berlangsung secara berlanjut serta berdasarkan ukuran keberhasilan (standar perilaku) yang jelas dan spesifik.
  7. Didasarkan pada suatu perencanaan yang sistemik yang memiliki derajat koherensi yang tinggi dengan kurikulum yang berlaku.
  8. Menyediakan waktu belajar yang cukup sesuai dengan keadaan dan kebutuhan masing-masing individu siswa sehingga memungkinkan mereka belajar secara lebih leluasa.
  9. Berusaha mengatasi kelemahan-kelemahan yang terdapat pada pendekatan pembelajaran konvensional yang pada umumnya berdasarkan pendekatan klasikal.
Beberapa kekurangan atau kelemahan dari pembelajaran tuntas, antara lain:
  1. Guru sering mengalami kesulitan dalam membuat perencanaan mengajar karena harus dibuat untuk jangka waktu yang cukup panjang di samping penyusunan perencanaan mengajar yang lengkap dan menyeluruh.
  2. Pendekatan pembelajaran tuntas ini dalam pelaksanaannya harus melibatkan berbagai kegiatan, yang berarti menuntut macam-macam kemampuan guru yang memadai.
  3. Guru-guru yang sudah terbiasa melaksanakan pembelajaran dengan cara-cara yang lama (konvensional) biasanya akan mengalami hambatan untuk melaksanakan pendekatan pembelajaran tuntas ini.
  4. Pendekatan ini mempersyaratkan tersedianya berbagai fasilitas, perlengkapan, alat, dana, dan waktu yang cukup banyak, sedangkan sekolah-sekolah kita pada umumnya masih langka dalam segi sumber-sumber teknis seperti yang diharapkan.
  5. Diberlakukannya sistem ujian seperti EBTA, EBTANAS, UAN/UN yang menuntut penyelenggaraan program pembelajaran pada waktu yang telah ditetapkan dan usaha persiapan para siswa untuk menempuh ujian, mungkin menjadi salah satu unsur penghambat pelaksanaan pembelajaran tuntas yang diharapkan.
  6. Untuk melaksanakan pendekatan ini yang mengacu kepada penguasaan materi belajar secara tuntas pada gilirannya menuntut para guru agar mengusai materi tersebut secara lebih luas, menyeluruh, dan lebih lengkap. Hal ini menuntut para guru agar belajar lebih banyak dan menggunakan sumber-sumber yang lebih luas.
Dengan mengetahui adanya kelebihan dan kekurangan dari pendekatan pembelajaran tuntas seperti telah diuraikan di atas, kita dapat lebih menyempurnakan pelaksanaannya sehingga kita dapat memetik manfaat untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di sekolah dasar.


Refrensi Rujukan :
  1. Anderson L.W.; Block J.H. (1987). Mastery Learning Models. in Michael J. Dunkin (Ed). The International Encyclopedia of Teaching and Teacher Education, Oxford: Pergamon Press.
  2. Bloom, B.S. (1976). Human Characteristics and Social Learning. New York. McGraw- Hill.
  3. Brown, B.W and Daniel H. (1980). Saks Production Technologies and Resource Alloccation Within Classrooms and Schools: Theory and Measurement dalam The Analysis of Educational Productivity, Vol I: Issues In Microanalysis, diedit oleh Robert Dreeben and J. Alan Thomas; Cambridge, Mass: Bafiinger Publishing Company.
  4. Guskey T.R. (1985). Implementing Mastery Learning, California: Wadsworth, Inc.
  5. Julia Peterson. (2002). Introduction to Education. http://www.dana.edu/edu/ portfolio/Peterson_Julia/ PhilosophyofEducation.doc.
  6. Mukminan. (2003). Pembelajaran Tuntas (Mastery Learning). Departemen Pendidikan Nasional, Ditjen Dikdasmen, Direktoral PLP, Jakarta.
  7. Perry. (tanpa tahun). Mastery Learning. Where Curriculum, Assessment, and Instruction Meet. http:// www.perry-lake.k12.oh.us/ pplc/Mastery%20 Learning%20Packet.doc -