REFERENSI PENDIDIKAN

Landasan Pembelajaran Tematik

http://ewintribengkulu.blogspot.com/2013/04/landasan-pembelajaran-tematik.html

Setiap pelaksanaan pembelajaran di sekolah dasar, seorang guru harus mempertimbangkan banyak faktor. Secara filosofis, kemunculan pembelajaran tematik sangat dipengaruhi oleh tiga aliran filsafat berikut: (1) progresivisme, (2) konstruktivisme, dan (3) humanisme.
  1. Aliran progresivisme beranggapan bahwa proses pembelajaran pada umumnya perlu sekali ditekankan pada: (a) pembentukan kreatifitas, (b) pemberian sejumlah kegiatan, (c) suasana yang alamiah (natural), dan (d) memperhatikan pengalaman siswa. Dengan kata lain proses pembelajaran itu bersifat mekanistis (Ellis, 1993). Aliran ini juga memandang bahwa dalam proses belajar, siswa sering dihadapkan pada persoalan-persoalan yang harus mendapatkan pemecahan atau bersifat “problem solving”. Dalam memecahkan masalah tersebut, siswa perlu memilih dan menyusun ulang pengetahuan dan pengalaman belajar yang telah dimilikinya. Dalam hal demikian maka terjadi proses berpikir yang terkait dengan “metakognisi”, yaitu proses menghubungkan pengetahuan dan pengalaman belajar dengan pengetahuan lain untuk menghasilkan sesuatu (J. Marzano et al, 1992). Terdapatnya kesalahan atau kekeliruan dalam proses pemecahan masalah atau sesuatu yang dihasilkan adalah sesuatu yang wajar, karena hal itu merupakan bagian dari proses belajar.
  2. Pengalaman langsung siswa (direct experiences) Aliran konstruktivisme menekankan bahwa pengetahuan adalah hasil konstruksi atau bentukan manusia. Manusia mengkonstruksi pengetahuannya melalui interaksi dengan obyek, fenomena, pengalaman dan lingkungannya. Suatu pengetahuan dianggap benar bila pengetahuan itu dapat berguna untuk menghadapi dan memecahkan persoalan atau fenomena yang sesuai. Bagi konstruktivisme, pengetahuan tidak dapat ditransfer begitu saja dari seorang guru kepada siswa, tetapi harus diinterpretasikan sendiri oleh masing-masing siswa. Siswa harus mengkonstruksi pengetahuan sendiri. Pengetahuan bukan sesuatu yang sudah jadi, melainkan suatu proses yang berkembang terus menerus.
  3. Aliran humanisme melihat siswa dari segi: (a) keunikan/kekhasannya, (b) potensinya, dan (c) motivasi yang dimilikinya. Siswa selain memiliki kesamaan juga memiliki kekhasan. Implikasi dari hal tersebut dalam kegiatan pembelajaran yaitu: (a) layanan pembelajaran selain bersifat klasikal, juga bersifat individual, (b) pengakuan adanya siswa yang lambat (slow learner) dan siswa yang cepat, (c) penyikapan yang unik terhadap siswa baik yang menyangkut faktor personal/individual maupun yang menyangkut faktor lingkungan sosial/kemasyarakatan.
Berdasarkan landasan filosofi yang telah dijelaskan diawal kita dapat pahami bahwa secara fitrah siswa memiliki bekal atau potensi yang sama dalam upaya memahami sesuatu. Sehingga Implikasi wawasan tersebut dalam kegiatan pembelajaran yaitu:
  1. Guru bukan merupakan satu-satunya sumber informasi,
  2. Siswa disikapi sebagai subjek belajar yang secara kreatif mampu menemukan pemahamannya sendiri,
  3. Dalam proses pembelajaran, guru lebih banyak bertindak sebagai model, teman pendamping, pemberi motivasi, penyedia bahan pembelajaran, dan aktor yang juga bertindak sebagai siswa (pembelajar).
Sedangkan dilihat dari motivasi dan minat, siswa memiliki ciri tersendiri. Implikasi dari pandangan tersebut dalam kegiatan pembelajaran yaitu:
  1. isi pembelajaran harus memiliki manfaat bagi siswa secara aktual,
  2. dalam kegiatan belajarnya siswa harus menyadari penguasaan isi pembelajaran itu bagi kehidupannya, dan
  3. isi pembelajaran perlu disesuaikan dengan tingkat perkembangan, pengalaman, dan pengetahuan siswa.
Selain landasan filosofis di atas, pembelajaran tematik juga dilandasi oleh beberapa pandangan psikologis. Hal ini disebabkan bahwa poses pembelajaran itu sendiri berkaitan dengan perilaku manusia, dalam hal ini yaitu siswa. Pandangan-pandangan psikologis yang melandasai pembelajaran tematik dapat diuraikan sebagai berikut.
  1. Pada dasarnya masing-masing siswa membangun realitasnya sendiri. Dengan kata lain, pengalaman langsung siswa adalah kunci dari pembelajaran yang berarti bukan pengalaman orang lain (guru) yang ditransfer melalui berbagai bentuk media.
  2. Pikiran seseorang pada dasarnya mempunyai kemampuan untuk mencari pola dan hubungan antara gagasan-gagasan yang ada. Pembelajaran tematik memungkinkan siswa untuk menemukan pola dan hubungan tersebut dari berbagai disiplin ilmu.
  3. Pada dasarnya siswa adalah seorang individu dengan berbagai kemampuan yang dimilikinya dan mempunyai kesempatan untuk berkembang. Dengan demikian, peran guru bukanlah satu-satunya pihak yang paling menentukan, tetapi lebih banyak bertindak sebagai “tut wuri handayani”.
  4. Keseluruhan perkembangan anak adalah terpadu dan anak melihat dirinya dan sekitarnya secara utuh (holistik).
Landasan praktis juga diperlukan dalam pengembangan pembelajaran tematik, karena pada dasarnya guru harus melaksanakan pembelajaran tematik secara aplikatif di dalam kelas. Sehubungan dengan hal ini maka dalam pelaksanaannya pembelajaran tematik juga dilandasi landasan praktis sebagai berikut:
  1. Perkembangan ilmu pengetahuan begitu cepat sehingga terlalu banyak informasi yang harus dimuat dalam kurikulum.
  2. Hampir semua pelajaran di sekolah diberikan secara terpisah satu sama lain, padahal seharusnya saling terkait.
  3. Permasalahan yang muncul dalam pembelajaran sekarang ini cenderung lebih bersifat lintas mata pelajaran (interdisipliner) sehingga diperlukan usaha kolaboratif antara berbagai mata pelajaran untuk memecahkannya.
  4. Kesenjangan yang terjadi antara teori dan praktik dapat dipersempit dengan pembelajaran yang dirancang secara terpadu sehingga siswa akan mampu berpikir teoritis dan pada saat yang sama mampu berpikir praktis.
Refrensi Rujukan :

  1. Gunter, Marry Alice., Thomas, Jan Schwab, (1999) Instruction; A Models Approach, 3th Ed, Allyn And Bacon: USA
  2. Joyce Bruce. Et al. (2000). Models of Teaching. 6th Ed. Allyn & Bacon : London
  3. Nasution. (1993). Pengembangan Kurikulum. Bandung : Citra Aditya Bakti.
  4. Reiser A. Robert & Dikc Walter, (1996) Instructional Planning, Asimon & Schuster Company. Needham Heights. Masaschussetts.
  5. Schubert, W.H. (1986). Curriculum : Perspective, Paradigm, and Possibility. New York : Macmillan Pub.
  6. Sukmadinata, Nana S. (2000). Pengembangan Kurikulum: Teori dan Praktek. Remaja Rosdakarya : Bandung.
  7. Susilana, Rudi (Koord), (2006), Kurikulum dan Pembelajaran, Jurusan Kurtek FIP
  8. Universitas Pendidikan Indonesia.
  9. Sanjaya, Wina., (2006) Strategi Pembelajaran, Kencana Prenada Media: Jakarta
  10. Sukandi, Ujang, (dkk) (2001), Belajar Aktif dan Terpadu: Apa, mengapa dan Bagaimana? The British Council: Jakarta.
Copyright © 2014-2015 REFERENSI PENDIDIKAN Powered by Blogger - All Rights Reserved