REFERENSI PENDIDIKAN

Pendidikan dan Kebudayaan

http://ewintribengkulu.blogspot.com/2013/04/pendidikan-dan-kebudayaan.html

Enkulturasi, Transmisi Kebudayaan dan Perubahan Kebudayaan. Kebudayaan adalah ciptaan manusia dan syarat bagi kehidupan manusia. Manusia menciptakan kebudayaan dan karena kebudayaannya manusia menjadi makhluk yang berbudaya. Coba Anda perhatikan bayi yang baru lahir ke dunia, ia dalam keadaan penuh ketergantungan kepada orang lain, khususnya kepada orang tuanya, ia belum dapat mengendalikan emosinya, belum tahu nilai dan norma, belum mampu membayangkan masa depannya, dst. Namun demikian, karena ia hidup dalam lingkungan yang berbudaya, melalui pendidikan (enkulturasi) pada akhirnya ia menjadi orang dewasa yang mampu berperan serta dalam kehidupan masyarakat dan budayanya yang begitu
kompleks.

Sebagaimana telah Anda pahami melalui kegiatan belajar 1, menurut sudut pandang antropologi, bahwa yang memungkinkan hal di atas terjadi adalah enkulturasi. Dengan mengacu kepada pernyataan Melville J. Herkovits, Imran Manan (1989:34) mengemukakan bahwa: “Enkulturasi seorang individu selama tahun-tahun awal dari kehidupannya adalah mekanisme pokok yang membuat sebuah kebudayaan stabil, sementara proses yang berjalan pada anggota masyarakat yang lebih tua sangat penting dalam mendorong perubahan”. Jadi selama masa kanak-kanak dan masa mudanya, enkulturasi menstabilkan budaya, karena enkulturasi mengembangkan kebiasaankebiasaan sosial yang diterima menjadi kepribadian anak yang makin matang. Dalam hal ini enkulturasi berarti transmisi kebudayaan. Namun demikian, di kala dewasa, enkulturasi sering mendorong perubahan. Hal ini terjadi karena banyak bentuk-bentuk perilaku baru yang diperlukan orang dewasa, bahkan tidak hanya bagi dirinya saja tetapi juga bagi kebudayaan itu sendiri.

Pandangan tentang Kebudayaan dan Pendidikan. Ada tiga pandangan tentang kebudayaan yang berimplikasi terhadap konsep pendidikan. Ketiga pandangan tersebut yakni: 1) Pandangan Superorganik, 2) Pandangan Konseptualis, dan 3) Pandangan Realis (Imran Manan, 1989).

Pandangan Superorganik. Apabila melalui uraian di atas Anda telah memahami bahwa kebudayaan adalah ciptaan manusia, sebaliknya menurut pandangan Superorganik, bahwa kebudayaan merupakan sebuah kenyataan yang berada di atas dan di luar individu-individu yang menjadi pendukung kebudayaan, dan realita tersebut mempunyai hukum-hukumnya sendiri. Jadi kebudayaan itu merupakan realita superorganis. Leslie White salah seorang pendukung pandangan Superorganik mengemukakan bahwa: “Perilaku manusia semata-mata merupakan respons organisme terhadap rangsangan budaya. Karena itu, tingkah laku manusia ditentukan oleh kebudayaan. Apa yang dicari orang dan bagaimana ia mencarinya ditentukan oleh kebudayaan. Ini merupakan pandangan “determinisme budaya” di mana manusia dipandang sebagai instrumen, melalui manusia kebudayaan mengungkapkan dirinya sendiri.

Sebagaimana dikemukakan Kneller (Imran Manan, 1989), implikasi pandangana Superorganik tentang kebudayaan terhadap pendidikan adalah bahwa pendidikan dipandang sebagai suatu proses yang digunakan suatu masyarakat untuk mengendalikan dan membentuk individu-idividu sesuai dengan tujuan-tujuan yang ditentukan oleh nilainilai dasar suatu kebudayaan. Pendidikan - informal,formal maupun nonformal - merupakan proses yang meletakkan generasi baru di bawah pengendalian sebuah sistem budaya. Pandangan superorganik juga menekankan keharusan pemerintah untuk melakukan pengawasan yang ketat untuk menjamin bahwa para guru benar-benar menanamkan gagasan-gagasan, sikap-sikap dan keterampilan keterampilan yang mendukung kelanjutan kebudayaan. Ini berarti bahwa pendidikan bersifat sentralistik,
selain itu pendidikan hanya berfungsi untuk pewarisan atau transisi kebudayaan.


Pandangan Konseptualis. Sebaliknya dari pandangan Superorganik, menurut pandangan Konseptualis kebudayaan tidak memiliki realita yang bersifat ontologis, kebudayaan bukan suatu realita superorganis diatas dan di luar individu. Melainkan, kebudayaan adalah sebuah “logical construct” yang diabstraksikan dari tingkah laku manusia. Kebudayaan adalah sebuah konsep yang dibangun dari keseragamankeseragaman yang dapat diamati dalam urutan tingkah laku dengan menggunakan sebuah proses abstraksi logis.

Implikasi pandangan Konseptualis tentang kebudayaan terhadap pendidikan adalah bahwa dalam pendidikan generasi baru harus mempelajari warisan budayanya sesuai dengan perhatiannya dan mengembangkan gambaran mereka sendiri mengenai kebudayaannya secara objektif. Sebab itu, menurut pandangan Konseptualis pendidikan dipandang dapat menjadi alat perubahan budaya dalam arti menciptakan iklim opini yang merangsang pemikiran dan penerimaan pemikiran inovatif.

Pandangan Realis. Menurut pandangan Realis, kebudayaan merupakan sebuah konsep dan realita empiris. Sebagaimana dikemukakan David Bidney (Imran Manan, 1989), kebudayaan merupakan “warisan budaya” yaitu abstraksi atau generalisasi dari “perilaku” nyata anggota-anggota masyarakat. Hal ini berarti kebudayaan merupakan sebuah konsep (abstraksi) dan juga sebuah realita (tingkah laku).

Implikasi pandangan Realis tentang kebudayaan terhadap pendidikan: Pengikut pandangan Realis meyakini bahwa anak manusia memiliki daya penyesuaian terhadap realita yang mengelilinginya, baik terhadap yang bersifat fisik maupun sosial-budaya. Untuk mengembangkan daya penyesuaian tersebut mereka harus diberi berbagai pengetahuan, nilai, sikap dan keterampilan yang disediakan oleh kebudayaan mereka. Mereka menginginkan system pendidikan yang berfungsi untuk melatih generasi muda mempunyai kemampuan untuk mempertimbangkan secara objektif perubahan sosial budaya yang sesuai dengan nilai-nilai dasar budayanya.

Fungsi Pendidikan dalam Masyarakat dan Kebudayaannya. Uraian di atas memberikan pemahaman kepada Anda tentang adanya perbedaan paham mengenai kebudayaan dan implikasinya terhadap pendidikan. Ini berkenaan dengan apakah fungsi pendidikan dalam suatu masyarakat hanya untuk menanamkan warisan budaya atau mempengaruhi perkembangan kebudayaan? Selain itu juga berkenaan dengan apakah anak didik harus mempelajari warisan budaya sebagaimana diajarkan pendidiknya, ataukah anak didik harus mengeksplorasi atas inisiatif sendiri, menciptakan gambarnya sendiri tentang warisan kebudayaan? Lepas dari perbedaan pendapat tersebut, dari uraian di atas juga Anda kiranya dapat memperoleh pelajaran bahwa pada dasarnya terdapat dua fungsi pokok pendidikan dalam hubungannya dengan keadaan serta harapan masyarakat dan kebudayaannya. Kedua fungsi yang dimaksud adalah:
  1. Fungsi konservasi. Dalam hal ini, pranata pendidikan berfungsi untuk mentransmisikan/mewariskan atau melestarikan nilai-nilai budaya masyarakat dan/atau mempertahankan kelangsungan eksistensi masayarakat.
  2. Fungsi Inovasi/kreasi/transformasi, Dalam hal ini, pranata pendidikan berfungsi untuk melakukan perubahan dan pembaharuan masyarakat beserta nilai-nilai budayanya.
Kedua fungsi pendidikan sebagaimana dikemukakan di atas, yaitu fungsi konservasi dan fungsi inovasi pendidikan bagi masyarakat dan kebudayaannya dapat kita pahami dan riil terjadi di dalam kehidupan masyarakat. Sebagaimana Anda maklumi, di dalam masyarakat terdapat nilai-nilai, pengetahuan, dan kelakuan-kelakuan berpola yang masih relevan dan dipandang baik yang harus tetap dilestarikan. Sebaliknya, terdapat pula nilai-nilai, pengetahuan dan kelakuan berpola yang sudah dipandang tidak relevan lagi dan tidak bernilai yang perlu diubah atau diperbaharui. Adapun untuk melestarikan dan melakukan pembaharuan atau perubahan tersebut masyarakat perlu melakukannya melalui pendidikan, atau melalui apa yang di dalam antropologi disebut enkulturasi.

Idealnya, pendidikan dijalani individu sepanjang hayat. Dalam rangka pendidikan yang berlangsung sepanjang hayat tersebut, pendidikan berlangsung secara informal, formal dan nonformal di berbagai lingkungan pendidikan. Sehubungan dengan itu, maka dapat dikenal adanya tiga jenis lingkungan pendidikan, yaitu lingkungan pendidikan informal, lingkungan pendidikan formal dan lingkungan pendidikan nonformal.

Refrensi Rujukan:
  1. Adiwikarta, S., (1988), Sosiologi Pendidikan: Isyu dan Hipotesis tentang Hubungan Pendidikan dengan Masyarakat, Proyek Pengembangan Lembaga Pendidikan
  2. Tenaga Kependidikan Dirjen Dikti Depdikbud., Jakarta.
  3. Manan, I., (1989), Dasar-Dasar Sosial Budaya Pendidikan, Proyek Pengembangan
  4. Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan Dirjen Dikti Depdikbud., Jakarta.
  5. -----------, (1989), Anthropologi Pendidikan, Proyek Pengembangan Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan Dirjen Dikti Depdikbud., Jakarta.
  6. Muchtar, O., (1991), Dasar-Dasar Kependidikan, Depdikbud, IKIP Bandung.
  7. Nasution, S., (1983), Sosiologi Pendidikan, Jemmars, Bandung.
  8. Sunarto, K., (1993), Pengantar Sosiologi, Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.
  9. Syaripudin, T., (2007), Landasan Pendidikan, Percikan Ilmu, Bandung.
  10. Wuradji, M. S., (1988), Sosiologi Pendidikan, Proyek Pengembangan Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan Dirjen Dikti Depdikbud., Jakarta.
Pendidikan dan Kebudayaan, Pada: 11:14 PM
Copyright © 2014-2015 REFERENSI PENDIDIKAN Powered by Blogger - All Rights Reserved