REFERENSI PENDIDIKAN

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Keberhasilan Penerapan Pembelajaran Tuntas di SD

http://ewintribengkulu.blogspot.com/2013/04/penerapan-pembelajaran-tuntas-di-sd.html

Penerapan pembelajaran tuntas dalam proses pembelajaran dilandasi oleh pandangan bahwa pada dasarnya semua siswa memiliki kesanggupan untuk menguasai bahan pelajaran yang diajarkan secara tuntas dengan syarat-syarat tertentu. Menurut S. Nasution (2000), terdapat lima faktor yang mempengaruhi ketuntasan belajar, yaitu: bakat untuk mempelajari sesuatu, mutu pengajaran, kesanggupan untuk memahami pengajaran, ketekunan, dan waktu yang tersedia untuk belajar. 

1. Bakat untuk mempelajari sesuatu

Faktor bakat diyakini oleh banyak pihak sangat mempengaruhi prestasi belajar seseorang. Namun demikian, seperti telah diuraikan dalam kegiatan belajar 1, bahwa bakat ini pada dasarnya merupakan perbedaan waktu yang diperlukan oleh seorang siswa untuk menguasai suatu bahan pelajaran. Bahkan menurut dugaan S. Nasution (2000) hanya 1% - 5% saja siswa yang memiliki bakat khusus, selebihnya yaitu 95% siswa dapat dibimbing untuk penguasaan penuh atas bahan pelajaran tertentu. Tidak ada bukti bahwa apa yang disebut bakat itu bersifat menetap, artinya masih ada kemungkinan bakat itu mengalami perubahan atas pengaruh lingkungan. Namun demikian, yang diharapkan adalah memperbaiki kondisi belajar sehingga dapat mengurangi waktu belajar untuk mencapai penguasaan penuh terhadap bahan pelajaran tertentu.
2. Mutu pembelajaran

Sistem pembelajaran yang pada umumnya paling banyak diterapkan dalam pendidikan di Indonesia, khususnya di SD yaitu sistem pembelajaran secara klasikal. Sistem ini semakin gencar diberlakukan dengan semakin banyaknya siswa yang membanjiri sekolah sebagai akibat kebijakan pemerataan pendidikan dan wajib belajar. Kurikulum disusun secara seragam (uniform) bagi semua siswa, termasuk juga bahan ajar yang harus dipelajari dan sistem evaluasi hasil belajar yang dinasionalkan dalam bentuk Ujian Nasional (UN). Dengan tuntutan pembelajaran secara klasikal, banyak terjadi dalam proses pembelajaran di mana guru mengajar dengan cara yang sama dan dalam waktu yang sama pula. Dalam hal ini guru menyesuaikan pengajarannya terhadap siswa yang memiliki kemampuan sedang atau rata-rata. Kondisi seperti itu sudah jelas akan  menghambat kemajuan belajar siswa-siswa yang tergolong cepat (upper group) serta mengabaikan siswa-siswa yang tergolong lambat (lower group). Sistem pembelajaran yang melulu bersifat klasikal sebenarnya akan banyak menimbulkan kerugian bagi siswa sebagai individu dalam belajar. Pada hakekatnya siswa itu belajar secara individual, menurut caranya masing-masing sekalipun mereka ada dalam kelompok/kelas. Dengan demikian pembelajaran yang bermutu sebenarnya adalah pembelajaran yang mampu memberikan layanan belajar kepada siswa secara individual. Guru yang bermutu yaitu guru yang dapat membimbing setiap siswa secara individual sampai mereka dapat menguasai bahan pelajaran sepenuhnya.

Dalam konteks pembelajaran tuntas, perlu diusahakan penggunaan metode pembelajaran yang tepat dan sesuai dengan karakteristik masing-masing siswa, begitu pula dengan media pembelajaran dan sarana pendidikan lainnya. Sekalipun menggunakan sistem pembelajaran klasikal tidak berarti perbedaan individual siswa dapat diabaikan, justru sebaliknya jika menggunakan pembelajaran klasikan maka guru harus lebih memperhatikan perbedaanperbedaan individual. Kelemahan yang nampak pada sistem pembelajaran kita pada umumnya yaitu kurangnya usaha guru memberi perhatian terhadap perbedaan dan kebutuhan individual, sehingga mengakibatkan banyaknya siswa yang tidak mencapai ketuntasan dalam belajar.

3. Kesanggupan memahami pelajaran

Kesanggupan siswa dalam memahami pelajaran banyak dipengaruhi oleh beberapa hal, di antaranya oleh kemampuannya dalam melakukan komunikasi secara verbal melalui penggunaan bahasa. Pada umumnya pembelajaran yang terjadi dalam pendidikan kita didominasi penggunaan bahasa verbal untuk menjelaskan berbagai mata pelajaran, masih jarang menggunakan alat atau media pembelajaran. Kondisi seperti itu menuntut siswa memiliki kemampuan verbal yang tinggi agar dapat mengikuti pelajaran dengan baik. Selain itu, guru harus fasih berbahasa dan mampu menyesuaikan bahasanya dengan kemampuan bahasa siswa, sehingga siswa dapat menerima dan memahami bahan pelajaran yang disampaikan guru. Untuk membantu meningkatkan kemampuan memahami pelajaran diperlukan adanya komunikasi yang baik antara guru-siswa, dan siswa-siswa. Tanpa komunikasi yang baik, pembelajaran tidak akan berjalan dengan efektif.

4. Ketekunan

Ketekunan dalam belajar berkaitan dengan sikap dan minat siswa terhadap mata pelajaran. Indikasi dari ketekunan belajar ini bisa diwujudkan dari jumlah waktu yang disediakan siswa untuk belajar. Jika siswa menyediakan waktu yang kurang dari yang diperlukan, maka siswa tidak akan mencapai taraf ketuntasan belajar yang baik. Untuk memupuk ketekunan belajar diperlukan upaya guru dalam meningkatkan proses pembelajaran yang bermutu. Bahan pelajaran yang sulit disajikan dalam bentuk yang mudah dipahami dan dicerna oleh siswa, termasuk siswa yang tergolong kurang/lemah dalam belajar. Bahan pelajaran dapat dipecah-pecah menjadi langkah-langkah tertentu yang dapat dilalui oleh setiap siswa dengan hasil yang baik. Keberhasilan demi keberhasilan dalam melaksanakan tugas-tugas belajar akan menambah semangat dan ketekunan belajar. Makin sering siswa memperoleh kepuasan atas kemampuannya menguasai bahan pelajaran, maka akan semakin bertambah pula ketekunannya.

5. Waktu yang tersedia

Faktor waktu banyak menentukan hasil belajar yang diperoleh siswa. Dengan memberikan waktu secukupnya setiap siswa akan bisa mencapai ketuntasan dalam belajar. Apabila waktu belajar sama diberlakukan bagi semua siswa, maka tingkat penguasaan ditentukan oleh bakat siswa, dalam arti siswa yang berbakat akan lebih cepat menangkap isi pelajaran, dibandingkan dengansiswa yang kurang memiliki bakat. Siswa yang kurang berbakat jika diberi waktu yang cukup akan dapat menguasai bahan pelajaran dengan baik.

Dalam sistem pendidikan kita, guru sering mengalami kesulitan dalam membantu mencapai ketuntasan belajar bagi para siswanya. Isi kurikulum harus diselesaikan dalam jangka waktu yang sudah ditetapkan (sistem semesteran). Bahan pelajaran yang sama harus dikuasai oleh semua siswa dalam jangka waktu yang sama. Kondisi seperti itu kurang menguntungkan dalam penerapan konsep pembelajaran tuntas di SD.

Refrensi Rujukan :
  1. Anderson L.W.; Block J.H. (1987). Mastery Learning Models. in Michael J. Dunkin (Ed). The International Encyclopedia of Teaching and Teacher Education, Oxford: Pergamon Press.
  2. Bloom, B.S. (1976). Human Characteristics and Social Learning. New York. McGraw- Hill.
  3. Brown, B.W and Daniel H. (1980). Saks Production Technologies and Resource Alloccation Within Classrooms and Schools: Theory and Measurement dalam The Analysis of Educational Productivity, Vol I: Issues In Microanalysis, diedit oleh Robert Dreeben and J. Alan Thomas; Cambridge, Mass: Bafiinger Publishing Company.
  4. Guskey T.R. (1985). Implementing Mastery Learning, California: Wadsworth, Inc.
  5. Julia Peterson. (2002). Introduction to Education. http://www.dana.edu/edu/ portfolio/Peterson_Julia/ PhilosophyofEducation.doc.
  6. Mukminan. (2003). Pembelajaran Tuntas (Mastery Learning). Departemen Pendidikan Nasional, Ditjen Dikdasmen, Direktoral PLP, Jakarta.
  7. Perry. (tanpa tahun). Mastery Learning. Where Curriculum, Assessment, and Instruction Meet. http:// www.perry-lake.k12.oh.us/ pplc/Mastery%20 Learning%20Packet.doc -
Copyright © 2014-2015 REFERENSI PENDIDIKAN Powered by Blogger - All Rights Reserved