Bimbingan Belajar dalam Bimbingan Konseling

a. Pengertian Bimbingan

Shertzer dan Stone (Yusuf, 2009:6) mengartikan bimbingan sebagai proses bantuan kepada siswa agar mampu memahami diri dan lingkungannya”. Kartadinata (Yusuf, 2009:6) mengartikan sebagai “proses membantu siswa untuk mencapai perkembangan optimal”. Lebih lanjut Natawidjaja (Yusuf, 2009:6) mengartikan bimbingan sebagai

Suatu proses pemberian bantuan kepada siswa yang dilakukan secara berkesinambungan, supaya siswa tersebut dapat memahami dirinya, sehingga dia sanggup mengarahkan dirinya dan dapat bertindak secara wajar, sesuai dengan tuntutan dan keadaan lingkungan sekolah, keluarga, masyarakat, dan kehidupan pada umumnya. Dengan demikian siswa akan dapat menikmati kebahagian hidupnya, dan dapat member sumbangan yang berarti kepada kehidupan masyarakat pada umumnya. Bimbingan membantu siswa mencapai perkembangan diri secara optimal sebagai makhluk sosial.

b. Pengertian Bimbingan Belajar

Yusuf (2009:37) mengungkapkan bimbingan belajar adalah bimbingan yang diarahkan untuk membantu siswa dalam mengembangkan pemahaman dan keterampilan dalam belajar dan memecahkan masalah-masalah belajar. Bimbingan belajar dilakukan dengan cara mengembangkan suasana belajar mengajar yang kondusif agar siswa mampu menyesuaikan diri terhadap tuntutan pendidikan. Dalam bimbingan belajar, para pembimbing berupaya memfasilitasi siswa dalam mencapai tujuan belajar yang diharapkan. Sejalan dengan pengertian

Yusuf, Nurikhsan (2006:10) mengartikan bimbingan belajar sebagai bimbinganyang diarahkan untuk membantu siswa dalam memecahkan masalah belajar.

c. Permasalahan dalam Bimbingan Belajar

Syaodih (2004:240) mengemukakan “masalah belajar merupakan inti dari masalah pendidikan, karna belajar merupakan kegiatan utama dalam pendidikan dan pengajaran”. Perkembangan belajar siswa tidak selalu berjalan lancar, karena adakalanya siswa menghadapi berbagai kesulitan dalam belajar.

Prayitno dan Amti (2004:280) mengemukakan masalah belajar adalah “…bersikap dan kebiasaan buruk dalam belajar, seperti suka menunda-nunda tugas, mengulur-ulur waktu, membenci guru, tidak mau bertanya untuk hal-hal yang tidak diketahuinya, dan sebagainya”.

Menurut Burton (Syamsudin, 2003:307) “seorang siswa dapat dipandang atau diduga mengalami kesulitan belajar apabila siswa yang bersangkutan menunjukkan kegagalan (failure) dalam mencapai tujuan-tujuan belajarnya”.

Siswa diakatakan gagal apabila tidak dapat mencapai prestasi. Masalah belajar yang dipaparkan, terutama yang berkaitan dengan rendahnya motivasi belajar perlu memperoleh perhatian khusus dari semua sub system sekolah. Bimbingan dan konseling sebagai sub system sekolah merupakan salah satu unsur penting bagi pencapaian tujuan pendidikan.

Layanan Bimbingan yang dirasakan tepat untuk membantu siswa yang memiliki motivasi belajar rendah ialah bimbingan belajar. Yusuf (2009:37) mengungkapkan “bimbingan belajar adalah bimbingan yang diarahkan untuk membantu siswa dalam mengembangkan pemahaman dan keterampilan dalam belajar dan memecahkan masalah-masalah belajar”. Bimbingan belajar dilakukan dengan cara mengembangkan suasana belajar mengajar yang kondusif agar siswa mampu menyesuaikan diri terhadap tuntutan pendidikan. Pada bimbingan belajar, para pembimbing berupaya memfasilitasi siswa dalam mencapai tujuan belajar yang diharapkan. Sejalan dengan pengertian Yusuf, Nurihsan (2006:10) mengartikan bimbingan belajar sebagai bimbingan yang diarahkan untuk membantu siswa dalam memecahkan masalah belajar.

Yusuf (2009:52) mengungkapkan lima tujuan dari bimbingan belajar, yaitu :
  1. Memiliki sikap dan kebiasaan belajar yang positif, seperti kebiasaan membaca buku, disiplin dalam belajar, mempunyai perhatian terhadap semua pelajaran, dan aktif mengikuti semua kegiatan belajar yang diprogramkan.
  2. Memiliki motif yang tinggi untuk belajar sepanjang hayat.
  3. Memiliki keterampilan atau teknik belajar yang efektif, seperti keterampilan membaca buku, menggunakan kamus, dan mencatat pelajaran.
  4. Memiliki ketarampilan untuk menetapkan tujuan dan perencanaan pendidikan, seperti membuat jadwal belajar, mengerjakan tugas-tugas, mmantapkan diri dalam memperdalam pelajaran tertentu, dan berusaha memperoleh informasi (melalui media cetak atau elektronik/internet) tentang berbagai hal dalam rangka mengembangkan wawasan yang lebih luas.
  5. Memiliki kesiapan mental dan kemampuan untuk menghadapi ujian.

Refrensi Rujukan :
  1. Yusuf, Syamsu. (2009). Program Bimbingan dan Konseling di sekolah. Bandung : Rizqi Press
  2. Yusuf, Syamsu dan Nurikhsan, Juntika. (2006). Landasan Bimbingan dan Konseling. Bandung : PT Remaja Rosdakarya
  3. Prayitno dan Amti, E. (2004). Dasar-dasar Bimbingan dan Konseling. Jakarta : Rineka Cipta
  4. Syamsudin, Makmun Abin. (2003). Psikologi Pendidikan. Bandung : PT Remaja Rosda Karya