REFERENSI PENDIDIKAN

Pengertian Kenakalan Remaja

http://ewintribengkulu.blogspot.com/2013/04/pengertian-kenakalan-remaja.html

Kebanyakan orang dewasa masih menganggap remaja awal atau puber sebagai anak-anak. Kenyataannya demikian, bahwa remaja berada di masa pubertas yakni suatu masa transisi dari masa anak-anak ke masa dewasa. Remaja belum sanggup berperan sebagai orang dewasa, tetapi enggan jika disebut bahwa dia masih anak-anak. Karena orang dewasa enggan memberikan peranan dan tanggung jawab kepada mereka, maka hal itu dirasakan oleh remaja sebagai kurangnya penghargaan. Perasaan kurang dihargai itu muncul dalam kelainan-kelainan tingkah laku remaja seperti kebut-kebutan di jalan raya, mengisap ganja, berkelakuan melanggar susila, berkelahi dan sebagainya, kelakuan-kelakuan yang mana disebut sebagai kenakalan remaja.

Kenakalan remaja (juvenile delinquency) mengacu kepada suatu rentang perilaku yang luas, mulai dari perilaku yang tidak dapat diterima secara sosial (seperti bertindak berlebihan di sekolah), pelanggaran (seperti melarikan diri dari rumah) hingga tindakan-tindakan kriminal (seperti mencuri) (Santrock, 2002:22). Kenakalan remaja biasa disebut dengan istilah Juvenile berasal dari bahasa Latin juvenilis, yang artinya anak-anak, anak muda, ciri karakteristik pada masa muda, sifat-sifat khas pada periode remaja, sedangkan delinquent berasal dari bahasa latin “delinquere” yang berarti terabaikan, mengabaikan, yang kemudian diperluas artinya menjadi jahat, nakal, anti sosial, kriminal, pelanggar aturan, pembuat ribut, pengacau peneror, durjana dan lain sebagainya. Juvenile delinquency atau kenakalan remaja adalah perilaku jahat atau kenakalan anakanak muda, merupakan gejala sakit (patologis) secara sosial pada anak-anak dan remaja yang disebabkan oleh satu bentuk pengabaian sosial, sehingga mereka mengembangkan bentuk perilaku yang menyimpang. Istilah kenakalan remaja mengacu pada suatu rentang yang luas, dari tingkah laku yang tidak dapat diterima sosial sampai pelanggaran status hingga tindak kriminal (Kartono, 1992:7).

Sarwono (2002) mengungkapkan kenakalan remaja sebagai tingkah laku yang menyimpang dari norma-norma hukum pidana.

Cavan (Willis, 2008:88) didalam bukunya yang berjudul Juvenile Delinquency menyebutkan bahwa,’Jevenile delinquency to the failure of children and youth to meet certain obligation expected of them by the society in which they live’. Kegagalan anak dan remaja itu disebabkan kegagalan mereka dalam memperoleh penghargaan dari masyarakat tempat mereka tinggal.

Bakolak Inpres (Badan Koordinasi Lapangan Instruksi Presiden) No. 6/1971 Pedoman 8 (Willis, 2008:89), tentang Pola Penanggulangan Kenakalan Remaja. Di dalam Pedoman itu diungkapkan mengenai pengertian kenakalan remaja sebagai berikut: „Kenakalan remaja ialah kelainan tingkah laku, perbuatan atau tindakan remaja yang bersifat asosial bahkan anti sosial yang melanggar norma-norma sosial, agama serta ketentuan hukum yang berlaku dalam masyarakat‟.

Secara sosiologis menurut Dr. Fuad Hassan (Willis, 2008:89) kenakalan remaja itu ialah „… kelakuan atau perbuatan anti sosial dan anti normatif‟.

Sedangkan menurut Dr. Kusumanto (Willis, 2008:89): „Juvenile delinquency atau kenakalan anak dan remaja ialah tingkah laku individu yang bertentangan dengan syarat-syarat dan pendapat umum yang dianggap sebagai acceptable dan baik oleh suatu lingkungan atau hukum yang berlaku di suatu masyarakat yang berkebudayaan‟.

Dari pendapat-pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa kecenderungan kenakalan remaja adalah kecenderungan remaja untuk melakukan tindakan yang melanggar aturan yang dapat mengakibatkan kerugian dan kerusakan baik terhadap dirinya sendiri maupun orang lain yang dilakukan remaja di bawah umur 17 tahun.

Refrensi Rujukan :
  1. Kartini, Kartono. (1992). Patologi Sosial II: Kenakalan Remaja. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
  2. Santoso, Topo dan Eva Achajani. (2003). Kriminologi. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.
  3. Santrock, John W. (1995). Life-Span Development. Alih Bahasa (2002). Juda Damanik dan Achmad Chusairi. Perkembangan Masa Hidup Edisi Lima Jilid II. Jakarta: Erlangga.
  4. Santrock, John W. (1996). Adolescence. Alih Bahasa (2003). Shinto B.Adelar dan Sherly Saragih. Perkembangan Remaja. Jakarta: Erlangga.
Copyright © 2014-2015 REFERENSI PENDIDIKAN Powered by Blogger - All Rights Reserved