Pengertian Kesulitan Belajar

Individu sebagai peserta didik dari suatu lembaga pendidikan diharapkan mampu mencapai tujuan-tujuan pendidikan yang telah ditetapkan oleh lembaga penyelenggara pendidikan. Misalnya saja mencapai perkembangan yang optimal dalam segi nilai, pengetahuan atau pemahaman serta skill. Sehingga jika peserta didik dapat mencapai target tersebut maka lembaga pendidikan itu dianggap telah berhasil dalam penyelenggaraan pendidikannya. Namun pada kenyataannya banyak ditemukan adanya hambatan-hambatan dalam mencapai tujuan tersebut.

Hope (Suliasih, 2004: 11) mengungkapkan bahwa proses belajar pada setiap peserta didik dihadapkan pada berbagai permasalahan, baik yang berhubungan dengan masalah akademik, penyesuaian diri dengan hidup, dan penyeseuaian terhadap pekerjaan, yang dapat menghambat proses belajar seseorang. M. Surya (1979: 92) menyatakan bahwa kesulitan belajar peserta didik adalah suatu kondisi yang ditandai oleh adanya hambatan-hambatan tertentu dalam rangka mencapai hasil belajar, sehingga prestasi belajarnya tidak sesuai dengan potensi yang dimilikinya.

Dalam proses belajar mengajar, guru sering dihadapkan pada suatu kenyataan bahwa tidak semua siswa yang memperoleh pelajaran darinya mendapatkan hasil belajar yang sama pula hal ini disebabkan oleh adanya perbedaan dari siswa itu sendiri. Ada siswa yang cepat dalam belajarnya, ada yang biasa-biasa saja bahkan ada pula yang lambat dalam belajarnya. Tidak jarang pula guru akan menemukan sebagian siswa yang dianggap mengalami kesulitan belajar.

Menurut Harnadi Dj. (1984: 6) kesulitan belajar dapat dipandang sebagai hambatan atau gangguan terhadap kelancaran proses belajar. Lebih lanjut lagi dikatakan bahwa siswa yang dianggap mengalami kesulitan belajar adalah siswa yang tidak dapat mengikuti pelajarannya dengan lancar atau gagal dalam mencapai tujuan-tujuan belajarnya. Adapun kesulitan belajar menurut Abu Ahmadi dan Widodo Supriyono (1991: 74) adalah dalam keadaan dimana anak didik tidak dapat belajar sebagaimana mestinya.

Sementara itu dalam program Akta Mengajar V (Kusno Effendi, 1987: 38) dikatakan bahwa: Kesulitan belajar dapat diartikan sebagai suatu kondisi dalam proses belajar yang ditandai oleh adanya hambatan-hambatan tertentu untuk mencapai hasil belajar. Hambatan-hambatan itu mungkin disadari dan mungkin juga tidak disadari oleh orang yang mengalaminya, dapat bersifat psikologis, sosiologis ataupun fisiologis dalam proses keseluruhan belajarnya.

Menurut Burton (Abin Syamsudin, 2000: 3) bahwa seorang siswa dapat dipandang atau diduga mengalami kesulitan belajar kalau yang bersangkutan menunjukkan kegagalan (failure) tertentu dalam mencapai tujuan-tujuan belajarnya. Kegagalan belajar itu sendiri didefinisikan antara lain bahwa siswa yang dikatakan gagal adalah:
  1. Apabila dalam batas waktu tertentu yang bersangkutan tidak mencapai ukuran tingkat keberhasilan atau tingkat penguasaan (level mastery) minimal dalam pelajaran tertentu, seperti yang telah ditetapkan oleh guru (criterion referenced). Siswa semacam ini dapat digolongkan ke dalam lower group.
  2. Apabila yang bersangkutan tidak dapat mengerjakan atau mencapai prestasi yang semestinya (berdasarkan ukuran tingkat kemampuannya), intelegensi, bakat. Siswa semacam ini dapat digolongkan ke dalam underachivers.
  3. Kalau yang bersangkutan tidak dapat mewujudkan tugas-tugas perkembangan, termasuk penyeseuaian sosial, sesuai dengan pola organismiknya (his organismic pattern) pada fase perkembangan tertentu seperti yang berlaku bagi kelompok dan usia yang bersangkutan dapat dikategorikan ke dalam slow learners.
  4. Kalau yang bersangkutan tidak berhasil mencapai tingkat penguasaan (level of mastery) yang diperlukan sebagai prasyarat bagi kelanjutan pada tingkat pelajaran berikutnya. Kasus ini dapat digolongkan ke dalam slow learners atau belum matang sehingga mungkin harus menjadi pengulang.
Abin syamsudin mengungkapkan bahwa siswa yang diduga mengalami kesulitan belajar yaitu kalau yang bersangkutan tidak berhasil mencapai taraf kualifikasi hasil belajar tertentu (berdasarkan ukuran kriteria keberhasilan seperti yang dinyatakan dalam tujuan instruksional khusus dan atau ukuran tingkat kapasitas atau kemampuan dalam program pelajaran time allowed dan atau tingkat perkembangannya).

Dari beberapa pengertian diatas dapat diambil suatu kesimpulan bahwa siswa yang dikatakan mengalami kesulitan belajar adalah siswa yang mendapat hambatan dalam belajar dan kesulitan menyesuaikan perilaku sesuai tuntutan dalam proses belajar sehingga tidak dapat mencapai tujuan belajar yang diharapkan.

Refrensi Rujukan :
  1. Yusuf, Syamsu. (2006). Psikologi Pendidikan Anak dan Remaja. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya
  2. Slameto (2003) Belajar dan Faktor-faktor yang Memepengaruhinya. Jakarta:Penerbit Rineka Cipta
  3. Rudianan, D. (2006) Karakteristik Kesulitan Belajar Siswa SMA (Studi TerhadapSiswa SMA Pasundan 3 Bandung Kelas X, XI dan XII). Bandung: Jurusan PPB FIP UPI. Tidak Diterbitkan
  4. Abdurrahman, M. (2003) Pendidikan Bagi Anak Berkesulitan Belajar. Jakarta:Penerbit Rineka Cipta
  5. Ahmaadi, A dan Supriyono, W (2004) Psikologi Belajar. Edisi Revisi. Jakarta: Penerbit Rineka Cipta