Pengertian Sistem Kompensasi

Sistem adalah hubungan antara unit yang satu dengan unit yang lainnya yang saling berhubungan satu dengan yang lainnya dan tidak dapat dipisahkan serta menuju suatu kesatuan dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya. Misalnya apabila satu unit didalam suatu perusahaan mengalami gangguan, maka unit yang lainnya pun akan terganggu dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

Menurut Suwatno dan Donni Kuni Priansa (2011:224) Sistem kompensasi ialah suatu sistem yang terdiri dari komponen-komponen kompensasi dari mulai penentuan besaran kompensasi dan cara pemberiannya. Ada beberapa sistem pokok untuk memperhitungkan besarnya imbalan atau balas jasa kepada pegawai. Secara umum sistem kompensasi yang dilaksanakan menurut Malayu S.P. Hasibuan (2001: 124) terdiri dari: 1) Sistem waktu, 2) Sistem hasil, dan 3) Sistem borongan. Setiap sistem mendasarkan pada hal-hal tertentu dengan tujuan dapat mempengaruhi pegawai untuk meningkatkan kinerjanya. Lebih jelasnya berkaitan dengan sistem kompensasi dijelaskan sebagai berikut :
  1. Sistem waktu, Pemberian kompensasi berdasarkan sistem waktu yaitu besarnya kompensasi (gaji, upah) ditetapkan berdasarkan standar waktu seperti jam, minggu, atau bulan. Besarnya sistem waktu hanya didasarkan kepada lamanya bekerja. Kelebihan dari sistem ini adalah bahwa pegawai yang malas pun akan tetap mendapatkan kompensasi sesuai perjanjian.
  2. Sistem hasil (output), Sistem hasil adalah sistem kompensasi dimana besarnya kompensasi didasarkan kepada banyaknya hasil yang dikerjakan bukan lamanya waktu mengerjakannya. Semakin banyak barang atau produk yang dihasilkan maka semakin besar pula kompensasi yang akan diterimanya. Kelebihan sistem hasil adalah memberikan kesempatan kepada pegawai yang memaksimalkan kinerjanya untuk memperoleh kompensasi yang lebih besar. Sedangkan kelemahan dari sistem hasil adalah kualitas produk yang dihasilkan kurang baik karena pegawai cenderung untuk mencapai hasil yang lebih banyak sehingga kualitas produk kurang diperhatikan.
  3. Sistem borongan, Dalam sistem borongan besarnya kompensasi didasarkan pada volume pekerjaan dan lam mengerjakannya. Penetapan besarnya kompensasi berdasarkan sistem borongan cukup rumit karena membutuhkan waktu yang cukup lama untuk mengerjakannya, serta banyak alat yang diperlukan untuk menyelesaikannya.
Namun dalam prakteknya sistem kompensasi tersebut tidak semua digunakan secara bersamaan. Setiap organisasi akan menggunakan sistem kompensasi yang dinilai sesuai dengan karakteristik serta kondisi organisasi yang bersangkutan. Dalam kasus Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat peneliti menduga sistem yang digunakan adalah sistem waktu dan hasil.

Menurut Handoko, T. Hani (2001: 156) “Kompensasi merupakan egala sesuatu yang diterima dapat berupa fisik maupun non fisik dan harus dihitung dan diberikan kepada seseorang yang umumnya merupakan obyek yang dikecualikan dari pajak pendapatan”. Sistem kompensasi yang baik akan mampu memberikan kepuasan bagi karyawan dan memungkinkan perusahaan memperoleh, memperkerjakan, dan mempertahankan karyawan.

Bagi organisasi/ perusahaan, kompensasi memiliki arti penting karena kompensasi mencerminkan upaya organisasi dalam mempertahankan dan meningkatkan kesejahteraan karyawannya. Pengalaman menunjukan bahwa kompensasi yang tidak memadai dapat menurunkan prestasi kerja, motivasi kerja dan kepuasan kerja karyawan, bahkan dapat menyebabkan karyawan potensial keluar dari perusahaan.

Berdasarkan definisi kompensasi yang telah disebutkan di atas, maka penulis dapat menyimpulkan bahwa yang dimaksud dengan kompensasi adalah balas jasa yang diberikan oleh suatu lembaga terhadap para pegawainya baik berupa uang, barang atau penghargaan lainnya atas jasa yang telah mereka berikan terhadap lembaga dalam upaya mencapai tujuan lembaga. 

Refrensi Rujukan :
  1. Alma, Buchari. 2001. Pengantar Bisnis. Bandung : Alfabeta
  2. Budiawan, Herdi, Angga. 2011. Kontribusi Pemberian Kompensasi Terhadap Efektivitas Kerja Pegawai di LPMP Jawa Barat. Skripsi Sarjana pada FIP UPI Bandung : tidak diterbitkan
  3. Gibson. et al. 1996. Organisasi : Perilaku, Struktur, Proses. Jakarta : Binapura Aksara
  4. Handoko. Hani T. 2001. Manajemen Personalia dan Manajemen SDM. Yogyakarta : BPFE
  5. Hasibuan, Malayu S.P. 2001. Manajemen Sumber Daya Manusia. Jakarta : Bumi Aksara Komarudin. 1994. Ensiklopedia Manajemen. Jakarta : Bumi Aksara
  6. Moekijat. 1999. Manajemen Sumber Daya Manusia (Manajemen Kepegawaian). Bandung : Mandar Maju
  7. Mustari, Lomri. 2000. Pengaruh Kompensasi Terhadap Produktivitas Kerja Guru. Tesis PPS UPI Bandung : Tidak diterbitkan
  8. Nawawi, Handari. 1997. Manajemen Sumber Daya Manusia Untuk Bisnis Yang Kompetitif. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press
  9. Prabu Mangkunegara, A.A. Anwar. 2010. Evaluasi Kinerja SDM. Bandung : PT. Refika Aditama
  10. Pora, de, Antonio. 2011. Remunerasi : Kompensasi dan Benefit. Tanggerang : Parninta Offset
  11. Suwatno dan Donni Juni Priansa. 2011. Manajemen SDM dalam Organisasi Publik dan Bisnis, Bandung: Alfabeta
  12. Warsidi. 2004. Pengaruh Kompensasi dan Kepuasan Kerja Terhadap Kinerja Guru. Tesis PPS UPI Bandung : Tidak diterbitkan