Sistem Keruangan sebagai pendekatan dalam ilmu geografi


Tempat dan ruang dalam ilmu geografi merupakan objek studi yang utama. Pada gilirannya karena sistem keruangan merupakan yang terintegrasi dan mampu menyelesaikan masalah yang terjadi dalam ruang maka keruangan dianggap sebagai suatu pendekatan dalam ilmu geografi.

Menurut R. Bintarto, analisa keruangan mempelajari perbedaan lokasi mengenai sifat-sifat penting. Ahli geografi akan bertanya faktor-faktor apakah yang menguasai pola penyebaran dan bagaimanakah pola tersebut dapat diubah agar penyebarannya menjadi lebih efisien dan lebih wajar. Dengan kata lain dapat diutarakan bahwa dalam analisa keruangan yang harus memperhatikan penyebaran penggunaan ruang yang telah ada dan kedua, penyediaan ruang yang akan digunakan untuk berbagai kegunaan yang dirancangkan.

Dalam analisa keruangan ini dapat dikumpulkan data lokasi yang terdiri dari data titik (point data) dan data bidang (areal data). Yang digolongkan ke dalam data titik adalah data ketinggian tempat, data sampel batuan, data sampel tanah dan sebagainya. Yang digolongkan ke dalam data bidang misalnya luas hutan, luas daerah perkebunan, data luas pertanian padi, dan lain-lain. Meskipun demikian dari data titik dapat pula diperoleh data bidang. Data dan beberapa sampel tanah dapat dipetakan dan ditentukan batas-batasnya hingga diperoleh data bidang yaitu data tentang penyebaran jenis tanah tertentu.

Beberapa data titik dapat dijadikan data bidang seperti data sampel tanah dan bcberapa titik sampel dapat dijadikan data bidang, data curah hujan dari sejumlah stasiun hujan dapat pula dijadikan data bidang. Dalam hal pcrancangan pemukiman transmigrasi misalnya perlu diperhatikan antara lain adalah persyaratan minimum tingkat kesuburan tanah dan kemiringan daerah maksimum 8%. Kedua sifat penting ini diperoleh dan data bidang yang semula diperoleh dari data titik.

Dengan mengetahui penyebaran daerah persyaratan minimum tingkat kesuburan tanah dan daerah dengan kemiringan maksimuin 8% dapat dirancangkan untuk kepentingan pemukiman transmigrasi. Rancangan wilayah ini berarti akan mengubah pola wilayah itu secara keseluruhan untuk tujuan merancang pemukiman transmigrasi dengan maksud agar pola itu menjadi lebih efisien, yaitu dengan merancangkan daerah pemukiman, daerah tanah pertanian, daerah pusat pemerintahan, daerah kuburan, janing-jaring jalan, daerah yang harus tetap tertutup hutan, daerah cadangan dan lain sebagainya.

Dalam mempelajari ruang dan persebaran fenomena geografi, pemahaman kita yang paling penting adalah teori difusi. lstilah difusi telah banyak dibicarakan dalam fisika, biologi, sosiologi, ekologi dan sebagainya. Dalam istilah sehari-hari difusi berarti pemencaran, penyebaran, atau penjalaran, seperti penyebaran berita dan mulut ke mulut, penjalaran penyakit dan suatu daerah ke daerah lain, penyebaran kebudayaan dan suatu suku ke suku yang lain.

Sebagai contoh, pernah ada proses penyebaran penyakit El Tor tahun 1905, ternyata ditemukan pertama-tama dalam tubuh enam orang muslim di sebuah tempat karantina di luar kota Mekah (nama El br berasal dari nama tempat karantina). Dalam tahun 1930 penyakit kolera El Tor diketahui terdapat di Sulawesi sebagai endemi. Selama 30 tahun berikutnya tidak ada lagi berita tentang El Tor inimi, tetapi kemudian dalam tahun 1961 terjadi penyebaran El Tor di daerah-daerah di luar Sulawesi dengan cepat. Pada tahun 1964 penyakit mi telah sampai di India dan pada permulaan tahun 1970-an mengarah ke selatan, yaitu Afrika Tengah, ke barat yaitu ke Rusia dan Eropa. Perhatikan gambar berikut (Bintarto, 1987).


Dalam geografi, difusi mempunyai dua arti yang berbeda. Pertama, difusi ekspansi (expansion diffusion) yaitu suatu proses di mana material atau informasi menjalar melaiui suatu populasi ke populasi lain dan dari suatu daerah ke daerah yang lain. Dalam proses ekspansi ini informasi atau material yang didifusikan tetap dan kadang-kadang menjadi lebih intensif di tempat asalnya tetap ada dan kadang-kadang lebih intensif.

Kedua, difusi penampungan (relocation diffusion). Jenis difusi ini merupakan proses yang sama dengan penyebaran keruangan di mana informasi atau material yang didifusikan meninggalkan daerah yang lama dan berpindah atau ditampung di daerah yang baru. Ini berarti bahwa anggota dari populasi pada waktu itu berpindah letaknya dari waktu wi hingga waktu w2. Perpindahan penduduk dari suatu tempat ke tempat lain dengan meninggalkan tempat yang lama dan (ditampung oleh tempat yang baru oleh karena bencana gunung berapi dapat digolongkan ke dalam difusi penampungan (Bintarto, 1987)


Gambar di atas menunjukkan dua proses difusi yaitu proses ekspansi dan proses penampungan dan bagaimana kedua proses tersebut saling bergabung. Penjangkitan El Tor seperti telah dijelaskan di muka merupakan salah satu contoh dan gabungan antara proses ekspansi dan proses penampungan.

Difusi ekspansi masih dapat dibedakan menjadi dua jenis yaitu: 1. difusi menjalar (contagious diffusion) di mana proses menjalarnya terjadi dengan kontak yang langsung antar manusia atau antar daerah, misalnya menjalarnya penyakit melalui kontak antar manusia. Proses mi sangat tergantung kepada jarak oleh karena semakin dekat jarak antar manusia atau antar daerali berarti semakin mudah kontak terjadi. Oleh karena itu difusi menjalar mempunyai kecenderungan untuk menjalar secara sentrifugal dan daerah sumbernya.


Difusi yang lain adalah difusi kaskade yaitu proses penjalaran atau penyebaran fenomena melalui beberapa tingkat atau hirarki. Proses ini adalah proses yang terjadi pada difusi pembaharuan (diffusion of innovations) misalnya proses pembaharuan yang dimulai dan kota besar hingga ke pelosok. Difusi kaskade selalu dimulai dari tingkat atas dan kemudian menjalar ke tingkat bawah, misalnya penjalaran atau penyebaran penggunaan komputer yang dimulai dari kota besar kemudian menjalar ke tepi kota dan akhirnya sampai ke desa. Apabila proses penjalaran tersebut dimulai dari tingkat bawah maka difusi tersebut dinamakan difusi hirarki (hierarchic diffusion).

Banyak ahli geografi tertarik pada studi difusi yang bersumber kepada karya ahli geografi Sweden Torsten Hagerstrand dan kawan-kawannya dari Universitas Lund. Karya Hägerstrand berjudul Spatial Diffusion as an Innovation Process, diterbitkan di tahun 1953 di Sweden. Karya ini membincangkan tentang penjalaran atau penyebaran beberapa movasi pertanian seperti cara pengawasan tuberculose yang terdapat pada sejenis sapi di suatu daerah di Sweden Tengah.

Pada analisa Hagerstrand tentang difusi keruangan terdapat enam unsur, yaitu:
  1. daerah (area) atau lingkungan di mana proses difusi terjadi.
  2. waktu (time), di mana difusi dapat terjadi terus-menerus atau dalam waktu yang terpisah-pisah. Hagerstrand menggolong-golongkan waktu dalam periode-peniode tertentu seperti hari atau tahun, di mana nol menunjukkan titik awal dan suatu difusi sedangkan wi, w2, w3 dan sebagainya menunjukkan periode yang berurutan.
  3. item yang di-difusi-kan. Item tersebut dapat berbentuk material seperti penduduk, pesawat televisi, pesawat radio, pupuk dan dapat pula berbentuk non-material seperti tingkahlaku, penyakit, pesan dan lain sebagainya. Item-item tersebut berbeda-beda dalam derajad untuk dapat dipindahkan, untuk dapat diteruskan atau untuk dapat diterima. Misalnya penyakit cacar air mudah dipindahkan atau mudah menular kepada orang lain. Sebaliknya teknik keluarga berencana sukar untuk diteruskan dan sukar juga untuk dapat diterima. Untuk melaksanakan proses difusi tentang item teknik keluarga berencana banyak memakan biaya antara lain biaya untuk penyuluhan. Selain dan itu sikap penduduk tentang gagasan mi merupakan salah satu hambatan
  4. tempat asal
  5. tempat tujuan
  6. jalur perpindahan yang dilalui oleh item yang didifusikan
Refrensi Rujukan:
  1. Bintarto, R dan Hadisumarno, S. 1987. Metode Analisa Geografi. LP3ES. Jakarta.
  2. Bintarto. 1989. Interaksi Desa-Kota dan Permasalahannya. Ghalia Indonesia. Jakarta. Daldjoeni. N. 1992. Geografi Baru. Alumni. Bandung Marbun, M.A. 1982. Kamus Geografi. Ghalia Indonesia. Jakarta.
  3. Martopo, S. 1988. Pendidikan Geografi di dalam Konsorsium Sains dan Matematika. Lembar Ilmu Pengetahuan. IKIP Semarang.
  4. Sumaatmadja, N. 1981. Studi Geografi Suatu Pendekatan dan Analisa Keruangan. Penerbit Alumni. Bandung.