REFERENSI PENDIDIKAN

Teori Belajar Kognitif dalam Pembelajaran

http://ewintribengkulu.blogspot.com/2013/04/teori-belajar-kognitif-dalam-pembelajaran.html

A. Konsep Teori Belajar Kognitif

Tentunya Anda sudah sangat mengenal dengan teori belajar kognitif ini, karena dalam proses pembelajaran pendekatan yang kita lakukan selallu berorientasi pada pemahaman kognitif. Agar pemahaman lebih mendalam lagi pada kegiatan belajar ini kita akan memperdalam tentang pendekatan Psikologi Kognitif.

Menurut teori kognitif menerangkan bahwa pembelajaran adalah perubahan dalam pengetahuan yang disimpan di dalam memori. Teori kognitivisme bertujuan untuk menambah pengetahuan ke dalam ingatan jangka panjang atau perubahan pada skema atau struktur pengetahuan. Menurut psikologi kognitif bahwa individu itu aktif (secara mental), Konstruktif dan berencana, tidak bersifat pasif menerima stimulus dari lingkungan. Mencari dan menemukan pengetahuan serta menggunakannya, metode pembelajaran yang biasa digunakan untuk mengembangkan kemampuan kognitif ini misalnya metode pemecahan masalah, penelitian, pengamatan, diskusi, deduktif, induktif.
Berikut ini akan dijelaskan lebih detil tentang teori perkembangan kognitif dari Piaget, teori Gestalt dari Kohler dan teori Kognitif dari Gagne yang banyak memberikan pengaruh besar dalam perkembangan peserta didik khususnya pada lingkup dunia pendidikan.

1. Teori Perkembangan Kognitif Piaget.

Pada saat proses pembelajaran, guru seringkali dihadapkan pada berbagai dinamika yang berkaitan dengan perkembangan peserta didik. Perubahan dan perkembangan tersebut harus mendapat perhatian dari guru, karena berdasarkan perkembangan dan perubahan tersebutlah guru dapat menentukan dan memilih strategi pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik peserta didik yang terlibat dalam proses pembelajaran.

Secara umum Piaget mengemukakan bahwa semua anak berkembang melalui urutan yang sama, meskipun jenis dan tingkat pengalaman mereka berbeda satu sama lainnya. Perkembangan mental anak terjadi secara bertahap dari tahap yang paling rendah beranjak ke tahap yang lebih tinggi. Semua perubahan yang terjadi merupakan kondisi yang diperlukan untuk mengubah atau meningkatkan tahap perkembangan moral berikutnya. Piaget memandang bahwa bahwa kognitif merupakan hasil dari pembentukan adaptasi biologis. Perkembangan kognitif terbentuk melalui interaksi yang konstan antara individu dengan lingkungan. Tahapan-tahapan kognitif menurut Piaget memiliki kaitan yang sangat erat dengan empat karakteristik, yaitu:
  1. Setiap anak pada usia yang berbeda akan menempatkan cara-cara yang berbeda secara kualitatif, utamanya dalam cara berfikir atau memecahkan permasalahan yang sama.
  2. Perbedaan cara berfikir antara anak satu dengan yang lain seringkali dapat dilihat dari cara mereka menyusun kerangka berfikir yang saling berbeda. Dalam hal ini terdapat serangkaian langkah yang konsisten sesuai dengan tingkat perkembangan usianya.
  3. Setiap anak memiliki cara berfikir yang akan membentuk satu kesatuan yang terstruktur. Hal ini mengindikasikan bahwa setiap tahap yang dilalui seorang anak akan diatur sesuai dengan cara berfikir.
  4. Setiap urutan dari tahap kognitif pada dasarnya merupakan suatu integrasi hirarki dari apa yang telah dialami sebelumnya.
Perkembangan kognitif merupakan pertumbuhan berfikir logis dari masa bayi
hingga dewasa. Tahapan perkembangan menurut Piaget (Mohammad Surya: 2003)
terbagi atas empat tahapan, yaitu:
  1. Tahapan sensori-motor : 0 – 1,5 Tahun
  2. Tahapan pre-operasional : 1.5 – 6 Tahun
  3. Tahapan concrete operasional : 6 – 12 Tahun
  4. Tahapan formal operational : 12 tahun ke atas.
Pada tahap sensori-motor (0 – 1,5 Tahun), aktivitas kognitif berpusat pada aspek alat dria dan gerak. Pada tahap ini anak hanya mampu melakukan pengenalan lingkungan melalui alat drianya dan pergerakannya. Keadaan ini merupakan dasar bagi perkembangan kognitif selanjutnya. Aktivitas sensori-motor terbentuk melalui hasil dari interaksi dengan lingkungannya. Sebagai contoh anak belajar bicara karena terbiasa melihat orang dewasa bicara dan mengikuti ucapannya.

Pada tahan pre-operational ( 1,5 – 6 Tahun), anak telah menunjukkan aktivitas kognitif dalam menghadapi berbagai hal di luar dirinya. Anak sudah dapat memahami realitas di lingkungan dengan menggunakan tanda-tanda dan symbol. Cara berfikir anak pada tahapan ini belum sistematis, belum konsisten, dan belum logis. Cara berfikir anak pada peringkat ini ditandai dengan ciri (a) transductive reasoning, yaitu cara berfikir deduktif akan tetapi belum logis, (b) ketidakjelasan hubungan sebab akibat, yaitu anak mengenal hubungan sebab akibat tapi belum logis, (c) animism, yaitu menganggap bahwa benda itu hidup seperti dirinya, (d) artificialism, yaitu kepercayaan bahwa segala sesuatu di lingkungan itu mempunyai jiwa seperti manusia, (d) perceptually bound, yaitu anak menilai sesuatu berdasarkan apa yang ia lihat atau dengar, (e) mental experiment, yaitu anak mencoba melakukan sesuatu untuk menemukan jawaban dari persoalan yang dihadapinya, (g) centration, yaitu anak memusatkan perhatiannya kepada suatu ciri yang paling menarik dan mengabaikan ciri yang lain, (h) egocentrism, artinya anak melihat dunia lingkungannya menurut kehendaknya sendiri. Sebagai contoh pada tahap perkembangan ini anak sudah mengenal dirinya dan sifat ke-aku-annya sedang tinggi. Untuk itu dalam proses pembelajaran guru sebaiknya memperhatikan kebutuhan siswa dan membantu siswa dalam mengembangkan potensi yang dimilikinya, karena pada tahapan ini siswa sangat ingin diperhatikan.

Pada tahap concrete operational (6- 12 tahun) anak telah dapat membuat pemikiran tentang situasi atau hal konkrit secara logis. Perkembangan kognitif pada tahap ini memberikan kecakapan anak untuk berkenaan dengan konsep-konsep klasifikasi, hubungan, dan kuantitas. Konsep kualifikasi adalah kecakapan anak untuk melihat secara logis persamaan-persamaan suatu kelompok objek dan memilihnya berdasarkan ciri-ciri yang sama. Konsep hubungan adalah kematangan anak memahami hubungan antara suatu perkara dengan perkara lainnya. Konsep kuantitas yaitu kesadaran anak bahwa suatu kuantitas anak tetap sama meskipun bentuk fisiknya berubah.

Coba Anda simak contoh berikut ini:
Pak Andi sedang mengajarkan kepada siswanya tentang konsep gajah dan menjelaskan ciri-ciri gajah dengan bercerita tanpa menggunakan media pembelajaran apapun. Sedaangkan di kelas lain Bu Siti sedang menjelaskan alat-alat transportasi dengan membawa contoh gambar alat-alat transportasi dan juga bentuk tiruan dari alat transportasi. Menurut Anda pembelajaran mana yang dapat lebih memberikan pemahaman kepada siswa lebih baik tentang suatu konsep? Ya betul tentu pembelajaran yang dilakukan oleh Bu Siti lebih memberikan pengaruh yang lebih baik, karena untuk menjelaskan suatu konsep Bu Siti menggunakan media untuk memperjelas suatu konsep. Seperti yang Anda ketahui bahwa pada tahap belajar concrete operasional siswa masih perlu diberikan contoh-contoh konkret dalam menguasai suatu konsep.

Pada tahap formal operasional (12 tahun ke atas), perkembangan kognitif ditandai dengan kemampuan individu untuk berfikir secara hipotesis dan berbeda dengan fakta, memahami konsep abstrak, dan mempertimbangkan kemungkinan cakupan yang luas dari suatu perkara yang sempit. Perkembangan kognitif pada tahap ini menuju ke arah proses berfikir ke arah yang lebih tinggi. Pada tahap perkembangan ini siswa sudah dapat diajak berfikir abstrak, sehingga dalam proses pembelajaran metode pembelajaran pemecahan masalah atau diskusi dapat diterapkan. Implikasi teori perkembangan kognitif Piaget dalam proses pembelajaran, antara lain:
  1. Bahasa dan cara berfikir anak berbeda dengan orang dewasaa. Oleh karena itu, dalam mengajar guru hendaknya menggunakan bahasa yang sesuai dengan cara berfikir anak.
  2. Anak-anak akan belajar lebih baik apabila dapat menghadapi lingkungan dengan baik. Guru harus membantu anak agar dapat berinteraksi dengan lingkungan.
  3. Bahan pelajaran yang harus dipelajari anak hendaknya dirasakan sesuatu hal yang baru, tetapi tidak asing bagi mereka.
  4. Sebaiknya member peluang kepada siswa untuk belajar sesuai dengan tingkat perkembangannya.
  5. Di dalam kelas, siswa diberikan kesempatan untuk berkomunikasi antarteman melalui proses diskusi.
Refrensi Rujukan :
  1. Aunurrahman. (2009). Belajar dan Pembelajaran. Bandung: Alfabeta
  2. Briggs, Leslie J. (1977). Instructional Design, Principles and Applications, New Jersey:
  3. Educational Technology Publications Englewood Cliffs.
  4. Masitoh, Laksmi Dewi. (2009) Strategi Pembelajaran. Jakarta: Modul Dual Mode Depag
  5. Sagala, Syaiful. (2010). Konsep dan Makna Pembelajaran. Bandung: Alfabeta
  6. Surya, Mohamad.(2003). Psikologi Pembelajaran dan Pengajaran. Bandung: Yayasan Bakti Winaya
  7. Smith, Mark K, dkk. (2009). Teori Pembelajaran dan Pengajaran. Jogjakarta: Mirza Media Pustaka.
  8. Sudjana, Nana.(1985) Teori Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Fakultas Pasca Sarjana IKIP Jakarta
  9. Trianto.(2007). Model-model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivistik. Jakarta: Prestasi Pustaka.
  10. Yulaelawati, Ella. 2004. Kurikulum dan Pembelajaran Filosofi Teori dan Aplikasi. Jakarta: Pakar Raya.
Copyright © 2014-2015 REFERENSI PENDIDIKAN Powered by Blogger - All Rights Reserved