REFERENSI PENDIDIKAN

FILSAFAT PENDIDIKAN DALAM PERSPEKTIF SEJARAH

http://ewintribengkulu.blogspot.com/2013/05/filsafat-pendidikan-dalam-perspektif.html

Pemunculan kaum Sofis.

Kaum Sofis, orang-orang yang cerdas, datang ke Athena untuk mendidik orang-orang Athena dalam kewarganegaraan, mempersiapkan mereka secara penuh dan cepat untuk dapat memperoleh tempat dalam sistem kekuasaan Athena. Sebagian orang memuji kaum Sofis, sebagian penduduk mengecamnya karena arogansi intelektual dan kekacauan pendidikannya. Mereka menuduh kaum Sofis dengan nihilisme moral dan relativisme intelektual, dan tuduhan ini kuat adanya, karena kaum Sofis menolak untuk mengakui bahwa moralitas adalah sesuatu yang lebih dari sekedar yang dipikirkan banyak orang sebagai baik atau bahwa kebenaran lebih berharga ketimbang kebenaran yang dapat ditemukan dalam seni berbicara. Menurut kaum Sofis, jika makna kebajikan itu adalah misteri, maka “kebajikan itu dapat diciptakan” menjadi prinsip moral mereka. Sama halnya, jika kebenaran itu terkubur dalam untuk dapat ditemukan oleh manusia, maka skeptisisme harus dipraktekkan dengan kekuatan argumentasi yang lebih baik.

Kaum Sofis menciptakan pengajaran yang cepat, langsung, dan praktis. Tujuan mereka agar warga negara Athena dapat partisipatif, sukses sosial dan politis dalam kehidupan bernegara. Selama ini kehidupan negara/masyarakat Athena dikuasai oleh tradisi, mitos, dan dongeng-dongeng yang pada akhirnya memarginalkan sebagian penduduk Athena. Kaum Sofis mengajari para muridnya dengan apa yang paling mereka butuhkan: the art of speaking. Pendekatan pedagogi mereka bersifat inovatif dan orsinil pada waktu itu.

Inovasi-inovasi Skolastik kaum Sofis

Kaum Sofis menempatkan diri mereka sebagai guru, bukan pemikir, dan kecenderungannya kurang untuk mengubah pemikiran filosofis murid mereka. Tujuan mereka mengajarkan kesuksesan sosial dan politik. Mereka progresif dalam tataran kebijakan pendidikan, dan inovatif dalam tataran pedagogi.
Mereka adalah guru-guru profesional yang turut menentukan upah mereka: Ketika keadaan murid kompetitif, harga mereka turunkan agar tetap dapat murid dan ketika murid mereka kaya, harga mereka tinggikan agar kehidupan mereka sejahtera. Protagoras, unggulannya memungkinnya untuk berbuat demikian, menuntut upah sepuluh ribu drachmas untuk sebuah kursus kewarganegaraan, dan pada waktu itu satu drachma adalah upah harian seorang pekerja di Athena.

Kaum Sofis mengasumsikan bahwa pengetahuan dapat memperbaiki karakter. Mereka membuang konsep aristokratis bahwa kebajikan adalah sebuah anugrah natural. Mereka mengadopsi kebijakan bahwa pengajaran bertanggungjawab untuk menciptakan warga negara yang efektif dan sukses, dan lebih lagi, memperkenalkan sebuah pengaruh liberal pada teori pendidikan dengan mengutamakan asuhan (nurture) ketimbang anugrah alam (nature).

Mereka melanjutkan inovasi mereka dengan mereformasi keseluruhan struktur pendidikan klasik dengan memasukkan tujuan-tujuan literari dan intelektual. Olah raga disingkirkan dari gymnasium-gymnasium tua, dan pada akhirnya, pengajaran Sofistik diterima lebih luas, anak-anak (laki-laki) sekolah meninggalkan lapangan permainan dan masuk ke ruang kelas. Dengan merosotnya pendidikan olah raga, Sofis, di ujung abad ke lima SM, telah mendirikan apa yang sekarang kita kenal sebagai a literary secondary education, sebuah tipe baru pendidikan tinggi, pengajaran yang paling maju dalam abad ke lima Athena.

Mereka mensponsori kurikulum baru dan bidang-bidang pengetahuan baru: Bahasa dan logika ditingkatkan, dan studi-studi dalam tata bahasa dan literatur dipromosikan sebagai prasyarat esensial bagi ilmu dan seni retorik/berbicara/pidato. Literatur dan matematika bertugas membentuk pengetahuan dan disiplin.

Download Artikel Lengkap : Klik Disini
Copyright © 2014-2015 REFERENSI PENDIDIKAN Powered by Blogger - All Rights Reserved