REFERENSI PENDIDIKAN

Hubungan Persepsi terhadap Proses Belajar E-learning dengan Motivasi Belajar E-learning

http://ewintribengkulu.blogspot.com/2013/05/hubungan-persepsi-terhadap-proses.html

Dalam kegiatan belajar sangat diperlukan adanya motivasi pada diri siswa. Motivasi belajar merupakan syarat mutlak untuk belajar dan memegang peranan penting dalam memberikan semangat belajar. Motivasi belajar tidak hanya menjadi pendorong untuk mencapai hasil yang baik tetapi mengandung usaha untuk mencapai tujuan belajar, dimana terdapat pemahaman dan pengembangan dari belajar (Hadinata, 2006).

Pada penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Muzid (2005) yang menyatakan bahwa 65,15% mahasiswa menyatakan bahwa e-learning saat ini telah dibutuhkan mahasiswa untuk membantu proses belajarnya. Hal ini merupakan hasil dari persepsi mahasiswa yang cenderung positif terhadap e-learning dimana elearning bisa dimanfaatkan seoptimal mungkin dalam pembelajaan. Diduga bahwa persepsi mahasiswa terhadap e-learning ini bisa mempengaruhi motivasi belajar mereka.

Wahono (2008) yang merupakan salah seorang peneliti LIPI dan juga penerima “e-Learning Award 2008 kategori Educative Blog for Community”, menyatakan bahwa komponen e-learning itu terbagi atas infrastruktur, sistem, dan konten. Infrastruktur adalah komponen pertama yang harus dipersiapkan lebih dahulu dalam menunjang e-learning. Infrastruktur ini bisa saja berupa jaringan internet maupun intranet yang bisa mendukung e-learning ini terlaksana. Sistem adalah merupakan sebuah manajemen yang dapat mengatur berjalannya e-learning ini. Sistem tersebut bisa saja seperti manajemen kelas, pembuatan materi, forum diskusi, dan memberikan feedback kepada peserta didik. Dan komponen terakhir adalah konten. Konten yang dimaksud adalah isi yang akan dibawakan kepada peserta didik dalam e-learning. Hal ini berkaitan dengan materi perkuliahan, materi ujian, materi diskusi, serta hasil ujian.

Persepsi yang terdiri dari tahap seleksi, organisasi, dan interpretasi ini bisa digunakan untuk melihat e-learning secara keseluruhan berdasarkan komponen penyusunnya. Seleksi adalah tahap pertama dimana semua stimulus yang masuk disaring oleh mahasiswa. Tidak semua stimulus yang masuk disaring oleh mahasiswa, akan tetapi e-learning sebagai sebuah stimulus bisa masuk ke dalam kognisi manusia. Jika semua stimulus diperhatikan maka akan membuang banyak waktu dan energi, maka seleksi merupakan tahap untuk meringkasnya. Tahap organisasi adalah tahapan kedua. Mahasiswa sudah bisa memberikan prioritas terhadap stimulus apa yang telah diseleksi sebelumnya. Di sini akan ada banyak alternative pilihan proses belajar, dan salah satunya adalah e-learning. Pada tahapan ini e-learning adalah fokus mahasiswa tersebut dan menjadikannya prioritas di atas semua alternative jawaban karena ada sesuatu yang khas dan istimewa pada elearning ini.

Tahap ketiga, yaitu interpretasi bagian dimana mahasiswa memberikan makna dari stimulus yang diterimanya. Di bagian ini mahasiswa sudah bisa memberikan nilai positif berupa hal yang menyenangkan atau negatif berupa hal yang tidak menyenangkan dari e-learning yang telah diseleksi dan diorganisasikan sebelumnya. Rasa senang ini bisa menggerakkan mahasiswa berupa faktor internal pada dalam dirinya dan juga faktor eksternal dari luar dirinya. Jika dikatakan sebagai hasil dari faktor internal dari dalam diri mahasiswa, maka e-learning sudah terintegrasi dengan mahasiswa tersebut. Mahasiswa tersebut bisa saja memilih e-learning sebagai bahan utama ketika belajar karena berhasil mengoptimalkan proses e-learning tersebut, dan memilih terlibat dalam proses e-learning ini hanya karena adanya kepuasan pribadi saat terlibat dalam proses e-learning.

Penelitian yang dilakukan oleh Hidayat (2008) menjelaskan bahwa penggunaan e-learning dalam proses pembelajaran dapat meningkatkan motivasi belajar siswa sehingga dapat menumbuhkan semangat siswa dalam mengikuti pembelajaran. Diharapkan terdapat peningkatan motivasi belajar secara signifikan pada mahasiswa yang menggunakan e-learning pada proses pembelajarannya, sehingga dapat meningkatkan hasil belajar dan serta peningkatan prestasi belajar. Jika penggunaan e-learning dirasakan sudah sangat membantu dan menyenangkan maka tidak mungkin rasanya mahasiswa meninggalkan proses pembelajaran dengan menggunakan e-learning.

Pada penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Novia (2011) menunjukkan bahwa e-readiness pada mahasiswa Fakultas Psikologi USU yang tergolong dalam kategori tinggi adalah 44,44%, kategori sedang adalah 54,63%, dan kategori rendah adalah 0,93%. Hal ini menyatakan bahwa sebenarnya mayoritas mahasiswa di Fakultas Psikologi sudah merasa siap untuk melakukan pembelajaran e-learning dan menganggap bahwa e-learning itu bukan menjadi hal baru bagi mereka.

Akan tetapi, e-readiness ini tidak diimbangi oleh kesiapan infrastruktur dan sistem yang diberlakukan di kampus. Mahasiswa lainnya mengatakan bahwa salah satu kendala dari e-learning ini adalah tidak tersedianya layangan jaringan serta beberapa faktor teknis lainnya. Contohnya saja durasi pemakaian wi-fi belum bisa 24 jam, kendala pemadaman listrik bergilir yang bisa mengakibatkan terputusnya sambungan koneksi internet, coverage area hotspot yang belum bisa mengakomodir luasnya kampus, dan tidak adanya internet booth yang bisa dipakai mahasiswa secara gratis dan bebas dalam hal pembelajarannya. Kendala ini bisa membuat mahasiswa tersebut tidak berminat serta berada di dalam keadaan terpaksa untuk mengikuti perkuliahan dengan proses pembelajaran e-learning.

Menurut Dick dan Cary (dalam Sumarno, 2011), ada faktor yang harus dipertimbangkan dalam pemilihan e-learning sebagai pembelajaran, yaitu ketersediaan sumber setempat; hal yang bersangkutan dengan dana serta tenaga; keluwesan, kepraktisan dan ketahanan media tersebut; efektivitas biaya dalam jangka waktu lama. Faktor-faktor ini bisa mempengaruhi motivasi belajar mahasiswa dengan menggunakan e-learning dalam pembelajarannya.

Sebagai kesimpulan, persepsi beragam mengenai e-learning ini sendiri bisa mempengaruhi motivasi belajar mahasiswa sebagai peserta didik. Kedepannya diharapkan pelayanan yang maksimal serta diperlukan sarana dan prasarana yang memadai agar e-learning ini sendiripun bisa menyamakan harapan mahasiswa
sebagai peserta didik untuk menanggapi secara positif dengan keberadaan e-learning ini sehingga bisa menimbulkan motivasi belajar dengan proses belajar e-learning ini.

Refrensi :
  1. Hadinata, P. (2006). Kontribusi Iklim Kelas Terhadap Motivasi Belajar Siswa SMA. Proceeding PESAT (Psikologi, Ekonomi, Sastra, Arsitek & Sipil),2. [Online].http://decisionsciences.org/Proceedings /docs/325-5628.pdf
  2. Muzid, S., dkk. (2005). Persepsi mahasiswa dalam penerapan e-learning sebagai Aplikasi peningkatan kualitas pendidikan (studi kasus pada UniversitasIslam Indonesia). Jurnal. Diakses dari http://journal.uii.ac.id/index.php/Snati/article/viewFile/1301/1060 tanggal 12 Mei 2011.
  3. Hidayat. A. (2011). Pengaruh Penggunaan E-learning terhadap Motivasi dan Efektifitas Pembelajaran Fisika bagi Siswa SMA. (http://papers.gunadarma.ac.id/index.php/mmsi/article/viewFile/14879/1413 8) diakses tanggal 13 Januari 2012.
  4. Novia, T. (2011). Gambaran E-readiness pada Mahasiswa Fakultas Psikologi USU. Skripsi. USU : Tidak dipublikasikan.
  5. Sumarno, A. (2011). Kriteria Pemilihan Media Pembelajaran. Artikel. Diakses dari blog.elearning,unesa.ac.id/alim-sumarno/kriteria-pemilihan-mediapembelajaran pada tanggal 3 Maret 2012.

Copyright © 2014-2015 REFERENSI PENDIDIKAN Powered by Blogger - All Rights Reserved