REFERENSI PENDIDIKAN

PENGARUH DUKUNGAN SOSIAL TERHADAP DEPRESI PADA REMAJA AWAL KORBAN BULLYING

http://ewintribengkulu.blogspot.com/2013/05/pengaruh-dukungan-sosial-terhadap.html

Remaja (adolescence) adalah individu yang sedang berada pada masa perkembangan transisi antara masa anak-anak dan masa dewasa yang mencakup perubahan biologis, kognitif, dan sosio-emosional (Santrock, 2003). Dalam perkembangan sosial remaja dapat dilihat dua macam gerak, yaitu: memisahkan diri dari orang tua dan menuju ke arah teman-teman sebaya (Monks, 2002). Salah satu permasalahan yang sering dihadapi para remaja berhubungan dengan penolakan teman sebaya adalah munculnya perilaku bullying yang merupakan bentuk khusus agresi di kalangan teman sebaya. Kebanyakan perilaku bullying terjadi secara tersembunyi (covert) dan sering tidak dilaporkan sehingga kurang disadari oleh kebanyakan orang (Glew, Rivara, & Feudtner, 2000).

Definisi bullying menurut Olweus yaitu suatu perilaku negatif berulang yang bermaksud menyebabkan ketidaksenangan atau menyakitkan oleh orang lain oleh satu atau beberapa orang secara langsung terhadap seseorang yang tidak mampu melawannya (Olweus, 2006). Menurut Coloroso (2003), bullying adalah tindakan bermusuhan yang dilakukan secara sadar dan disengaja yang bertujuan untuk menyakiti, seperti menakuti melalui ancaman agresi dan menimbulkan teror. Termasuk juga tindakan yang direncakan maupun yang spontan, bersifat nyata atau hampir tidak kentara, di hadapan seseorang atau di belakang seseorang, mudah untuk diidentifikasi atau terselubung dibalik persahabatan, dilakukan oleh seorang anak atau kelompok anak. Sehingga seseorang dianggap menjadi korban bullying bila dihadapkan pada tindakan negatif seseorang atau lebih yang dilakukan berulang-ulang dan terjadi dari waktu ke waktu. Selain itu, bullying juga melibatkan kekuatan dan kekuasaan yang tidak seimbang, sehingga korbannya berada dalam keadaan tidak mampu mempertahankan diri secara efektif untuk melawan tindakan negatif yang diterimanya (Olweus, dalam Krahe, 2005).

Bullying menimbulkan berbagai dampak negatif dan dengan tingkat keparahan yang bervariasi. Bagi korban bullying, sekolah dapat menjadi tempat yang tidak menyenangkan dan berbahaya. Ketakutan yang mereka alami dapat menimbulkan harga diri rendah, sering absen, dan depresi (Glew, Rivara, & Feudtner, 2000). Penelitian pada korban bullying di Malaysia juga menyatakan adanya hubungan positif yang signifikan antara bullying dan depresi pada teenager (Uba dkk, 2010).

Menurut Blackman, depresi adalah suatu pengalaman yang menyakitkan, suatu perasaan tidak ada harapan lagi. Dr. Jonathan Trisna mengatakan bahwa depresi adalah suatu perasaan sendu atau sedih yang biasanya disertai dengan diperlambatnya gerak dan fungsi tubuh, mulai dari perasaan murung sedikit sampai pada keadaan tidak berdaya. Depresi adalah gangguan perasaan (afek) yang ditandai dengan afek disforik (kehilangan kegembiraan/ gairah) disertai dengan gejala-gejala lain, seperti gangguan tidur dan menurunnya selera makan (dalam Lubis, 2009).

Penelitian mengenai bullying yang dilakukan Rigby menemukan bahwa peer victimisation secara signifikan berhubungan dengan tingkat kesehatan mental yang rendah. Dari peneltian tersebut juga diketahui bahwa dukungan sosial yang dipersepsikan positif memprediksi tingkat kesejahteraan mental yang lebih tinggi bagi para korban bullying. Dari penelitian Rigby disimpulkan bahwa tingkat dukungan sosial yang tinggi dapat mengurangi efek negatif dari peer victimisation (dalam Rigby, 2005).

Dukungan sosial menurut Sarafino (2006) adalah perasaan kenyamanan, perhatian, penghargaan, atau bantuan yang diterima dari orang atau kelompok lain. Sarafino menambahkan bahwa orang-orang yang menerima dukungan sosial memiliki keyakinan bahwa mereka dicintai, bernilai, dan merupakan bagian dari kelompok yang dapat menolong mereka ketika membutuhkan bantuan. Panzarella dkk (2006) menyatakan bahwa terdapat hubungan berkebalikan antara dukungan sosial dengan depresi. Panzarella juga menambahkan bahwa dukungan sosial yang buruk mendukung meningkatnya faktor resiko depresi sekaligus menjadi konsekuensi dari depresi. Berkurangnya dukungan sosial dapat melemahkan kemampuan individu untuk mengatasi berbagai peristiwa hidup yang negatif dan membuatnya rentan terhadap depresi (Billings dkk dalam Davison, 2006).

Dari gambaran hubungan resiprokal antara dukungan sosial dengan depresi, peneliti lebih berfokus pada pengaruh dukungan sosial terhadap depresi. Hal ini berhubungan dengan fenomena bullying yang telah diteliti mempunyai dampak negatif terhadap kesehatan mental, khususnya depresi. Dukungan sosial yang dirasakan remaja dari orang-orang di sekitar diperlukan untuk mengurangi depresi yang merupakan efek negatif bullying yang dialami remaja.

Refrensi :
  1. Davison, Neale, & Kring. (2006). Psikologi Abnormal, edisi ke-9. Jakarta: PT Raja Grafindo.
  2. Panzarella, Alloy, & Whitehouse. (2006). Expanded Hopelessness Theory of Depression: on The Mechanisms by which Social Support Protects Against Depression. USA: Springer Science and Business Media, Inc.
  3. Rigby, Ken. (2005). Bullying in School and The Mental Health of Children. Australian Journal of Guidance & Counselling. Australia: University of South Australia.
  4. Lubis, Namora Lumongga. (2009). Depresi Tinjauan Psikologis. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.
  5. Uba, Yaacob, & Juhari. (2010). Bullying and It’s Relationship with Depression among Teenagers. J Psychology. Malaysia: University Putra Malaysia.
  6. Uba, Yaacob, & Juhari. (2009). The Relationship between Peer Relations and Depression among Adolescents in Selangor, Malaysia.
  7. Olweus, Dan.(1993).Bullying. Diambil dari http://www.olweus.org/public/bullying.page pada tanggal 4 Desember 2010.
  8. Santrock, John. (2003). Adolescence, Perkembangan Remaja. Jakarta: Penerbit Erlangga.
Copyright © 2014-2015 REFERENSI PENDIDIKAN Powered by Blogger - All Rights Reserved